Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa produksi jagung nasional dalam kondisi surplus dan sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Hal ini sekaligus menunjukkan kekuatan sektor pertanian Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya untuk komoditas jagung yang strategis.
“Jagung Indonesia kuat. Produksinya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Ini adalah bukti nyata dari kerja keras petani, penyuluh, dan semua pihak yang terlibat dalam pembangunan pertanian,” ujar Amran di Jakarta.
Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada periode Januari–Juni 2025 diperkirakan mencapai 8,07 juta ton, atau meningkat 12,9 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2024 yang sebesar 7,15 juta ton. Kenaikan produksi ini terjadi di tengah tantangan iklim dan cuaca yang tidak menentu, menunjukkan resiliensi sektor pertanian nasional.
Amnran menyampaikan bahwa surplus produksi ini tidak terjadi begitu saja, melainkan merupakan hasil dari berbagai program yang dijalankan Kementerian Pertanian,
“Dengan pendekatan yang terukur dan terintegrasi, kita tidak hanya menjaga kestabilan produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan nilai tambah bagi petani,” jelas Amran.
Menanggapi isu mengenai pembelian produk pertanian dari Amerika Serikat senilai USD4,5 miliar, yang menjadi bagian dari kesepakatan penurunan tarif impor barang Indonesia menjadi 19 persen, Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak khawatir. Kesepakatan tersebut tidak akan mengganggu program ketahanan pangan nasional yang saat ini sedang diperkuat.
“Kewajiban itu tidak akan kontraproduktif dengan ketahanan pangan yang sedang kita galakkan. Soal impor, Kementerian Pertanian tetap memiliki kewenangan untuk memberikan rekomendasi,” ujar Amran.
Amran mencontohkan bahwa salah satu komoditas yang selama ini pernah diimpor adalah jagung. Namun, jika produksi dalam negeri mencukupi, tentu impor tidak diperlukan.
“Kalau cukup, ya tidak impor. Kan ada rekomendasi dari Kementan. Jadi tidak bisa sembarang,” jelas Amran.
Kementerian Pertanian (Kementan) terus berkomitmen mendorong Indonesia tidak hanya mandiri dalam produksi jagung, tetapi juga mampu menjadi eksportir jagung secara berkelanjutan. Surplus produksi saat ini menjadi modal besar untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global, sekaligus memperkuat cadangan pangan nasional.
“Petani kita luar biasa. Dengan sinergi yang kuat antara pusat dan daerah, kami optimis Indonesia bisa mencapai swasembada dan ekspor jagung secara konsisten,” kata Amran.
Amran mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung dan menjaga semangat kemandirian pangan nasional. “Data dan fakta sudah sangat jelas. Jagung kita kuat, petani kita hebat. Tinggal kita jaga bersama agar tetap berkelanjutan dan berdampak langsung ke kesejahteraan petani,” Amran.
Sebelumnya, Amran menegaskan komitmennya untuk menjadikan Provinsi Gorontalo sebagai sentra produksi jagung nasional dalam upaya mempercepat pencapaian swasembada pangan, khususnya komoditas jagung. Untuk itu Mentan Amran memastikan kebutuhan petani dalam pengembangan komoditas jagung terpenuhi salah satunya dengan bantuan benih jagung unggul.
“Benih jagung ini kirimkan cepat, kalo bisa revisi anggarannya ya Pak Dirjen, iya tambah lagi benih jagung ya, biar ini tambah lagi pertanamannya, jadikan Gorontalo pusat jagung,” kata Amran.
Sementara itu, Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail juga menyatakan kesiapan daerah untuk mendukung program nasional dan berharap sinergi lintas sektor dapat terus diperkuat.
“Kami serius dan total dalam mendukung program swasembada jagung nasional. Terima kasih atas dukungan, perhatian, dan arahan Pak Mentan agar semua program berjalan dan tenttunya bisa memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat Gorontalo,” jelas Gusnar.
Gusnar menambahkan, berbagai potensi sektor pertanian di wilayahnya meminta dukungan lanjutan dari pemerintah pusat melalui Kementan guna mengakselerasi pembangunan pertanian di daerah. Provinsi Gorontalo memiliki potensi lahan pertanian yang dapat dimanfaatkan secara optimal. Namun, dari total luasan lahan yang ada, baru sebagian kecil yang telah memiliki infrastruktur irigasi memadai.
Sekedar catatan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut produksi jagung pipilan kering (JPK) dengan kadar air 14 persen diperkirakan mencapai 0,98 juta ton atau turun sebesar 9,01 persen, dibandingkan dengan Mei tahun lalu yang sebesar 1,08 juta ton.

