Sekolah Rakyat Petakan Potensi Siswa Berbasis AI

by Isabella Citra Maheswari

Pemerintah akan mengoperasikan sekolah rakyat mulai tahun ajaran baru 2025/2026. Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Mohammad Nuh mengatakan sekolah rakyat akan menggunakan pemetaan potensi siswa berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tujuannya, kata dia, agar pembelajaran lebih tepat sasaran dan sesuai karakteristik setiap anak.

“Dampaknya luar biasa, dan tiap anak Sekolah Rakyat akan dipetakan talentanya,” ujarnya dalam rapat di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta Pusat, Selasa, 1 Juli 2025, seperti dikutip dari Antara.

Nuh mengatakan pemetaan talenta ini membantu menemukan keunggulan spesifik setiap anak secara lebih cepat dan efisien. Dia mencontohkan, selama ini, 30 siswa di kelas mendapat materi sama meski setiap anak memiliki karakter dan keunggulan berbeda. “Seperti di dunia kedokteran, tak cukup semua pasien sakit kepala diberi obat generik,” ujarnya.

Mantan Menteri Pendidikan Nasional ini menuturkan pemetaan tersebut dikembangkan bersama pendiri ESQ Corp, Ary Ginanjar, dan akan digunakan secara gratis di sekolah rakyat. “Ini sistem pertama kali yang Pak Ary ulurkan, di mana-mana belum ada,” kata Nuh.

Sekolah rakyat adalah salah satu program gagasan Presiden Prabowo Subianto dengan penanggung jawab Kementerian Sosial (Kemensos). Tujuan utamanya menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu guna memutus mata rantai kemiskinan. Sekolah ini dirancang menyerupai sekolah asrama atau boarding school

Kemensos menyatakan pemerintah menargetkan 100 sekolah rakyat pada tahun ini. Namun Prabowo menginstruksikan penambahan 100 lokasi baru, sehingga total menjadi 200 sekolah rakyat.

Dalam kesempatan itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan pembelajaran tahap pertama sekolah rakyat akan dimulai di 100 titik pada 14 Juli 2025. Siswa hanya perlu lolos verifikasi administrasi dan pemeriksaan kesehatan tanpa tes akademik.

Kemensos juga menyiapkan aplikasi Manajemen Talenta untuk memetakan potensi, gaya belajar, pilihan karier, dan kebutuhan pendukung emosional siswa. “Kita ingin agar proses belajarnya benar-benar sesuai kebutuhan anak,” kata Gus Ipul.

Adapun Ary Ginanjar menyebutkan, selama ini, di Indonesia hanya mengukur Intelligence Quotient (IQ) individu berapa dan sekolahnya bagaimana. Namun, dengan pemetaan potensi berbasis AI, dapat meningkatkan potensi anak hingga 744 persen sebagaimana penelitian dari Nebraska University, Amerika Serikat.

Untuk itu, dia mengapresiasi gagasan soal tak ada tes akademik untuk calon siswa yang akan masuk ke sekolah rakyat, karena ini sebagai kejutan untuk Indonesia dan dunia.

“Lewat pemetaan potensi berbasis AI ini, dapat diketahui siapa yang jenius dan di bidang apa. Sehingga, nanti anak-anak dari sekolah ini akan teridentifikasi dari awal, termasuk gurunya teridentifikasi,” tuturnya.

Artikel Terkait

Leave a Comment