Victor Mambor, Jurnalis Senior Papua.

Pernyataan Victor Mambor Sangsikan Akurasi Media Nasional Justru Menguak Ketidakberimbangan Jubi.id

by Laura Felicia Azzahra
Victor Mambor, Jurnalis Senior Papua.

nusarayaonline.id – Seorang jurnalis senior di Papua sekaligus manajer Tabloid Jubi, Victor Mambor baru saja memberikan pernyataan melalui unggahan di media sosial yang kemudian dibagikan oleh sejumlah akun. Dalam tulisannya, ia menyatakan sikapnya terhadap pemerintah Indonesia dan rencanannya dalam meliput Progam Pembangunan di Papua yang dianggap tidak sesuai dengan kenyataan. Disebutkan bahwa dirinya telah hadir di beberapa pertemuan wawancara pemimpin pasifik seperti di MSG, Jenewa, dll dengan tujuan meliput berita yang benar di tingkat pasifik dan internasional, kemudian mengabarkan untuk orang Papua agar tidak tertipu lagi. Menurutnya, hari ini banyak media nasional yang menipu orang Papua.

Dirinya menyebut bahwa tugas hari ini adalah memberitakan yang benar terjadi di depan kaca mata kepada dunia internasional, agar seluruh kemunafikan Republik Indonesia malu akibat penipuan yang ditujukan kepada PBB. Menjadi target dari pihaknya yang akan meliput ruas jalan sepanjang 14 ribu Km dan 30 pelabuan. Kemudian sekolah gratis dan pengobatan gratis bagi orang Papua yang dikatakan kepada PBB oleh Indonesia beberapa waktu lalu. Dirinya akan meliput dan meneruskan ke dunia bahwa Indonesia memang benar atau menipu dalam mempromosikan Pulau Papua dan orang papua di PBB. Di akhir pernyataannya, dirinya menyebut bahwa pekerjaan yang dilakukan banyak tantangan namun yakin bahwa Tuhan melindungi. Dijelaskan pula bahwa ia merupakan orang Papua, Bapaknya ditahan oleh negara dan diancam. Hal tersebut berimbas kepada dirinya sebagai anak terkait apa yang telah dilakukan kepada bapak dari seorang Victor Mambor.

Dilihat dari pernyataannya, terdapat sikap emosional yang muncul dar seorang Victor Mambor. Rasa kesal terhadap beberapa kejadian oleh sejumlah oknum media yang digeneralisir disebut media-media nasional dalam mengolah sudut pandang terhadap isu Papua termasuk dalam mengabarkan kepada PBB. Ditambah dengan latar belakang masa lalunya. Maka dirinya berupaya membuktikan sejumlah kebijakan pembangunan dan progam pemerintah untuk kemudian dikabarkan kembali kepada orang Papua. Terdapat rasa ketidakpercayaan terhadap pemberitaan sejumlah media. Dirinya juga menyebut bahwa media yang ia awaki adalah yang memberikan kabar sebagaimana yang terjadi di tanah Papua.

Kecenderungan Saat ini: Setiap Orang Adalah Media, dan Setiap Media Memiliki Agenda

Sebagai seorang jurnalis yang memiliki idealis tinggi dalam ranah yang ia bidangi tentu merupakan hal yang patut dilakukan menyikapi kerja-kerja media yang tak kredibel dalam memberitakan suatu isu, terutama berkaitan dengan Papua. Namun yang harus diketahui pula, bahwa di era yang semakin terbuka dan dimudahkan oleh teknologi. Kehadiran media yang sebelumnya terlembagakan sebagai sebuah perusahaan, kini seperti sudah merasuk hingga wilayah perorangan. Menjamurnya platform media sosial dimana setiap orang akan terwakilkan dalam satu akun memiliki sisi lain. Hampir setiap individu bisa menjadi media untuk dirinya sendiri atau mengabarkan orang-orang di sekitar.

