Oleh :
Steve Rick Elson Mara, S.H., M.Han
(Analis Pertahanan dari Papua)

- Pendahuluan
Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki letak geografis sangat strategis dan presisi karena berada diantara dua benua yaitu Benua Asia dan Australia, serta berada diantara dua samudera yaitu Hindia dan Pasifik. Posisi Indonesia menjadi jalur persilangan perdagangan internasional baik diudara maupun di laut, sehingga dapat disebutkan posisi Indonesia memiliki efek terhadap perputaran ekonomi global.
Selain itu, negara yang terdiri dari 17.380 pulau dan 286,6 juta penduduk ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar dari potensi pertanian, pertambangan, hingga sumber daya lainnya yang bisa dimanfaatkan seperti air, hutan, udara, laut, serta tanah dan kandungannya.
Namun, dengan adanya potensi dan posisi strategis yang dimiliki oleh Indonesia tentunya juga meningkatkan ancaman bagi Indonesia. Melihat perkembangan dinamika geopolitik global, Indonesia perlu untuk mengantisipasi ancaman nyata seperti terbukanya konflik horizontal antara masyarakat, maupun konflik vertikal yang bisa terjadi antara masyarakat dan pemerintah, atau terbukanya peluang Konflik Bersenjata Internasional/ Internasional Armed Conflict (IAC).
Mengantisipasi konflik tersebut, terutama konflik bersenjata internasional, maka perlu dibuat sebuah perencanaan CEWERS untuk mengantisipasi terjadinya konflik yang merugikan Indonesia.
- Pembahasan
- Teori CEWERS
Model analisis yang dilakukan didalam CEWERS dimulai dengan mengetahui 5W1H yaitu When, Where, What, Who, Why, dan How. Hal ini dilakukan untuk menganalisis sebuah konflik secara mendalam agar mendapatkan jawaban bahwa perlu ada sebuah peringatan dini terhadap potensi konflik yang diprediksi akan terjadi. Selain itu, dilihat juga SAT atau Struktur, Akselerator, serta Triger.
Selanjutnya, akan dilihat orientasi para tokoh struktural, serta bagaimana cara untuk mengantisipasi ancaman dan memberikan peringatan dini kepada pemerintah sebagai bentuk rencana antisipasi jiwa sewaktu-waktu terjadi atau untuk membangun pertahanan ideal.
- Perencanaan CEWERS, Antisipasi Dinamika Geopolitik Global.
Meningkatnya tensi konflik bersenjata antar negara yang terjadi didunia, membuat semua negara perlu untuk mengantisipasi ancaman sekecil apapun yang datang. Indonesia menjadi salah satu negara yang perlu memperhatikan setiap konflik yang terjadi, karena posisi Indonesia yang strategis, sumber daya alam, dan jumlah penduduk banyak yang tersebar dari sabang sampai Merauke.
Diplomasi tingkat tinggi telah dilakukan Presiden Prabowo dan jajarannya melalui kementerian luar negeri untuk menjaga Indonesia tetap menjadi negara yang damai, namun yang harus diantisipasi saat ini adalah collateral damage atau dampak ikutan dari diplomasi yang dilakukan dengan negara yang berkonflik dan atau negara yang terikat dalam sebuah konflik bersenjata.
Untuk itu, antisipasi dan peringatan dini untuk mengahadapi dinamika geopolitik global perlu dibangun, dan kesadaran ini bukan hanya diberikan kepada pemerintah tetapi juga kepada masyarakat agar memahami dengan seksama apa yang sedang dihadapi oleh negaranya.
