nusarayaonline.id – Dalam lingkungan akademisi khususnya berkaitan dengan pengenalan mahasiswa baru (Maba), kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus atau yang dikenal sebagai Ospek merupakan kegiatan institusional yang menjadi tanggung jawab universitas untuk mensosialisasikan kehidupan di perguruan tinggi dan proses pembelajaran yang pelaksanaannya melibatkan unsur pimpinan, universitas, fakultas, mahasiswa, dan unsur-unsur lainnya yang terkait. Melalui ospek juga merupakan sarana untuk mencari bakat-bakat dari para calon mahasiswa, serta sarana untuk saling beradaptasi. Di sisi lain, ospek juga merupakan pintu pengetahuan bagi mahasiswa dan mahasiswi baru. Pintu tersebut akan dibentangkan dan dicermati atau dipelajari secara seksama oleh para “penghuni baru” kampus tersebut untuk memperdalam pengetahuannya.
Kesan pertama menjadi awal mula bagi para akademisi baru untuk menempatkan diri pada sikap selanjutnya. Jika dari pintunya saja sudah meninggalkan kesan buruk, maka akan berdampak pada pola pikir di hari-hari selanjutnya.
Sebuah potongan video amatir yang tersebar di media sosial merekam kegiatan ospek yang kemudian diketahui lokasinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih Papua. Video tersebut mendadak menjadi perbincangan warganet lantaran panitia dalam kegiatan tersebut mencontohkan teriakan yel-yel Papua merdeka yang kemudian diikuti oleh ratusan mahasiswa yang duduk bersila di sebuah ruang terbuka area kampus. Bahkan, dalam video tersebut para peserta nampak seperti diarahkan atau dibimbing meneriakkan kata-kata Papua Merdeka sembari mengangkat dan mengepalkan tangan ke atas. Tayangan video tersebut pun kemudian mendapat respon dari warganet. Ragam pro dan kontra terkait yel-yel Papua Merdeka yang diteriakan para mahasiswa baru tersebut menjadi ramai dalam komentar. Sebuah alarm tanda waspada, bahwa pergerakan kelompok separatis masih menjelajah hingga ruang akademisi.
Penyusupan Kelompok Separatis AMP di Ruang Akademisi Papua
Salah satu ruang akademisi dalam lingkungan wilayah Papua yang menjadi representasi bagi banyak pihak adalah Univiersitas Cenderawasih (Uncen). Sayangnya, kepopuleran dan kehebatan kampus tertua di tanah Papua ini juga telah dimanfaatkan oleh kelompok separatis pengasong mimpi semu kemerdekaan untuk melebarkan eksistensinya.
Kejadian yang berkaitan dengan Papua Merdeka tak hanya terjadi dalam kegiatan ospek yang diperkirakan terjadi tanggal 4 Agustus 2022 lalu. Pada tahun 2018, pihak kampus sempat berurusan dengan pihak kepolisian lantaran terdapat laporan adanya kegiatan pengenalan kampus menggunakan atribut organisasi, yel-yel dan lagu yang bertentangan dengan ideologi negara yaitu Papua Merdeka. Rektor Uncen, Apolo Safanpo menyatakan hal tersebut tak sesuai dengan visi dan misi kampus, sehingga merupakan pelanggaran. Pihaknya kemudian memanggil para dekan, pembantu dekan, dan ketua BEM untuk dimintai keterangan terkait aksi tersebut.
Keterbukaan kampus untuk menampung berbagai ragam ide, gagasan, hingga pemikiran justru kemudian disalahartikan oleh segelintir pihak. Adalah kelompok Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang menjadi salah satu organisasi yang konsisten berada pada pihak oposisi pemerintah. Dibentuk sejak tahun 1998, AMP yang mengklaim dirinya organisasi politik juga menyatakan diri pro terhadap kemerdekaan Papua. Dalam sebuah pernyataannya di refleksi 24 tahun AMP, menyebut bahwa tugas utama AMP adalah membangun solidaritas seluas-luasnya, belajar bersama dalam rangka perjuangan tahap selanjutnya di tanah Papua. Sebab, menurutnya melawan Imperialisme yang mengkoloni membutuhkan kekuatan yang besar. Oleh karena itu, membangun solidaritas dengan semangat anti terhadap penindasan, atas-nama kemanusiaan merupakan cerminan dari perjuangan jangka panjang AMP yang bermimpi tidak hanya sampai pada tahap kemerdekaan atau mendirikan suatu negara atau mengibarkan bendera yang tentu berbeda dengan Merah Putih.
