Presidensi G20 Jadi Daya Tarik Turis Lokal dan Mancanegara

by Laura Felicia Azzahra

Tinggal menghitung hari, Indonesia akan memasuki babak terakhir dari perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang akan dilaksanakan di Bali, yakni pada tanggal 15-16 November 2022. Penyelenggaraan KTT G20 memberikan manfaat bagi perekonomian Indonesia, dengan prediksi kontribusi pada produk domestik bruto (PDB) yang mencapai US$ 533 juta atau sekitar Rp 7,4 triliun dan konsumsi domestik hingga Rp 1,7 triliun.

          Susiwijono Moegiarso selaku Sekretaris kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa pihaknya telah menyelenggarakan banyak acara sejak 1 Desember 2021.

“Total ada 438 event di 25 kota di Indonesia dengan berbagai tingkatan level pertemuan. Seluruh rangkaian itu memberikan manfaat besar terutama di dalam mendorong pertumbuhan ekonomi”, kata Susiwijono dalam jumpa pers daring #G20Updates. Dirinya juga menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan G20 mampu menyerap tenaga kerja hingga 33 ribu pekerja. Terutama dari sektor transportasi, akomodasi, MICE, dan UMKM.

          Bali yang merupakan lokasi akhir dari acara puncak KTT G20 merasakan dampak yang begitu besar atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Sektor pariwisata yang merupakan mata pencahariaan bagi sebagian besar masyarakat Bali, sebelumnya sempat terhenti karena COVID-19. Namun semenjak pagelaran KTT G20, kini perlahan mulai pulih dari keterpurukan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Sandiaga Uno yang mengatakan bahwa rangkaian event G20 telah memberikan pesan yang kuat dan meluas bahwa kawasan wisata di Indonesia sudah aman untuk kembali dikunjungi.

          Staf Ahli Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Kemaritiman Kemenko PMK, Nyoman Shuida mengungkapkan bahwa tingkat keterisian kamar hotel khususnya di Bali sudah melonjak tinggi dibandingkan dengan saat masa pademi 2021 lalu.

“Serapan tenaga kerja di sektor pariwisata, khususnya hotel, juga sudah mencapai sekitar 80 persen dari seluruh jumlah para pekerja yang saat masa pandemi terpaksa dirumahkan”, terang Nyoman melalui keterangannya saat kegiatan Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) pada 3 November 2022 lalu.

          Sekalipun pencapaian ini sudah cukup bagus, Nyoman Shuida mengamanatkan untuk memantau konsistensi dan kestabilan pencapaian ini bahkan mengupayakan untuk terus ditingkatkan pasca G20. Mengingat Indonesia masih menghadapi serangkaian tantangan dan krisis ekonomi global seperti inflasi, krisis pangan, energi, dan lain-lain.

Artikel Terkait

Leave a Comment