- Situasi Terkini
Peningkatan Geopolitik dikawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi perhatian dunia, terutama bagi Indonesia sebagai negara besar yang berada dikawasan ini. Terdapat beberapa kekuatan pertahanan besar diwilayah ini seperti kekuatan China, Amerika Serikat, dan juga Rusia. Dengan keberadaan basis-basis militer Amerika Serikat diwilayah Pasifik dan Hindia, bahkan ada wilayah di Indonesia timur direncanakan untuk menjadi pangkatan militer Rusia yaitu pulau Biak. Berdasarkan Informasi yang didapatkan dari bbc.com bahwa Rusia berencana menempatan kekuatan pertahanan udaranya di wilayah Biak untuk mengantisipasi ancaman Amerika Serikat di Wilayah Pasifik, namun hal itu tidak setujui oleh pemerintah Indonesia.
Selain itu, hubungan diplomatik antara pemerintah Papua New Guinea (PNG) dan Israel saat ini telah dibangun dengan mesra, hubungan diplomatik yang didukung oleh gereja pro-Israel di PNG ini menghasilkan beberapa kerjasama awal seperti Investasi Israel ke PNG dalam bidang Teknologi Pertanian. Serta, PNG juga telah mendeklarasikan negaranya sebagai negara Kristen.
Negara yang berbatasan langsung dengan Papua Indonesia ini menjadi salah satu daerah juga yang memiliki Pakta Keamanan dengan Amerika Serikat yaitu Akses Tanpa Hambatan Militer Amerika ke enam Pelabuhan dan Bandara Utama termasuk Pangkalan Angkatan Laut Lombrum dan fasilitas militer di Port Moresby. Dengan tujuan utama dari kesepakatan pakta keamanan tersebut adalah Amerika Serikat dimungkinkan untuk menghadirkan militernya diwilayah Indo-Pasifik.
Kerjasama militer yang kuat juga dilakukan antara Amerika Serikat dan Australia dengan hadirnya pangkalan militer Amerika di Australia seperti Pangkalan Komunikasi Angkatan laut Harold E. Hold di Exmouth Australia Barat, dan Pine Gap di Alice Springs di wilayah Utara serta ada juga pangakalan Marinir Amerika Serikat di Robertson Barracks dan Pangkalan RAAF Darwin.
Dikawasan Asia, hubungan Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan melalui strategi forward deployment juga telah memperkuat hubungan keamanan. Seperti yang disebutkan dalam tempo.com bahwa Amerika Serikat mengoperasikan beberapa pangkalan utama seperti Kadena Air Base di Okinawa yang merupakan angakatan udara terbesar Amerika Serikat Amerika di Asia. Serta untuk pangkalan laut Amerika Serikat adalah Yokosuka Naval Base. Selain itu ada juga Yokota Air Base, Misawa Air Base, dan Marine Corps Air Station Futunenma.
Sementara di Korea Selatan, Amerika juga memiliki camp Humphreys di Pyeongtaek yang merupakan pangkalan militer AS terbesar diluar negeri. Ada juga Osan Air Base, Kunsan Air Base, dan fasilitas pendukung di Yongsan Garrison.
Amerika juga memiliki kekuatan pertahanan di Filipina, sedangkan di Singapura Amerika dapat menggunakan fasilitas Changi Naval Base dan Paya Lebar Air Base untuk rotasi kapal dan pesawat.
Demikian China dan Rusia juga terus memperkuat kekuatan pertahanan dan gelar pertahanan disejumlah wilayah lainnya di Asia dan Pasifik untuk mengantisipasi ancaman perang dunia yang diakibatkan meningkatnya geopolitik di Kawasan Indo-Pasifik yang bisa berkaitan dengan konflik laut China Selatan maupun konflik bersenjata antar negara yang terjadi diwilayah negara lain.
Selain itu, bergabungnya Indonesia dengan BRICS juga menjadi salah satu catatan penting untuk pertahanan dan keamanan Indonesia, ketika respon Amerika Serikat hanya dengan menaikan pajak, tidak ada ancaman pertahanan, karena Amerika tahu posisi strategis Indonesia sudah dikelilingi oleh pangakalan militer Amerika.
Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, dalam kaitan diplomasi Indonesia dalam fora internasional yang mendukung kemanusiaan di Palestina juga akan bersinggungan dengan Israel dan Amerika serta sekutunya.
Ini yang penulis sebut dengan antipasi ancaman collateral damage dari dinamika geopolitik global yang saat ini menguat dan berpotensi menciptakan konflik bersenjata intenasional.
Jika dilihat juga dari konflik internal dalam negeri, seperti konflik politik kemerdekaan yang terjadi di Papua, memiliki efek tersendiri dalam geopolitik global karena berkaitan dengan diplomasi yang dibangun oleh kelompok kemerdekaan Papua dengan negara-negara diwilayah pasifik dan diplomasi yang dibangun di Uni Eropa dan di United Nation.
- Laporan 5WIH
When? Dinamika Geopolitik global mengalami eskalasi dalam 10 tahun terakhir, ketika konflik bersenjata menguat di Jalur Gaza dan respon dunia akan pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan Israel dan didukung Amerika. Konflik selanjutnya pecah ketika Iran melancarkan serangan rudal ke Israel dan Israel membalas.
Sementara itu, kepentingan China dengan laut China Selatan juga menarik beberapa negara untuk bergerak seperti Filipina, Vietnan, Malaysia, Brunei, dan Taiwan. Sedangkan indonesia juga berkepentingan sebagai negara yang berbatasan langsung dengan wilayah perairan tersebut.
Konflik bersenjata internasional lainnya yang masih terjadi adalah antara Rusia dan Ukraina, yang terjadi semenjak februari 2014 serta Konflik bersenjata antara India dan Pakistan, Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja.
Perang dagang yang terjadi antar negara seperti yang terjadi antara Amerika dan China, yang terjadi semenjak tahun 2018, yang terjadi ditandai dengan Amerika menaikan tarif tinggi atas produk China. Amerika yang saat ini menaikan tarif produk dari banyak negara termasuk Indonesia juga kena imbasnya. China dan Uni-Eropa yang terjadi persaingan ketat terutama dalam hal persaingan pasar otomotif dan teknologi.
Internasionalisasi isu Papua yang terjadi fora internasional seperti setiap tahunnya melalui berbagai forum, yang berkembang sesuai dengan pergerakan organisasi Papua Merdeka.
Where? Seperti yang disebutkan bahwa konflik terjadi secara langsung negara-negara tersebut, seperti Amerika, China, Rusia, Ukraina, Israel, India, Pakistan, Thailand, Kamboja, dan konflik dagang yang juga melibatkan Amerika, China, dan Uni Eropa.
Namun, konflik yang terjadi di negara tersebut memiliki dampak ikutan yang terjadi dinegara lain, seperti halnya konflik Israel dan Palestina berdampak kemanusian yang telah menarik simpati banyak negara untuk ingin terlibat. Atau Relasi dengan negara lain yang berdampak pada hubungan ekonomi, seperti ketika Indonesia bergabung dengan BRICS dan Amerika menaikan tarif produk Indonesia menjadi lebih tinggi. Konflik mungkin hanya terjadi dibeberapa negara saja, namun hampir sebagian besar negara-negara didunia merasakan dampak konflik tersebut.
Di Laut China Selatan, ketika negara yang terlibat mulai melakukan klaim-klaim secara terbuka tentang kepemilikian wilayah. Selain itu, di Fora internasional yang terjadi perdebatan antara status Papua oleh kelompok kemerdekaan Papua dan negara-negara pendukungnya dengan kementerian luar negeri Indonesia.
What? Yang harus diantisipasi adalah dampak ikutan dari konflik yang terjadi antar negara, akibat hubungan diplomasi yang dibangun secara dekat dengan negara-negara yang berkonflik. Serta, posisi strategis Indonesia, dan kepemilikian sumber daya alam di Indonesia yang melimpah.
Internasionalisasi isu Papua, yang telah dilakukan secara massif dan terstruktur oleh kelompok Papua Merdeka untuk menggalang dukungan.
