Jumpa Pers Penolakan Kunjungan Anies Baswedan oleh Tokoh Pemuda Adat Tabi-Saireri

Tak Ingin Berakhir Intoleran Seperti Jakarta, Sejumlah Tokoh Masyarakat Tolak Kedatangan Anies di Papua

by Laura Felicia Azzahra
Jumpa Pers Penolakan Kunjungan Anies Baswedan oleh Tokoh Pemuda Adat Tabi-Saireri

nusarayaonline.id – Mungkin pernyataan seorang tokoh politik yang pernah menilai bahwa konsistensi seorang Anies Baswedan ialah sifat inkonsistensinya sendiri, benar adanya. Hal tersebut bisa dilihat dari sikap politiknya di masa sekarang yang nantinya akan berubah sewaktu-waktu sesuai keinginan dan keperluan. Adanya mandat dari partai pengusung Anies Baswedan untuk menjadi bakal calon Presiden, yakni Partai NasDem dengan melakukan safari politik di beberapa kota wilayah di Indonesia menjadi polemik tersendiri bahkan mengarah pada kasus. Sejumlah pihak menyatakan bahwa Anies telah mencuri start kampanye, bahkan melaporkan Anies ke Bawaslu dan KPU terkait adanya kegiatan tersebut.

Bagi masyarakat yang jeli, termasuk penilaian sejumlah pengamat bahwa adanya safari politik yang harus digelar sebelum waktu kampanye pemilu dilaksanakan adalah upaya sang mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut melalui kendaraan partai NasDem untuk memulihkan citranya setelah sebelumnya tersemat sebagai pemimpin intoleran. Pasalnya citra pelaksanaan Pilkada DKI yang sarat dengan politik identitas masih terus melekat di diri Anies hingga Pemilu 2024 mendatang. Sikap ngotot dari NasDem sebagai partai nasionalis untuk memboyong Anies dalam kemasan safari politik selain upaya meraih elektabilitas juga tentunya upaya menjaga citra sebagai partai nasionalis agar jangan sampai kebablasan dicap sebagai partai politik identitas.

Kunjungan Kontraproduktif Anies di Papua Manfaatkan Momentum Natal untuk Perbaiki Citra

Menjadi hal dasar yang tentunya telah diketahui oleh Partai NasDem ketika mengusung Anies Baswedan ialah permasalahan politik identitas yang masih melekat. Maka upaya memulihkan citra melalui safari politik diharapkan akan memperbarui image publik terhadap Anies, termasuk melakukan kunjungan di Papua. Di sisi lain pemilihan wilayah Papua untuk dikunjungi dengan memanfaatkan momentum perayaan Natal justru sebenarnya berdampak kontraproduktif bagi seorang Anies.

Sejenak melihat track record Anies saat berkunjung ke Papua ialah pada momentum perhelatan PON XX 2021 lalu. Sambutan masyarakat Papua terhadap Anies bisa dibilang biasa saja tidak terkesan wah atau spesial seperti ketika berada di hadapan para pendukungnya. Terlebih adanya rencana untuk menghadiri perayaan natal dipastikan akan direspon sebagai wujud pencitraan. Citra Anies yang dekat dengan kelompok Islam radikal akan membuyarkan kesan toleran dalam momentuk perayaan Natal tersebut. Pasalnya, kelompok pendukung di belakang Anies termasuk vokal dalam menyerukan larangan pengucapan natal atau hal-hal yang berbau perayaan umat Kristiani.

Sekali lagi, makna yang harus kita tangkap dari adanya kunjungan safari politik tersebut, khususnya di Papua adalah bahwa pihak NasDem dan Anies ingin sekali mengukuhkan kepentingan politiknya. Dalam hal ini adanya momentum perayaan Natal dimanfaatkan untuk mempertebal citra toleransi, padahal hal tersebut belum tentu berhasil atau bahkan justru semakin memperparah keadaan. Politisasi agama nampaknya masih dianggap sebagai ‘strategi’ untuk memainkan emosi masyarakat Indonesia. Agama yang seharusnya menjadi jembatan relasi pribadi manusia dengan Tuhan telah diselewengkan menjadi alat penjangkau keduniawian demi tampuk kekuasaan. Inilah yang biasanya dilakukan politisi tak memiliki program konkrit, sehingga harus repot-repot menerabas jalur politisasi agama untuk mendulang suara. Bisa dibilang, Anies melalui kendaraan barunya yakni NasDem sedang berupaya untuk kembali berselancar diatas politik agama.

Masyarakat Papua Menolak Kunjungan Anies Baswedan

Tak hanya terjadi di beberapa kota sebelumnya, penolakan terhadap kunjungan berlabel safari politik Anies Baswedan juga terjadi di wilayah Papua oleh sejumlah tokoh masyarakat, adat, ataupun organisasi masyarakat sesaat setelah mengetahui adanya rencana kunjungan mantan gubernur DKI tersebut.

Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan Pemuda Tabi Wilayah Grem Nawa Kabupaten Jayapura secara tegas menyatakan penolakan. Melalui koordinator Tokoh Adat dan Intelektual Grime Nawa, Martinus Kasuay disampaikan bahwa pihaknya tidak simpatik dengan sosok Anies Baswedan atas latar belakangnya yang tidak mencerminkan nasionalisme serta secara ideologi bertentangan dengan nilai-nilai adat budaya di Papua. Anies juga dinilai memiliki haluan garis keras yang tidak tepat jika memimpin masyarakat Indonesia yang plural.

Hal yang sama juga dilakukan oleh sejumlah masyarakat adat Tabi-Saireri yang secara tegas menolak keras kedatangan Anies Baswedan di Papua. Tokoh intelektual muda Saireri, Michael M. Sineri menyatakan bahwa pihaknya menolak kehadiran Anies Baswedan lantaran tidak ingin situasi Papua terganggu. Pasalnya menjelang tahun 2024, berbagai pihak telah mulai memainkan politik praktis untuk mencari dukungan, hal sama juga sedang dilakukan Anies Baswedan. Sementara itu, Tokoh Pemuda Tabi Paulinus Ohee menyatakan bahwa pihaknya khawatir adanya permainan politik identitas di Papua, termasuk menolak dijadikan komoditi politik praktis yang dapat mengganggu stabilitas kamtibmas di Papua.

Perwakilan Tokoh masyarakat, pemuda, dan tokoh perempuan Tabi wilayah Sentani Barat Moi, Benhur Yoboisembut menyatakan bahwa Anies merupakan tokoh politik yang mendepankan politik identitas dan tidak berjiwa nasionalis. Anies juga disebut tidak pantas diusung sebagai calon presiden RI karena selama menjabat sebagai Gubernur DKI belum mampu memberikan perbaikan terhadap Jakarta.

Perlunya Sikap Kritis Masyarakat Papua Terhadap Setiap Calon Pemimpin

Menjadi sebuah harapan bersama belajar dari kondisi Papua dimana memiliki seorang pemimpin bermasalah adalah hal yang tak boleh lagi terjadi di masa mendatang. Setiap masyarakat di Papua pada akhirnya diminta untuk bersikap kritis dalam mempelajari karakter dan track record para kandidat calon pemimpin, secara lebih luas yakni pemimpin Indonesia. Selain itu, juga kepada seluruh masyarakat Papua agar tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang tidak benar, serta belajar memahami tokoh-tokoh yang bisa mengakomodir hak-hak masyarakat adat Papua. Tokoh politik identitas seperti Anies Baswedan tidak sesuai dengan adat dan nilai-nilai budaya di Papua.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment