nusarayaonline.id – Serangan Kelompok Separatis dan Teroris Papua (KSTP) di sejumlah titik wilayah masih terus terjadi. Terbaru, pada Senin (9/1), Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) melakukan serangan terhadap sejumlah sarana umum dan anggota kepolisian di wilayah Oksibil, Pegunungan Bintang.
Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Papua Komisaris Besar (Kombes) Ignatius Benny mengabarkan penyerangan tersebut dilakukan oleh KSTP Kodap XXXV Bintang Timur yang dimotori oleh Ananias Atimin Bintang.
Kombes Benny melaporkan terjadi dua kali penyerangan. Pada pagi, sekitar pukul 10.50 waktu setempat, KSTP melakukan serangan dengan membakar sarana umum berupa gedung SMK Negeri Oksibil. Satu ruang guru dan satu ruang kelas dibakar ketika tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Dari dokumentasi yang dirilis, tampak sejumlah mobil pikap patroli kepolisian rusak ditembaki. Setelah serangan tersebut, kelompok separatis itu juga melakukan penyerangan di tempat lain, yakni menembaki pesawat Ikaros Caravan PK-HVV di Bandar Udara Oksibil. Akibatnya, pesawat kargo yang dipiloti oleh Kapten Tohirin tersebut gagal mendarat dan kembali ke bandara asal.
Kombes Benny juga melaporkan, sampai saat ini situasi dan kondisi di wilayah Oksibil masih dalam pengawasan. Sejumlah anggota Brimob bersama TNI melakukan patroli untuk memastikan keamanan. Polri kemudian meminta masyarakat sekitar tetap beraktivitas normal sambil menjaga kewaspadaan.
Serangan di Oksibil ini sebetulnya masih terkait dengan aksi serupa yang terjadi akhir pekan lalu. Polda Papua dalam siaran pers resmi, Sabtu (7/1), mengabarkan, KSTP Pegunungan Bintang melakukan serangan dengan memberi tembakan ke arah seorang pekerja ojek di Jalan Kabiding Lokasi III, Oksibil, Pegunungan Bintang. Penembakan tersebut tidak mengarah tepat dan sasaran pun melarikan diri untuk meminta bantuan ke Polres Pegunungan Bintang yang kemudian menerjunkan satu tim ke lokasi penembakan.
Saat tim dari Polres Pegunungan Bintang tiba di lokasi, kelompok penyerang melepaskan tembakan dari arah hutan ke para anggota kepolisian. Atas serangan itu, disampaikan tiga personel kepolisian mengalami luka-luka. Satu personel atas nama Briptu Fransiskus Ronsumbre mengalami luka tembakan di bagian lengan sebelah kanan. Dua personel lainnya, Ipda Jaenuddin dan Brigpol Freying, mengalami luka di badan karena terkena serpihan peluru tajam.
TPNPB-OPM Mengaku Bertanggungjawab
Juru Bicara Komnas TPNPB-OPM Sebby Sambom menegaskan, pihaknya bertanggung jawab atas semua rangkaian serangan yang terjadi. Sebby mengatakan, rangkaian serangan yang dilakukan TPNPB-OPM sudah dilakukan sejak awal Januari 2023. Kata Sebby, serangan-serangan tersebut dilakukan sebagai bentuk perlawanan untuk kemerdekaan Papua dan Papua Barat.
Sebby menuturkan, pada 3 Januari, serangan dilakukan terhadap empat anggota militer di Jalan Serdala, Yahukimo. Sehari setelahnya, 4 Januari, serangan dilakukan di Kota Intan Jaya. Dalam serangan tersebut, Sebby mengeklaim telah menewaskan satu anggota TNI-Polri.
Pada 6 Januari, serangan dilakukan di Sentani dengan melakukan pembakaran Pasar Baru Sentani. Pada 7 Januari, serangan serempak dilakukan di sejumlah lokasi di Yahukimo dan di Sentani dengan membakar sejumlah menara komunikasi dan menembaki pos-pos TNI-Polri, serta pesawat penerbangan.
Pada 9 Januari, pasukan TPNPB Kodap XXXV Bintang Timur yang dipimpin Ananias Ati juga mengeklaim bahwa mereka yang melakukan pembakaran sekolah SMKN 1 di Oksibil. Menurut Sebby Sambom, mereka akan terus melakukan penyerangan-penyerangan tersebut.
TNI-Polri Siap Menindak Tegas KSTP
Eksistensi KSTP yang terus meningkat dengan melakukan kejahatan kemanusiaan mendapat atensi Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Yudo Margono mengatakan kejahatan kemanusiaan KSTP menjadi salah satu bahan evaluasinya. Dia menegaskan bahwa dalam menghadapi KSTP, prajurit TNI akan melakukan tindakan secara tegas namun tetap terukur. Menurut Yudo Margono, TNI memiliki tugas mengamankan masyarakat dan juga KSTP. Upaya penindakan itu tetap jalan bersamaan dengan pendekatan humanis.
Dia memastikan program pembinaan teritorial (binter) akan terus dilaksanakan di Papua. Sebab, program ini sangat dibutuhkan masyarakat seperti bagi anak-anak yang ingin bersekolah, warga yang butuh keamanan dan kenyamanan, dan ketahanan pangan di daerah, sekaligus menjadi salah satu kegiatan untuk menangkal aksi-aksi kelompok berseberangan.
Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo juga sepakat penegakan hukum terhadap KSTP harus tegas dan terukur. aksi KSTP menjadi kendala dalam proses pembangunan di Papua.
Mengingat penegakan yang dilakukan aparat keamanan kerap berbenturan dengan Hak Asasi Manusia (HAM), Kapolri mengaku terus berkomunikasi dengan Komnas HAM di pusat maupun di Papua dalam rangka memastikan bahwa langkah yang yang dilakukan jajarannya sudah proporsional.
Penumpasan KSTP Bukan Pelanggaran HAM
Masyarakat Papua mendukung pihak TNI-Polri untuk melakukan penegakan hukum di Bumi Cendrawasih, khususnya penindakan tegas terhadap KSTP agar rentetan aksi brutalnya bisa dihentikan dan Papua pun senantiasa damai. Tidak ada masyarakat yang mendukung KSTP, sehingga jika ada anggotanya yang tertangkap atau bahkan terbunuh maka masyarakat justru bersyukur dengan harapan situasi Papua semakin kondusif.
Perlu kembali ditegaskan jika ada anggota KSTP yang terbunuh dalam upaya penegakan hukum, maka hal itu bukanlah sebuah pelanggaran terhadap HAM. Sebab, justru KSTP lah pelaku pelanggaran HAM yang sesungguhnya melalui aksi menyiksa hingga membunuh warga. Para penjahat seperti itu sama sekali tak pantas untuk dibela. Selain itu, anggota KSTP kadang memang terpaksa harus dimatikan sebagai tindakan tegas terukur dari aparat karena anggota KSTP kerap melawan dan membahayakan nyawa aparat ketika hendak diamankan.
Penegakan hukum wajib dilakukan di Papua agar masyarakat merasa aman tanpa ada gangguan dari KSTP. Penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan setinggi-tingginya karena Indonesia adalah negara hukum. Situasi keamanan yang terus terkendali, merupakan hal yang menjadi kedambaan warga Papua, dan itu akan bisa tercapai bila KSTP sudah berhasil ditumpas habis sampai ke akar-akarnya.
__
Eri Wenda(Ketua INSAN Papua)

