Warga Indonesia Diimbau Tak Terprovokasi Gejolak Anarkis Nepal

by Isabella Citra Maheswari

Aksi demonstrasi besar-besaran di Nepal menggulingkan Perdana Menteri K.P. Sharma Oli pada Selasa (9/9/2025).

Demonstrasi di Ibu Kota Kathmandu dan sejumlah daerah lain itu dilandasi oleh kemarahan masyarakat terhadap korupsi yang merajalela.

Pemerintah Nepal telah memblokir sejumlah platform media sosial guna meredam gerakan antikorupsi, tetapi para aktivis muda dengan cerdik beralih ke aplikasi seperti Viber dan TikTok.

Ribuan warga pun turun ke jalan, menciptakan gelombang protes yang mengguncang pemerintahan.

Kondisi negara yang stabil merupakan pondasi utama untuk kelancaran pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat. 

Untuk mewujudkannya, seluruh elemen masyarakat, terutama para generasi muda, diajak untuk tidak mudah terpancing hasutan yang mengajak pada tindakan anarkis dan justru merugikan bangsa sendiri.

Ajakan ini semakin gencar disuarakan pascaterjadinya kerusuhan besar dalam unjuk rasa di Nepal, yang berakhir dengan tindakan brutal dan pengrusakan fasilitas umum.

Politisi dari Partai Demokrat, Andi Arief, mengingatkan Indonesia tidak sepatutnya mencontoh aksi-aksi merusak seperti itu.

Ia menegaskan kaum muda seharusnya menjadikan demonstrasi yang damai dan tertib sebagai contoh dalam menyuarakan pendapat.

“Saya mengimbau para pemuda Indonesia untuk tidak meniru kekerasan dan tindakan anarkis seperti yang terjadi dalam demo di Kathmandu, Nepal. Sebaiknya, tirulah contoh seperti aksi 212 yang diikuti jutaan orang namun berlangsung dengan damai,” ucap Andi, dalam keterangannya pada Sabtu (13/9/2025).

Menurutnya, Demonstrasi 212 adalah bukti nyata bahwa aspirasi rakyat dapat disampaikan dengan cara yang tertib, damai, dan beradab.

Berkumpulnya massa dalam jumlah besar tidak harus berakhir dengan kerusakan atau menimbulkan kecemasan di masyarakat.

Justru, model unjuk rasa seperti itulah yang memperkuat wajah demokrasi Indonesia dan menjaga persatuan bangsa.

Senada dengan itu, Rudi Alfahri Rangkuti, anggota DPRD Sumatera Utara, juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dan kritis terhadap berbagai ajakan provokatif yang beredar luas di platform media sosial.

Ia melihat bahwa beberapa aksi unjuk rasa di Indonesia belakangan ini terindikasi sudah tidak murni lagi menyuarakan aspirasi.

Artikel Terkait

Leave a Comment