
Indonesia dan politik luar negeri bebas dan aktif non-aligment (non-blok) membawa posisi Indonesia menjadi negara yang kuat sekaligus lemah. Sebagai negara non-blok Indonesia tidak tergabung dalam aliansi militer formal negara manapun. Posisi ini menunjukan bahwa Indonesia hadir sebagai negara yang berperan penting didalam menghadirkan perdamaian dunia, sesuai dengan konstitusi Indonesia.
Posisi strategis Indonesia yang berada dijalur persilangan Samudera Hindia dan Pasifik telah menempatkan Indonesia juga sebagai jalur pelayaran internasional yang sekaligus membawa Indonesia menghadapi bahaya dampak konflik regional.
Jika dilihat saat ini, peningkatan Geopolitik dikawasan Indo-Pasifik menjadi perhatian dunia, terutama bagi Indonesia sebagai negara besar dikawasan ini. Terdapat beberapa kekuatan pertahanan besar diwilayah ini seperti kekuatan China, Amerika Serikat, Israel, dan juga Rusia.
Dengan keberadaan basis-basis militer Amerika Serikat diwilayah Pasifik dan Hindia, bahkan ada wilayah di Indonesia timur yang sempat diisukan akan menjadi pangkatan militer Rusia yaitu pulau Biak. Berdasarkan Informasi yang didapatkan dari bbc.com bahwa Rusia berencana menempatan kekuatan pertahanan udaranya di wilayah Biak untuk mengantisipasi ancaman Amerika Serikat di Wilayah Pasifik, walaupun informasi ini kemudian disebutkan tidak benar oleh pemerintah Indonesia, namun yang menjadi konsen penulis adalah apa ketertarikan Rusia dengan letak strategis pulau Biak di wilayah timur Indonesia.
Selain itu, hubungan diplomatik antara pemerintah Papua New Guinea (PNG) dan Israel saat ini telah dibangun dengan mesra, hubungan diplomatik yang didukung oleh gereja pro Israel di PNG ini menghasilkan beberapa kerjasama awal seperti Investasi Israel ke PNG dalam bidang Teknologi Pertanian. Serta, PNG juga telah mendeklarasikan negaranya sebagai negara Kristen.
Negara yang berbatasan langsung dengan Papua Indonesia ini menjadi salah satu daerah juga yang memiliki Pakta Keamanan dengan Amerika Serikat yaitu Akses Tanpa Hambatan Militer Amerika ke enam Pelabuhan dan Bandara Utama termasuk Pangkalan Angkatan Laut Lombrum dan fasilitas militer di Port Moresby. Dengan tujuan utama dari kesepakatan pakta keamanan tersebut adalah Amerika Serikan dimungkinkan untuk menghadirkan militernya diwilayah Indo-Pasifik.
Negara Pasifik lainnya yang juga telah membangun hubungan diplomatik kuat dengan Israel adalah Fiji. Pada tahun 2025 lalu Fiji telah membuka kedutaan di Yerusalem dan Israel direncanakan akan membuka kedutaan besar di Fiji tahun 2026 ini. Posisi ini memperkuat kedudukan Israel dan tentunya Amerika sebagai negara sekutu di Pasifik.
Kerjasama militer yang kuat juga dilakukan antara Amerika Serikat dan Australia dengan hadirnya pangkalan militer Amerika di Australia seperti Pangkalan Komunikasi Angkatan laut Harold E Hold di Exmouth Australia Barat, dan Pine Gap di Alice Springs di wilayah Utara serta ada juga pangakalan Marinir Amerika Serikat di Robertson Barracks dan Pangkalan RAAF Darwin.
Dikawasan Asia, hubungan Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan melalui strategi forward deployment juga telah memperkuat hubungan keamanan. Seperti yang disebutkan dalam tempo.com bahwa Amerika Serikat mengoperasikan beberapa pangkalan utama seperti Kadena Air Base di Okinawa yang merupakan angakatan udara terbesar Amerika Serikat Amerika di Asia. Serta untuk pangkalan laut Amerika Serikat adalah Yokosuka Naval Base. Selain itu ada juga Yokota Air Base, Misawa Air Base, dan Marine Corps Air Station Futunenma.
Sementara di Korea Selatan, Amerika juga memiliki camp Humphreys di Pyeongtaek yang merupakan pangkalan militer AS terbesar diluar negeri. Ada juga Osan Air Base, Kunsan Air Base, dan fasilitas pendukung di Yongsan Garrison.
Amerika juga memiliki kekuatan pertahanan di Filipina, sedangkan di Singapura Amerika dapat menggunakan fasilitas Changi Naval Base dan Paya Lebar Air Base untuk rotasi kapal dan pesawat.
Demikian China dan Rusia juga terus memperkuat kekuatan pertahanan dan gelar pertahanan disejumlah wilayah lainnya di Asia dan Pasifik untuk mengantisipasi ancaman perang dunia yang diakibatkan meningkatnya geopolitik di Kawasan Indo-Pasifik yang bisa berkaitan dengan konflik laut China Selatan maupun konflik bersenjata antar negara yang terjadi diwilayah negara lain.
Potensi konflik terbuka semakin terlihat setelah Presiden Amerika Donald Trump menyatakan keluar dari 31 organisasi entitas PBB dan 35 organisasi internasional non-PBB, dengan alasan organisasi tersebut tidak sejalan dengan konstitusi Amerika.
Mengansitipasi setiap potensi ancaman konflik yang dapat terjadi kapan saja diwilayah pasifik, dengan melihat Geodefense yang berdasar pada wilayah geografi sebagai penentu strategi militer dan keamanan nasional, seperti wilayah perbatasan, ketersediaan sumber daya alam, dan kedekatan dengan potensi ancaman. Maka penulis menilai Indonesia perlu untuk antisipasi dampak perang negara besar atau yang bisa disebut sebagai Spillover Conflict.
Dalam posisi ini, Indonesia tidak terlibat secara langsung karena politik luar negeri Indonesia yang menempatkan Indonesia sebagai negara yang bergerak dijalur netral (damai) dan tidak terafiliasi dengan faksi militer manapun. Namun, indonesia akan terdampak secara ekonomi, politik, ketahanan logistik nasional, dan keamanan.
Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa wilayah pertahanan regional indonesia harus diperkuat, seperti penguatan basis Angkatan laut seperti yang saat ini dimiliki Indonesia adalah KOARMADA III disorong yang bisa diperkuat dengan Basis Pangkalan Armada Militer Tambahan di Wilayah kepulauan Papua untuk penguatan keamanan Indonesia di wilayah Pasifik.
Indonesia harus memilki Kapal Induk yang ditempatkan diwilayah Indopasifik untuk memberikan effect deterrent kepada pihak yang hendak menggunakan wilayah sekitar Indonesia untuk berperang.
Perlunya modernisasi Armada Udara yang lengkap yang ditempatkan dibasis pertahanan seperti wilayah Biak, Jayapura, dan Merauke untuk mengantisipasi konflik diwilayah pasifik dan perbatasan. Selain itu, perlu juga pembentukan Batalyon Tempur di diwilayah perbatasan Indonesia dengan PNG dan Batalyon tambahan penguat ketahanan pangan disetiap wilayah di indonesia.
Jika kekuatan pertahanan tidak diperkuat dan dimodernisasi maka sewaktu-waktu jika konflik terjadi antara Amerika, Rusia, dan China diwilayah IndoPasifik maka wilayah Indonesia akan menjadi korban, seperti filosofi yang kita kenal “Gajah berantem Semut mati terinjak” atau perseteruan antara negara-negara berpengaruh dapat menyebabkan negara lain menjadi korban.
Sejalan dengan politik luar negeri dan posisi non-aligment, Indonesia tidak akan terlibat dalam perang, tetapi jika potensi konflik terbuka terjadi, Indonesia dapat menyiapkan jalur bagi negara-negara besar yang hendak berperang dan atau menjaga wilayah kedaulatan Indonesia dari dampak Spillover Conflict tersebut.
Akhirnya, Penulis berharap strategi geodefense ini dapat menjadi tanggap dini dalam menghadapi dampak. Spillover Conflct, yaitu Indonesia memanfaatkan kecerdasan geografis, perencanaan pertahanan dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya, meningkatkan kesadaran situasional, dan mengembangkan strategi respons yang efektif terhadap ancaman keamanan yang muncul, serta kolaborasi pemahaman terhadap ancaman yang muncul perlu untuk terus dilakukan dan diupdate setiap saat.
Penulis
Steve R. Mara, M.Han
Mahasiswa S3 Indonesia di Inggris