Konsekuensi yang terjadi kemudian adalah timbulnya portal-portal semacam media massa yang turut membanjiri informasi dalam setiap peristiwa yang terjadi. Tentu bukanlah sebuah kebetulan atau iseng belaka ketika seseorang menuliskan atau mengabarkan sesuatu kepada khalayak. Fenomena tersebut terjadi baru dalam tingkat individu, dalam tingkatan yang lebih niat atau serius, kehadiran portal-portal semi media tadi juga tentunya memiliki keperluan atau bahkan kepentingan mengapa kemudian hadir turut mempengaruhi opini publik. Masyarakat kemudian dipaksa untuk memutar otak lebih keras bersikap lebih kritis, memberikan penilaian manakah media yang memang hadir sesuai dengan konteksnya sebagai pilar kelima dalam negara demokrasi, atau memang terdapat agenda lain yang sebenarnya sedang diperjuangkan. Cover both sides adalah salah satu dasar yang harus dipegang oleh masyarakat dalam menghadapi banjirnya informasi saat ini.

Menguak Sisi Lain Jubi Sebagai Media Berperspektif Lokal

Media Jubi, atau singkatan dari Juru Bicara adalah sebuah media serta publikasi berbasis di Papua yang berfokus dalam memberitakan peristiwa berdasarkan lensa perspektif lokal. Didirikan pada tahun 2011, Jubi berawal dari sebuah tabloid dua mingguaan yang didirikan oleh LSM di Jayapura. Awalnya, Jubi ditujukan sebagai media advokasi yang juga mempublikasikan program-program forum kerjasama, di LSM tersebut. Seiring berkembangnya Jubi sebagai sebuah publikasi digital, kemudian merambah dalam bentuk tabloid, media online Jubi.id  serta Jubi TV di kanal Youtube. Dalam laku kerjanya yang telah berlangsung selama puluhan tahun dengan sederet pemberitaan yang terkadang memiliki pandangan berbeda dengan pemberitaan di media lain. Sejumlah pihak telah melakukan kajian dan analisis terhadap pola pemberitaan yang dilakukan oleh Jubi yang disandingkan dengan media lain sebagai pembanding.

Sebuah jurnal bernama Metahumaniora terbitan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mempublikasikan hasil kajian dari Yenny Kurniawati terkait keberpihakan media berita lokal Papua dan nasional terkait peristiwa kekerasan Kiwirok 13 September 2021 menggunakan analisit transivitas.  Data berupa 15 artikel berita dari laman Jubi.id dan 15 artikel berita Kompas.com dikumpulkan dalam korpus lalu diolah dengan Antconc untuk membantu pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam proses dalam artikel pemberitaan kekerasan Kiwirok 13 September 2021 di dua media berita, yaitu proses material, verbal, behavioral, mental, relasional, dan eksistensial. Proses material mendominasi artikel pemberitaan dengan frekuensi tertinggi ada di artikel Kompas. Proses material dalam artikel tersebut kebanyakan dipakai untuk menggambarkan secara detail aksi-aksi yang dilakukan oleh aktor utama kekerasan. Ideologi dilihat dari bagaimana keberpihakan media terhadap aktor sosial dalam peristiwa kekerasan. Aktor sosial konflik Papua berdasarkan riset LIPI (BRIN) digolongkan menjadi tiga: pro NKRI, kelompok tengah, dan pro Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jubi.id cenderung berpihak kepada kelompok tengah sedangkan Kompas cenderung berpihak kepada kelompok pro NKRI.

