nusarayaonline.id – Salah alamat! Mungkin dua kata tersebut menjadi hal paling tepat diberikan kepada massa dari Front Mahasiswa dan Rakyat Peduli Papua yang baru saja menggelar aksi mimbar bebas di asrama Mimika, Perumnas I Waena, Kota Jayapura Selasa, 4 April 2023 kemarin. Dalam tuntutannya, massa meminta agar tidak boleh terjadi lagi kekerasan terhadap warga sipil di wilayah Papua. Salah satu perwakilan massa, Yuniel Pahabol dalam orasinya menyatakan bahwa Papua saat ini masuk zona darurat kemanusiaan, zona darurat dalam pelanggaran HAM, bahkan kekerasan yang terjadi di tanah Papua. Melalui aksi tersebut juga terdapat sejumlah poin pernyataan sikap, diantaranya adalah meminta hentikan pengedropan militer besar-besaran di tanah Papua, hentikan kekerasan militer di daerah konflik, hentikan pembungkaman ruang demokrasi di Papua, segera berunding dengan TPNPB OPM tanpa mengorbankan rakyat sipil, mendesak pemerintah agar membuka akses terhadap Komisi HAM PBB untuk menyelidiki seluruh kasus yang sudah dilaporkan , serta mendesak pemerintah pusat agar mencari solusi damai melalui perundingan untuk menghentikan kekerasan di Papua.
Sebagai aksi yang muncul dari kelompok yang menamakan dirinya mahasiswa, terdapat sejumlah hal janggal dalam aksi mimbar tersebut. Negara disebut seperti pihak tunggal yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil. Sementara, pihak yang nyata-nyata melakukan sederet kekerasan, bahkan hingga tulisan ini dibuat yakni kelompok Separatis dan Teroris atau menamakan diri sebagai TPNPB OPM hanya disinggung sedikit sebagai objek yang harus ditempuh oleh negara untuk berdialog dalam rangka menghentikan kekerasan. Sebagai aksi yang diinisiasi oleh mahasiswa, seharusnya paham bahwa tindakan kekerasan yang terjadi melibatkan aparat keamanan di Papua karena sebab dan akibat. Mereka seakan lupa, bahwa pihak yang kerap bertindak brutal justru datang dari para anggota kelompok separatis secara bergerilya dan acak untuk menunjukkan eksistensi hingga memakan korban baik dari warga sipil maupun aparat.
Jika memang mereka mengaku sebagai mahasiswa dengan sikap kritis, maka tak seharusnya memilih untuk berpihak kepada kelompok separatis dengan turut mendukung upaya pelepasan Papua dari wilayah Indonesia. Maka sudah sepantasnya kita patut curiga, apa makna dan siapa pihak dibalik adanya aksi mimbar bebas yang mengaku sedang berjuang untuk rakyat sipil. Apakah rakyat sipil yang dimaksud adalah anggota TPNPB OPM yang kemudian diakui sebagai rakyat sipil biasa? Sebuah strategi lawas yang masih digunakan oleh para oposisi dan simpatisannya dalam kasus di tanah Papua.
Aksi Kekerasan di Papua Didominasi oleh Kelompok Separatis dan Teroris
Jika dilihat dari data kejadian dalam kurun beberapa waktu terakhir. Korban kekerasan yang merupakan warga sipil mayoritas berasal dari kejadian tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis melalui sejumlah upaya gangguan keamanan di beberapa wilayah rawan secara acak. Sisanya bisa jadi korban yang diakui warga sipil tersebut merupakan para anggota TPNPB OPM yang kemudian diakukan sebagai warga sipil biasa. Sebagian besar tindakan kejahatan yang dilakukan kelompok separatis Papua selalu berkaitan dengan sebab akibat yang terjadi sebelumnya. Setiap adanya bagian dari kelompok tersebut yang menjadi korban terluka atau tertembak, berbuntut dengan kejadian penyerangan yang dilakukan di kemudian hari. Mirisnya, sebagian menyasar pada perusakan pada sejumlah bangunan atau serangan terhadap warga sipil.
Di sisi lain, adanya penindakan tegas dari aparat gabungan telah berdampak pada semakin melemahnya kekuatan dari para anggota kelompok separatis. Terlebih, secara perlahan namun pasti, aparat telah melumpuhkan sosok para pemimpin mereka yang selama ini menjadi panutan. Hal tersebut menjadikan mereka bergerak tanpa koordinasi. Kemudian dilihat dari tabiat anggota kelompok tersebut, lebih kental dengan sifat emosional. Sifat inilah yang sebenarnya menjadi pemicu dari beruntunnya sejumlah aksi penyerangan yang menimbulkan korban dari warga sipil. Entah hal ini diketahui atau sengaja tidak digubris oleh para mahasiswa yang melakukan mimbar bebas tersebut. Sepertinya, bebas disini adalah bebas tidak berpikir, tidak berempati, dan mungkin hanya bersimpati pada pihak yang dibelakangnya.
Menjadi ingatan sekaligus refleksi bersama, bahwa selama kurun waktu sebulan terakhir, Kelompok separatis dan teroris di wilayah Papua telah melakukan sejumlah aksi penyerangan yang berdampak pada warga sipil sebagai korban. Terhitung selama bulan Maret 2023, tercatat terdapat empat kasus teror dan gangguan keamanan yang dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris Papua di wilayah Dekai Kabupaten Yahukimo. Pada 1 Maret 2023 lalu, terjadi kontak tembak antara anggota Kodim 1715 Yahukimo dengan kelompok separatis, berakhir dengan timbulnya satu korban jiwa dan tiga lainnya terkena luka tembak. Kelompok separtis juga melakukan aksi penembakan terhadap pesawat Trigana Air yang hendak lepas landas pada Sabtu, 11 Maret 2023. Sedangkan dua kasus gangguan keamanan lainnya adalah aksi pembakaran gedung sekolah, SD YPK Metanoia dan SMP Negeri 2 Dekai. Kedua gedung sekolah tersebut, dibakar dengan waktu yang tak bersamaan, SD YPK Metanoia dibakar pada Minggu, 12 Maret 2023 dan SMP Negeri 2 Dekai dibakar pada Kamis, 16 Maret 2023.
Sementara itu, di wilayah lain juga terdapat aksi dari kelompok separatis yang bertindak brutal terhadap masyarakat. Lagi-lagi, tukang ojek kembali menjadi sasaran penembakan oleh pelaku yang menyamar sebagai pengguna jasa. Kejadian tersebut terjadi pada Rabu 22 Maret 2023 di pertigaan Jalan Kimak Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak. Korban bernawa Irwan yang merupakan perantau asal Sulawesi Selatan dinyatakan meninggal. Pasca kejadian tersebut, aparat gabungan langsung melakukan pengejaran dan kontak tembak. 3 anggota kelompok separatis berhasil dilumpuhkan, namun hanya 1 yang berhasil diamankan bernama Enius Tabuni, sementara 2 jenazah lainnya dibawa oleh rekannya ke hutan. Tak berselang lama, 2 anggota TNI-Polri gugur setelah diserang oleh kelompok separatis saat melakukan pengamanan ibadah sholat tarawih di Masjid Al Amalia Ilu, Distrik Ilu, Kabupaten Puncak Jaya. Kejadian terbaru, Kelompok Separatis Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya menembak personil TNI bernama Praru Hamdan saat berjaga di Pos Yal Nduga. Penembakan dilakukan dari arah Bukit Pos Yigi berjarak sekitar 300-400 meter dan mengenai bagian batang hidung hingga akhirnya menyebabkan meninggal.
Penambahan Personel Aparat untuk Memberikan Perlindungan Masyarakat Papua
Dilihat dari adanya salah satu poin tuntutan penolakan penambahan aparat keamanan untuk datang ke Papua dengan dalih rasa tidak aman adalah sebuah alibi. Kita semua tahu bahwa pihak yang merasa terganggu adanya aparat keamanan adalah para anggota kelompok separatis Papua. Perlu diketahui bahwa adanya penambahan personel aparat TNI-Polri di wilayah Papua adalah hal wajar karena untuk memberi perlindungan dari gangguan kelompok separatis yang belakangan ini semakin intens. Aparat diterjunkan agar masyarakat Papua nyaman dalam beraktivitas. Bukannya terganggu, masyarakat justru senang dengan kehadiran aparat karena mereka adalah sahabat rakyat yang selalu aktif membantu meringankan berbagai kesulitan. Ketika terdapat operasi penangkapan anggota kelompok separatis, maka masyarakat mendukung penuh langkah tersebut demi keamanan, kedamaian, serta kemajuan Papua.
Sementara itu, berdasarkan pernyataan Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono bahwa upaya pencarian dan pembebasan pilot Susi air Kapten Philip Mark Mehrtens yang disandera kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya masih terus dilakukan. Aparat keamanan mengutamakan langkah persuasif dan masih menunggu negosiasi yang dilakukan pemerintah daerah melalui Bupati Nduga serta para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat dengan pihak Egianus Kogoya. Ditegaskan juga bahwa TNI-Polri hingga saat ini belum melakukan penyerangan langsung terhadap penyandera Kapten Philip karena tak ingin masyarakat menjadi korban.
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)

