Kementerian Sosial tengah menyiapkan mekanisme baru bagi lulusan Sekolah Rakyat (SR) agar pendidikan tidak berhenti di tingkat SMA. Dengan lebih dari 14.000 siswa yang tersebar di seluruh Indonesia, program ini diarahkan untuk mencetak generasi siap kerja sekaligus siap kuliah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto menginginkan agar Sekolah Rakyat tidak berhenti di tahap belajar, melainkan menghasilkan lulusan yang mampu memberi manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. “Lulusan sekolah rakyat akan kami berikan dua jalur, bisa kuliah atau bekerja,” katanya.
Rencana tersebut membuka peluang integrasi antara dunia pendidikan dan lapangan kerja. Pemerintah akan menyiapkan kesempatan kerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bagi lulusan yang memilih langsung bekerja. Sedangkan yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi akan mendapat pendampingan akademik serta tes DNA talent untuk menentukan jurusan sesuai minat dan kemampuan.
Saifullah menambahkan, sejumlah universitas telah menyatakan kesiapan menerima lulusan SR. Sementara itu, Kementerian Perhubungan juga berencana membuka 22 sekolah kedinasan di berbagai bidang transportasi bagi siswa Sekolah Rakyat.
Konsep ini menunjukkan arah baru kebijakan pendidikan nasional — tidak hanya mencetak lulusan berijazah, tetapi juga manusia berdaya saing, berkarakter, dan mandiri. Sekolah Rakyat menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan keluar dari kemiskinan menuju kemandirian.