Kemudian sebuah karya ilimiah dari mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo bernama Reva Anggita Putri Pribadi juga membahas perihal media Jubi.id. Karya yang mengangkat pembingkaian berita media online kasus penyerangan 4 Prajurit TNI di Papua Barat pada Detik.com dan Jubi.id periode 2-10 September 2021 tersebut menghasilkan sejumlah kesimpulan. Dari keseluruhan analisis framing, dari 3 berita Detik.com lebih menekankan bahwa KNPB adalah pelaku penyerangan Posramil Kisor dan TNI adalah korbannya. Sedangkan 3 berita Jubi.id lebih menekankan bahwa TPNPB-OPM dan KNPB adalah korban dan TNI/Polri adalah pelaku. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan hasil analisis berita Jubi.id dengan Detik.com sebagai berikut: Pertama, cara menyusun fakta berita Jubi.id mengarah pada dominasi narasumber berpihak pada kelompok Separatis adalah korban dan aparat TNI adalah pelaku sedangkan Detik.com dominasi narasumbernya mengarah pada TNI adalah korban dan kelompok Separatis adalah pelaku. Kedua, cara wartawan mengisahkan fakta media Jubi.id adalah kelengkapan berita lebih dominan pada kelompok separatis sebagai korban dan pihak TNI sebagai pelaku. Ketiga, cara menulis fakta media Jubi.id adalah antar paragraf saling berkesinambungan sedangkan Detik.com antara paragraf tidak saling berkesinambungan. Terakhir, cara wartawan menulis fakta media Jubi adalah judul menekankan kelompok separatis sebagai korban sedangkan Detik.com menggunakan judul yang menekan kelompok separatis adalah pelaku.

Sebelumnya, sebuah kelompok mengatasnamakan Forum Lintas Kerukunan Nusantara (FKLKN) Provinsi Papua melaporkan Jubi.id ke dewan pers dan polisi. Menurutnya, pemberitaan pada media jubi.id meresahkan guru dan seluruh pendatang di pedalaman Papua. Pemberitaan berjudul ‘Guru di Beoga, Puncak ditembak karena kerap dijumpai membawa pistol’ dinilai telah menggiring opini berupa penyebaran informasi yang tidak benar atau memprovokasi. Koordinator FKLKN Provinsi Papua, Junaedi Rahim didampingi Ketua HKJM Sarminanto, Ketua K3 Yorrys Lumingkewas dan perwakilan Suku Buton, Padang, Pasundan serta Ikatan Keluarga Toraja dan Paguyuban lainnya di Kota Jayapura, pada 19 April 2021 mengatakan, pemberitaan bahwa guru adalah mata-mata tidak benar. Seharusnya berita yang disajikan dimuat lebih berimbang dengan menghadirkan pernyataan dari pihak atau instansi terkait agar lengkap dan tidak menimbulkan pemahaman yang salah, sehingga tidak terkesan mendeskreditkan atau menyudutkan profesi seorang guru ataupun oknum warga. Karena stigma sebagai mata-mata bisa tersemat kepada siapa saja, terutama warga non Papua. Pasalnya, korban dalam kejadian tersebut adalah guru dan ada juga tukang ojek yang tidak pernah berafiliasi terhadap politik atau apapun.

Refleksi Media Jubi.id agar Tetap Kedepankan Berita Berimbang

Sebuah penelitian dari Conversation.ID melibatkan akademisi UGM berkaitan dengan media dan pers di Papua menghasilkan beberapa hal yang patut menjadi catatan. Bahwa dalam sejumlah bidang, termasuk soal HAM terdapat keterbatasan sumber informasi karena sebagian besar sumber berasal dari aparat keamanan dan pejabat publik. Ketua Dewan Pers 2016-2019, Stanley Adi Prasetyo menyebut bahwa di Papua, praktik jurnalisme yang banyak dilakukan adalah wawancara dengan beberapa orang daripada melalukan reportase secara langsung di lapangan. Pada akhirnya, berita tampak menjadi parade pendapat. Ketika terdapat peristiwa, pejabat pemerintah atau militer mengatakan A, sementara aktivis tertentu mengatakan B, begitu seterusnya. Suka atau tidak suka, Media Jubi.id kemungkinan besar masih berada dalam lingkaran tersebut. Semoga apa yang menjadi harapan Victor Mambor  untuk memberikan informasi kepada masyarakat Papua, benar-benar sesuai dengan apa yang disampaikan.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment