Jayapura – Pihak TNI menyangkal tengah melakukan operasi militer guna membebaskan pilot Selandia Baru Philip Mark Mehrtens yang sedang disandera kelompok separatis. TNI juga menolak desakan kelompok separatis soal operasi pembebasan.
Komandan Korem 172/PWY sekaligus Dankolakops TNI yang memimpin operasi pencarian pilot Susi Air, Brigjen TNI Jo Sembiring menyatakan Tim Gabungan sampai saat ini masih terus melakukan pencarian keberadaan Pilot Susi Air Kapten Philip Mark Mehrtens. Ia menjamin tim gabungan mengupayakan keselamatan Philip.
Proses pencarian ini melalui komunikasi dengan pemda dan para tokoh di Papua, serta melalui penegakan hukum. “Semua kegiatan ini memerlukan waktu yang tidak singkat karena kita memprioritaskan keselamatan Pilot sebagai yang utama. Mari kita doakan proses pencarian dan penyelamatan Pilot ini dapat berjalan dengan sukses,” kata Brigjen TNI Jo Sembiring dalam keterangannya pada Senin (10/4).
Jo merespons berkembang narasi yang dibuat Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Sebby Sambom bahwa TNI sedang melakukan operasi militer dalam pencarian pilot Susi Air. Ia membantah isu tersebut. “Pada kesempatan ini, perlu saya tegaskan bahwa hal tersebut tidak benar,” ujar Jo.
Jo menyebut selama ini pihaknya melakukan soft approach dan hard approach melalui negosiasi dan penegakan hukum yang dilakukan oleh Tim Gabungan. “Sejatinya dan kenyataannya tidak ada operasi Militer, yang ada adalah operasi pencarian pencarian dan penyelamatan pilot Susi Air mendukung penegakan hukum,” ujar Jo.
Jo juga mengklaim perkembangan keamanan Papua relatif kondusif. Namun ia mengakui di beberapa wilayah masih ada gangguan keamanan dari gerombolan KST. “Sehingga diperlukan kehadiran aparat keamanan untuk menjaga keselamatan masyarakat,” ujar Jo.
Selain itu, Jo mengajak masyarakat tidak takut untuk melaporkan keberadaan kelompok separatis. Ia mendorong masyarakat melaporkan secara langsung kepada aparat keamanan di wilayah masing-masing.
“Masyarakat yang telah berani melaporkan terkait keberadaan para pelaku teror sehingga dapat dikembangkan oleh tim gabungan dengan mendapatkan hasil amunisi, senjata, peralatan komunikasi dan dokumen-dokumen,” sebut Jo.
Sebelumnya, Tim gabungan TNI dan Polri mengamankan senjata api dan 415 amunisi berbagai kaliber dari markas KKB yang berada di Sagu Lima Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.
Kasatgas Gakkum Ops Damai Cartenz 2023 Kombes Pol IGG Era Adhinata dalam keterangannya di Timika, Senin mengakui, terungkap nya lokasi penyimpanan senjata api, amunisi dan berbagai peralatan telekomunikasi itu berdasarkan penyelidikan dan keterangan dari Yomce Lokbere anggota kelompok separatis yang ditangkap Rabu (5/4).
Yomce Lokbere yang ditangkap di Batas Batu, Kabupaten Nduga adalah anggota KKB yang bertugas mencari logistik, termasuk senjata api dan amunisi. Setelah dikonfirmasi, pada Sabtu (8/4), personel TNI dan Polri mengamankan berbagai barang bukti yang ada di markas KKB camp Sagu Lima di Kenyam.
Adapun barang bukti yang diamankan yaitu senjata panjang AR 15, senapan angin, GLM dan senjata api jenis FN masing-masing satu pucuk, 415 butir amunisi berbagai kaliber di antaranya kaliber 5,56 sebanyak 360 butir, lima HT Ocom, laptop, teropong, kamera merk Canon, teleskop dan radio SSB.
“Saat ini berbagai barang bukti diamankan di Mapolres Mimika di Timika,” ujar Era yang juga menjabat kabid TIK Polda Papua. Ditanya terkait penangkapan Yomce Lokbere yang merupakan anak buah Egianus Kogoya, Kombes Era mengaku, anggota masih terus memeriksa yang bersangkutan.
Dari data yang dimiliki terungkap, Yomce Lokbere terlibat dalam sejumlah aksi bersenjata di Kabupaten Nduga sejak 2021.
Adapun kekerasan yang melibatkan Yomce Lokbere yaitu pada 2021 terdiri dari pembakaran camp Dolarossa dan kontak tembak dengan Satgas Yonif Raider 700 di daerah Mapenduma.
Pada 2022 yaitu tanggal 7 Juni diduga terlibat penembakan pesawat SAM AIR PK-SMG di lapangan terbang Kenyam. Kemudian pada 2023 terlibat dalam pengancaman terhadap 15 orang pekerja pembangunan puskesmas di Paro pada 5 Februari, dan pembakaran pesawat serta penyanderaan pilot Susi Air di Distrik Paro pada 7 Februari.
Kapten Philip dalam penyanderaan kelompok separatis sejak 7 Februari 2023. Penyanderaan tersebut dilakukan setelah separatisme bersenjata yang dipimpin oleh Egianus Kogoya melakukan penyerangan di Lapangan Udara, Paro, di Paro, Nduga, Papua Pegunungan. Dalam penyerangan tersebut, sayap bersenjata kelompok prokemerdekaan Papua itu, membakar pesawat terbang milik maskapai swasta Susi Air. Dua bulan penyanderaan tersebut, pihak pemerintah Indonesia, pun melakukan serangkaian operasi untuk misi pembebasan tersebut.
Operasi pembebasan yang dilakukan pemerintah Indonesia termasuk dengan keputusan TNI dan Polri melakukan pengerahan pasukan militer dan korps tempur dari satuan khusus TNI-Polri untuk mengejar Egianus Kogoya dan kawanannya di wilayah-wilayah yang dikuasai oleh KKB di kawasan Nduga.
Operasi pembebasan juga dengan melakukan pengetatan serta pengepungan kelompok penyandera oleh pasukan gabungan Satgas Damai Cartenz. Operasi pembebasan yang dilakukan pemerintah Indonesia juga turut menjajaki pendekatan persuasif dengan mengandalkan komunikasi tokoh adat, dan agamawan di Papua agar Egianus Kogoya melepaskan Kapten Philip.
Operasi pembebasan yang dilakukan pemerintah Indonesia, juga dengan meminta Polda Papua melakukan penegakan hukum atas peristiwa penyerangan dan pembakaran, serta penyanderaan Kapten Philip tersebut.
TPNPB-OPM sebelumnya menawarkan jalur negosiasi dan diplomatik damai dalam membebaskan pilot berkebangsaan Selandia Baru itu. Tawaran tersebut disampaikan TPNPB-OPM agar TNI dan Polri menghentikan operasi militer bersenjata di Nduga.
“Kami sampaikan kepada pemerintah Indonesia, dengan pimpinan TNI dan Polri, untuk segera hentikan operasi militer di Ndugama. Dan kami akan fokus untuk membebaskan sandera (Kapten Philips) melalui proses negosiasi, dan diplomatik damai,” begitu kata Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom dalam siaran video yang diterima Republika, Sabtu (8/4/2023). Sebby tak memberikan informasi tentang kapan pelaksanaan negosiasi untuk membebaskan Kapten Philips tersebut akan dilakukan.
Akan tetapi, Sebby mengatakan, TPNPB-OPM sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam penyanderaan Kapten Philips tersebut, siap untuk menerima perwakilan Indonesia dalam negosiasi dan misi diplomatik damai perilisan Kapten Philip. “Kami siap melaksanakan itu,” ujar Sebby menambahkan.
Akan tetapi, kata Sebby, pembebasan Kapten Philip ke pihak Indonesia, tak bisa langsung melakukan negosiasi dengan pasukan penyandera. Sebby mengatakan, agar pemimpin TNI maupun Polri dapat melakukan negosiasi damai dengan pihak tertinggi di TPNPB-OPM.
Meski menyampaikan tawaran itu, TPNPB kembali melakukan penyerangan. Pihak TNI mengabarkan satu prajuritnya yang gugur usai kontak tembak dengan kelompok separatisme bersenjata di Papua.
Kapendam XVII Cenderawasih Kolonel Herman Taryaman menyampaikan, satu anggota militer yang meninggal dunia tersebut atas nama Sertu Robertus Simbolon anggota Satgas YPR 305/Tengkorak. Kolonel Herman menerangkan, Sertu Robertus gugur setelah mendapat tembakan dari kelompok separatisme.
Tembakan tersebut terjadi setelah personel Satgas YPR 305/Tengkorak mendapatkan penyerangan dari gerombolan bersenjata di Kampung Titigi, di Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua Tengah, pada Ahad (9/4) waktu setempat. “ Bahwa benar kejadian kontak senjata dengan KST (Kelompok Separatisme Terorisme) tersebut, mengakibatkan Sertu Robertus Simbolon tertembak dan meninggal dunia,” ujar Kolonel Herman kepada Republika di Jakarta, Senin (10/4).