Dalam sejumlah aksi demonstrasi penolakan Otsus dan pemekaran DOB. Selain dari Petisi Rakyat Papua (PRP) yang bertindak mengkoordinasi juga terdapat keterlibatan AMP Papua yang memobilisasi mahasiswa Uncen untuk turut serta berpartisipasi dalam aksi yang penuh dengan misi separatis dengan tuntutan yang selalu terbawa, yakni referendum. Tuntutan tersebut selalu ada, apapun kebijakan pemerintah yang dikritik.
Tak hanya itu, bahkan pada tahun 2018 lalu, sebuah asrama mahasiswa di salah satu Gedung Uncen yang bernama Rusunawa Waena Papua diketahui telah menjadi markas dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Di lokasi tersebut, Polisi menggeledah ruangan dan mengamankan bendera bintang kejora berukuran 1×50 meter, beserta tiang bendera, umbul-umbul dan beberapa atribut lainnya serta mengamankan lima orang.
Keterlibatan Mahasiswa dalam Mendukung Gerakan Separatis Papua
Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) diindikasi memiliki tendensi untuk mendukung gerakan separatis di Papua. Mantan Kapolda Papua yang saat ini menjabat Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan BNPP, Komjen Pol Paulus Waterpauw menyatakan bahwa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menggandeng BEM dan aliansi mahasiswa untuk berkolaborasi dalam gerakan separatisme Papua. BEM yang telah terdeteksi mendukung gerakan separatisme di Papua adalah Universitas Cenderawasih (UNCEN), Universitas Papua (UNIPA), Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), serta STT Walter Post Jayapura (STT WP). Menurutnya, Pergerakan separatisme dilakukan dengan soft approach dan hard approach secara konsisten dengan militansi tinggi.
Selain BEM, KNPB juga mendapatkan dukungan dari kelompok aliansi mahasiswa Papua yang tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Selanjutnya, gerakan separatisme mereka juga mendapatkan dukungan dari kelompok Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) dan media. Mereka menyebarkan gerakan kemerdekaan Papua dari berbagai platform.
Mewaspadai Masifnya Provokasi di Media Sosial
Konsekuensi sekaligus dampak dari perkembangan teknologi yang tinggi semakin meningkatkan pertalian dan intensitas seseorang dalam mengakses informasi melalui ragam platform. Viralnya pemberitaan berkaitan dengan yel-yel Papua merdeka di kegiatan ospek Uncen adalah salah satu buat keberhasilan dari pihak-pihak yang sengaja memainkan konten tersebut untuk diangkat dan disebar di dunia maya.
Director of CISSRec, Dr. Pratama Persadha meyakini bahwa kelompok separatis memiliki pendukung dibelakangnya, termasuk dalam dunia maya. Pergerakan isu yang berkembang di media sosial memiliki perbedaan karakter, yang perlu diperhatikan. Dalam topik Papua, Twitter lebih politis digunakan untuk menarik perhatian netizen simpatisan dalam negeri dan luar negeri. Facebook lebih organik, perlu mendapat perhatian karena berpotensi menggerakkan aksi dan emosional. Sementara, Instagram lebih bicara visual.
Maka, adanya kejadian teriakan yel-yel Papua Merdeka dalam lingkungan akademisi menjadi perhatian bersama. Publik diharapkan mamu bersikap kritis agar tidak mudah terprovokasi. Sementara itu, kepada aparat keamanan agar segera merespon dan bertindak tegas sekaligus konkrit untuk mengusut pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam kejadian tersebut. Jangan sampai generasi muda bangsa Indonesia, terutama di tanah Papua tercemar oleh doktrin dan pengaruh kelompok separatis.
Sekali lagi, Papua adalah bagian dari Indonesia!
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)

