Presiden Prabowo Dinilai Tepat Pilih Hadiri Undangan Putin

by Isabella Citra Maheswari

Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri undangan Presiden Rusia Vladimir Putin, alih-alih datang ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Kanada, dinilai sebagai langkah strategis dalam menjaga posisi Indonesia di panggung geopolitik global.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai setidaknya ada tiga alasan kuat mengapa keputusan tersebut patut diapresiasi. 

“Kalau Presiden ke Kanada, itu bisa diartikan Indonesia berpihak pada negara-negara Barat yang tergabung dalam OECD. Sementara kehadiran di Rusia menunjukkan keseriusan Indonesia dalam BRICS,” ujar Hikmahanto, Kamis (12/6/2025).

Sebagai informasi, Indonesia saat ini tergabung dalam BRICS Plus, forum kerja sama ekonomi yang mencakup Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, serta beberapa negara berkembang lainnya.

Alasan kedua, menurut Hikmahanto, adalah peluang untuk membawa isu Palestina ke meja diskusi. 

“Amerika Serikat selalu berada di belakang Israel. Dalam isu Gaza, pengimbang yang nyata hanya Rusia dan China. Jadi, kehadiran Presiden di Rusia punya ruang lebih untuk bicara Palestina,” jelasnya.

Ketiga, posisi Indonesia dalam forum G7 bukan sebagai anggota tetap, melainkan sebagai tamu dari kelompok negara maju. 

“Kalau ke Rusia, Presiden jadi tamu utama. Di G7, hanya sebagai pendengar. Tentu daya tawar dan kemungkinan kesepakatan bilateral lebih besar di Rusia,” kata Hikmahanto.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Ruliansyah Soemirat, juga menjelaskan bahwa undangan dari Rusia datang lebih dulu dibandingkan undangan dari Kanada. Di sisi lain, Prabowo juga dijadwalkan menghadiri Annual Leaders’ Retreat di Singapura, yang waktunya berdekatan dengan agenda KTT G7.

“Presiden telah lebih dulu menyampaikan komitmen untuk hadir di Rusia dan Singapura. Jadi ini soal kepatuhan pada komitmen yang sudah dibuat sebelumnya,” ujar Roy.

Artikel Terkait

Leave a Comment