Who? Amerika sebagai negara Adikuasa disusul China, dan Rusia. Serta beberapa negara lain yang terlibat dalam konflik bersenjata internasional. Negara-negara yang memilki kekuatan pertahanan juga memiliki potensi besar untuk membuka konflik, seperti negara-negara pemilik senjata pemusnah masal. Selain itu, beberapa negara juga memilki kepentingan di Indonesia karena kerjasama ekonomi, kepemilikan tambang, utang luar negari, hubungan pertahanan dan keamanan, hingga keterarikan atas isu hak asasi manusia.
Why? Ancaman ini akan mempengaruhi stabilitas pertahanan dan keamanan Indonesia jika tidak diantisipasi dengan baik. Yang akan mengancam kedaulatan dan kehidupan masyarakat Indonesia.
How? Ancaman ini terlihat dengan penempatan pangakalan militer yang berada di sekitar Kawasan Indonesia, menguatnya tensi perang antar negara yang terjadi didunia. Hubungan Indonesia dan Politik bebas aktif yang dimiliki oleh Indonesia yang tidak sepenuhnya non-blok karena tetap berdiplomasi dengan negara-negara.
- Fase Konflik
Ancaman konflik bersenjata internasional belum secara eksplisit terjadi di Indonesia, namun jika dilihat dari dinamika global, Indonesia mulai dilibatkan dalam posisi strategis perang. Seperti halnya Perancis yang melakukan Defile militer bersama tantara Indonesia menunjukan bahwa Indonesia membangun sekutu dengan kekuatan pertahanan Perancis.
Perancis sebagai negara dengan kekuatan militer besar tentunya membutuhkan negara besar dengan jumlah penduduk banyak seperti indoensia untuk menjaga wilayah pertahanannya di wilayah pasifik dan Asia. Pangkalan militer Perancis yaitu Noumea dan Pepeete yang ada di Kaledonia, bisa di ekspansi dan dibuka juga di wilayah timur Indonesia. Posisi ini akan memberikan ancaman juga bagi pangkalan militer Amerika Serikat yang ada diwilayah Pasifik dan Asia.
Jika dilihat situasi keamanan internasional dan dukungan Perancis untuk kemanusiaan di Gaza Palestina dan Peran Amerika yang aktif mendukung Israel dalam intervensi militer di jalur Gaza, maka ini akan membuka peluang perang dunia III. Jika perang itu terjadi, Amerika tidak akan perang di negaranya, atau Perancis di negaranya, itu kemungkinan terbesar akan dilakukan diwilayah pasifik, dan Indonesia timur akan menjadi daerah merah tersebut.
Hubungan baik Indonesia dengan Rusia dan Indonesia dengan China juga akan mempengaruhi ancaman dinamika politik global yang harus diantisipasi, jika kita lihat penyebaran pangkalan militer Amerika yang mencapai 750 pangkalan militer yang tersebar di 80 negara. Ini akan menjadi ancaman sewaktu-waktu jika ada penyebab kecil yang memicu konflik besar.
Disisi lain, keberadaan tambang emas Freeport milik Amerika yang terletak diwilayah Papua, menjadi perhatian sendiri bagi Amerika bahwa Indonesia menjadi salah satu negeri yang penting karena aset tambang. Serta rencana Amerika juga untuk membuka beberapa perusahaan tambang dan menjadikan Indonesia salah satu pasar bagi mereka.
Posisi ini cukup menarik ketika Indonesia mampu memposisikan diri ditengah sebagai negara netral yang bisa membangun hubungan diplomasi dengan semua negara karena politik luar negeri yang bebas dan aktif. Namun, posisi kenetralan Indonesia tersebut bisa menempatkan Indonesia dalam posisi yang terancam karena menanggung banyak kepentingan negara-negara lain.
