nusarayaonline.id – Sejumlah fakta perlahan terkuak berkaitan dengan peristiwa penyerangan oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) kepada Tim Operasi SAR Pilot Susi Air yang terjadi di wilayah Mugi-Mam, Kabupaten Nduga pada Sabtu 15 April 2023 lalu. Dijelaskan oleh Panglima TNI, Yudo Margono, dirinya menyebut bahwa KST Papua memanfaatkan masyarakat terutama ibu-ibu dan anak-anak untuk mengepung prajurit TNI. Saat itu, 36 prajurit TNI sedang beroperasi mencari keberadaan Pilot Susi Air namun diperjalanan kemudian dihadang dan terjadi kontak senjata. Saat kejadian tersebut mereka memanfaatkan masyarakat dan anak-anak untuk mengepung kemudian dari tiga sisi lain melakukan tembakan. Kondisi tersebut yang kemudian mengakibatkan satu prajurit tewas atas nama Pratu Miftahul Arifin karena tertembak dan jatuh ke jurang sedalam 15 meter.
Saat prajurit TNI lainnya akan melakukan evakuasi, KST Papua kembali memanfaatkan ibu-ibu dan anak-anak untuk mengepung para prajurit tersebut sehingga kemudian sulit untuk membedakan antara KST dan masyarakat Papua. Dalam situasi tersebut prajurit TNI menjadi kebingungan karena tidak ingin salah sasaran, maka kemudian sikap bertahanlah yang dilakukan. Panglima kemudian mengkonfirmasi bahwa dari 36 prajurit yang diserang. 1 orang gugur, 5 terluka, 4 hilang, dan 26 lainnya dalam kondisi sehat atau tanpa luka.
KST Papua sengaja menggunakan ibu-ibu dan anak-anak, sebab mereka tahu bahwa TNI tidak akan melayangkan tembakan karena dapat membahayakan masyarakat. KST Papua sengaja menggunakan celah yang sebelumnya selalu diantisipasi oleh TNI agar jangan sampai melibatkan masyarakat apalagi sampai terdapat korban. Namun imbauan tersebut kemudian digunakan oleh KST Papua sebagai peluang untuk menyerang aparat TNI. Sebuah kelicikan yang tak hanya sekali ini terjadi. Memanfaatkan masyarakat untuk menghambat tugas penyelamatan Pilot Susi Air.
Isu Hoaks TPNPB OPM Sebut 15 TNI Dieksekusi, 12 Jenazah Belum Dievakuasi
Sebelumnya, juga berkembang isu adanya klaim dari TPNPB OPM melalui siaran pers juru bicaranya yakni Sebby Sambom bahwa 12 anggota TNI yang tertangkap telah dieksekusi. Hanya satu mayat yang telah diambil aparat militer Indonesia, sedangkan 2 lainnya belum dipastikan. Dirinya juga menyampaikan bahwa TPNPB telah mengajukan negosiasi damai kepada pemerintah Indonesia namun tidak diindahkan dan dijawab dengan operasi militer yang massif di Nduga. Isu tersebut salah satunya diunggah oleh suarapapua.com menjadi konten pemberitaan. Berdasarkan preferensi dan track record, portal media tersebut diindikasi memiliki sikap tendensius kepada Kelompok Separatis Papua. Tak seperti namanya, yang harusnya menyuarakan masyarakat Papua tanpa pandang kelompok, media ini justru berpihak pada kelompok separatis.
Merespon isu tersebut, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono secara tegas membantah isu tentang banyaknya prajurit TNI yang gugur saat diserang kelompok separatis di Nduga. Pernyataan yang muncul dari perwakilan KST Papua serta disebar di media sosial dan media online adalah hoaks. Hal seperti itu sudah sering mereka lakukan demi eksistensi kelompok. Adanya pengakuan bahwa terdapat masyarakat Papua yang dibunuh oleh aparat juga tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sejauh ini, menurutnya terdapat 3 prajurit TNI yang gugur diserang KST Papua selama operasi pencarian pilot Susi Air di Nduga. Prajurit tersebut diserang oleh KST Papua di lokasi yang berbeda-beda.
Operasi TNI di Papua Naik jadi Siaga Tempur Darat
Menjadi dasar atas kondisi yang semakin mengkhawatirkan sekaligus bentuk antisipasi berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh Kelompok Separatis Papua. Panglima TNI lantas menyatakan bahwa status operasi di Nduga ditingkatkan menjadi siaga tempur. Operasi penegakan hukum dan pendekatan soft approach yang sebelumya dilakukan diubah menjadi operasi siaga tempur untuk daerah tertentu. Peningkatan status siaga tempur tersebut diharapkan dapat meningkatkan naluri tempur para prajurit yang terlibat dalam operasi pencarian Pilot Susi Air. Panglima kemudian menegaskan bahwa operasi humanis tidak dilakukan untuk kelompok separatis. Namun kepada masyarakat umum di Papua untuk bersama-sama menjaga keamanan. Dirinya memastikan bahwa operasi teritorial dan penegakan hukum juga tetap dilakukan TNI-Polri dalam menjaga keamanan Papua.
Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Ngasiman Djoyonegoro sepakat dengan kebijakan TNI menerapkan siaga tempur pada beberada daerah di Papua yang rawan aksi teror kelompok separatis. Adanya penyerangan tersebut jelas telah direncanakan, dalam konteks pertahanan dapat diartikan sebagai ultimatum perang. Kemudian dalam konteks terorisme, tindakan penyerangan oleh kelompok separatis telah menimbulkan rasa tidak aman dan ancaman. Juru bicara Wakil Presiden, Masduki Baidlowi dalam keterangan resminya menyatakan bahwa kini saatnya TNI dan Polri bersikap tegas dalam melakukan penyisiran dan pengejaran terhadap kelompok separatis secara tepat dan tidak mengganggu rakyat sipil Papua. Sementara itu, Ketua MPR Bambang Soesatyo memberikan dukungan terhadap peningkatan status operasi miiter dan meminta jajaran TNI bersikap tegas serta tidak ragu-ragu mengambil tindakan kepada kelompok Separatis Papua.
Masyarakat juga diminta agar senantiasa bersikap kritis terhadap membanjirnya informasi terutama berkaitan dengan aksi TPNPB OPM yang kerap memiliki agenda propagandis serta isu-isu hoaks demi eksistensi kelompoknya. Sekali lagi bahwa isu yang beredar berkaitan dengan banyaknya korban dalam penyerangan di pos militer Mugi Nduga adalah hoaks.
__
Agus Kosek
(Pemerhati Masalah Papua)

