Di media sosial beredar sebuah video yang diklaim memperlihatkan warna tanah dan air di kawasan Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, berubah menjadi merah akibat aktivitas pertambangan. Video tersebut ramai dibagikan di platform TikTok dengan narasi yang menuding adanya keterlibatan “oligarki asing dan pejabat rakus” dalam kerusakan alam Raja Ampat.
Namun, hasil penelusuran Tim Cek Fakta Kompas.com menyatakan bahwa klaim dalam video tersebut tidak benar.
Faktanya: Video Diambil di Pulau Hormuz, Iran
Berdasarkan pemeriksaan, lokasi dalam video tersebut bukan berada di Raja Ampat, melainkan di Pulau Hormuz, Iran, yang dikenal dengan sebutan Pantai Merah (Red Beach). Video yang sama juga sempat diunggah di Facebook pada 12 Februari 2025, dan disebut memperlihatkan fenomena hujan deras di Pulau Hormuz pada 10 Februari 2025.
Tanah di Pulau Hormuz mengandung oksida besi dalam kadar tinggi, yang membuat permukaan tanah dan air di sekitarnya tampak merah menyala. Fenomena tersebut merupakan hasil dari proses geologi jangka panjang, bukan akibat aktivitas pertambangan.
Dalam pemberitaan Kompas.com (14 Februari 2025) dijelaskan, warna merah tersebut muncul dari material oker merah, yakni bahan alami hasil oksidasi mineral besi yang bercampur dengan tanah liat dan pasir. Ketika terkena air atau hujan, pigmen merah itu menyebabkan air tampak berwarna kemerahan.
Meski video tersebut terbukti bukan berasal dari Indonesia, kerusakan lingkungan di Raja Ampat akibat penambangan nikel memang benar terjadi.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hanif Faisol Nurofiq dalam pernyataannya pada 9 Juni 2025 menyebutkan bahwa Pulau Gag di Raja Ampat menjadi salah satu lokasi terdampak aktivitas tambang.
“Dari laporan itu memang terjadi potensi pencemaran, kerusakan lingkungan hidup, dan lanskap yang mengganggu biodiversitas di Raja Ampat,” ujar Hanif.
Warga Pulau Gag juga mengaku mengalami dampak langsung. Dalam liputan Ekspedisi Tanah Papua (Kompas.id, Juni 2021), seorang warga bernama Senen mengatakan bahwa laut di sekitar tempat tinggalnya kini dipenuhi lumpur akibat erosi dari kawasan tambang.
“Tidak ada lagi yang indah. Sudah rusak. Tebal lumpur sudah sampai di sini,” ujarnya sambil menunjuk pinggangnya.
Kesimpulan
- Video yang diklaim memperlihatkan tanah dan air di Raja Ampat berubah merah bukan berasal dari Indonesia, melainkan dari Pulau Hormuz, Iran.
- Fenomena warna merah di Pulau Hormuz bersifat alami, disebabkan oleh kandungan oksida besi.
- Kerusakan lingkungan di Raja Ampat memang nyata, namun tidak berkaitan dengan video tersebut.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya dan selalu merujuk pada sumber tepercaya dalam menanggapi isu lingkungan.