- SAT (Struktur, Akselerator, Triggers)
Struktur? Perbedaan kepentingan antar negara dan politik luar negeri yang dimainkan oleh masing-masing negara juga akan mempengaruhi terjadinya konflik. Selain itu, keputusan politik luar negeri yang diambil dapat mempengaruhi hubungan antar negara. Seperti halnya yang dijelaskan oleh penulis diatas tentang Indonesia yang bergabung dengan BRICS dan Amerika menaikan tarif pajak Indonesia mencapai 32%. Meskipun dengan diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan Presiden Prabowo bisa menurunkan angka 32% ke angka 19%, namun itu tetap memiliki konsekuensi setelahnya.
Keterlibatan Indonesia dalam event militer negara lain juga menunjukan arah pembangunan atau kiblat pertahanan Indonesia. Ini juga akan menunjukan kesamaan visi antar negara yang dibangun untuk menekan kekuatan pertahanan. Seperti halnya Indonesia yang mendukung kemanusiaan di Gaza Palestina dan Perancis yang juga melakukan hal yang sama, berbeda dengan Amerika yang justru mendukung Israel.
Akselerator? Yang menjadi akselerator konflik dalam ancaman konflik bersenjata internasional adalah framming media mainstrem dan media sosial yang terlihat semakin sering menghadirkan postingan propaganda antar negara. Hal ini seperti meniupkan angin panas kepada rumput kering yang siap terbakar. Munculnya ujaran kebencian dengan ditunggangi kepentingan perbedaa agama, perbedaan ras, dan kepentingan kekuasaan “antek-antek asing” yang turut menciptakan eskalasi konflik terjadi.
Selain itu, penempatan pasukan, armada, dan pangkalan militer juga dapat menjadi akselerator konflik. Serta, kepentingan antar negara yang menguat, seperti klain sumber daya yang terjadi di laut china selatan. Ini kemungkinan dapat menjadi akselerator yang dapat mengancam wilayah pertahanan dan keamanan Indonesia.
Triggers? Kelompok berdasarkan kepentingan telah terbentuk, yaitu blok barat dan blok timur, serta negara non blok. Atau juga berdasarkan Kerjasama internasional dan perjanjian internasional yang dibuat, contohnya yang tergabung dalam sekutu Amerika, atau BRICS dan organisasi internasional lainnya.
Ini menunjukan bahwa ada Kelompok US VS THEM yang terbentuk, Kelompok ini terbentuk kemudian menggunakan visi mereka untuk melihat kelompok lain, sehingga kelompok lain akan menjadi kelompok yang salah. Seperti yang terjadi antara kelompok dominan dan kelompok sub-ordinat.
- Conflict Early Warning and Early Response
Mengansitipasi setiap potensi ancaman konflik yang dapat terjadi kapan saja diwilayah pasifik, dengan melihat Geodefense yang berdasar pada wilayah geografi sebagai penentu strategi militer dan keamanan nasional, seperti wilayah perbatasan, ketersediaan sumber daya alam, dan kedekatan dengan potensi ancaman, maka penulis beranggapan bahwa wilayah pertahanan Indonesia perlu terus diperkuat terutama diwilayah timur Indonesia yaitu di Papua.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk penguatan wilayah pertahanan Indonesia diwilayah Papua adalah penguatan basis Angkatan laut seperti yang saat ini dimiliki Indonesia adalah KOARMADA III disorong yang bisa diperkuat dengan Basis Pangkalan Armada Militer Tambahan di Wilayah kepulauan Biak dan Yapen untuk penguatan keamanan Indonesia di wilayah Pasifik.
Indonesia harus memilki Kapal Induk yang ditempatkan diwilayah pasifik untuk mencegah konflik terjadi. Juga perlunya modernisasi Armada Udara yang lengkap yang ditempatkan dibasis pertahanan seperti wilayah Biak, Jayapura, dan Merauke untuk mengantisipasi konflik diwilayah pasifik dan perbatasan. Selain itu, pembentukan Batalyon Tempur harus dilakukan diwilayah perbatasan Indonesia dengan PNG.
Jika kekuatan pertahanan tidak diperkuat dan dimodernisasi maka sewaktu-waktu jika konflik terjadi antara Amerika, Rusia, dan China diwilayah Asia Pasifik maka wilayah Indonesia akan menjadi korban, seperti filosofi yang kita kenal “Gajah Berantem Semut Mati Terinjak” atau perseteruan antara negara-negara berpengaruh dapat menyebabkan negara lain menjadi korban.
Selain itu, konflik lain yang berpotensi terjadi juga seperti: Pertama, Keberadaan sumber daya alam di Papua. Kedua, Indonesia dengan jumlah penduduk muslim mayoritas dan berbatasan langsung dengan negara Kristen. Ketiga, Keberadaan kelompok bersenjata yang terus mencari validasi dari kekuatan pertahanan luar negeri.
Penulis berharap strategi geodefense menjadi salah satu acuan untuk peningkatan kualitas pertahanan di Papua Dengan memanfaatkan kecerdasan geografis, perencanaan pertahanan dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya, meningkatkan kesadaran situasional, dan mengembangkan strategi respons yang efektif terhadap ancaman keamanan yang muncul.
Kolaborasi pemahaman terhadap ancaman yang muncul perlu untuk terus dilakukan dan pendekatan diplomasi luar negeri yang bebas aktif menjadi langkah efektif yang dilakukan dengan negara-negara yang memiliki kekuatan pertahanan besar. Namun, dalam melakukan diplomasi Indonesia perlu melihat deterent effect yang bisa menjadi peluang Indonesia untuk terlihat lebih kuat dalam pertahanan dan keamanannya.
Berdasarkan penjelasan di atas maka beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai tanggap dini adalah :
- Perkuat komitmen pertahanan Indonesia dengan membangun mindset pertahanan semesta masyarakat Indonesia.
- Modernisasi alat pertahanan Indonesia, dengan memperkuat industri pertahanan dan keamanan dalam negeri untuk menunjukan bahwa tidak ada ketergantungan alat pertahanan Indonesia dengan industri luar.
- Reposisi penempatan dan gelar pertahanan Indonesia yang disesuaikan dengan dinamika geopolitik global.
- Tidak mengizinkan pembangunan pangkalan militer negara lain di Indonesia, namun perkuat Latihan bersama dan buka kemungkinan pos militer bersama untuk menciptakan melting point antar militer dunia.
- Tingkatkan anggaran pertahanan untuk mendapatan pertahanan yang lebih kuat. Agar Indonesia dapat memiliki kapal induk, biaya perawatan kekuatan pertahanan yang cukup, serta memperbanyak Kerjasama pertahanan.
- Memperbanyak pertunjukan alat pertahanan yang dilakukan diwilayah timur Indonesia dan tengah Indonesia, agar tidak terpusat hanya diwilayah barat saja, dan terlihat pertahanan Indonesia timur lebih lemah dan tidak siap hadapi ancaman dari pasifik.
- Perbanyak ahli pertahanan dalam bidang teknologi pertahanan, khususnya dalam teknologi persenjataan nuklir, dan senjata pemusnah masal lainnya. Untuk menciptakan model persenjataan modern untuk Indonesia dalam 5-10 tahun kedepan. Kehadiran ahli nuklir dari Indonesia bisa dijadikan headline, dan ditempatkan di industri nuklir di negara sahabat.
- Propaganda informasi pertahanan militer Indonesia harus dilakukan secara berkala untuk mencipatakan detterent effect. Dengan pertunjukan tersebut, negara lain akan berpikir 10x untuk mau mencari masalah militer dengan Indonesia
- Memperkuat peta diplomasi bersama agar sinergi antara diplomasi pertahanan yang dilakukan oleh Kemeterian pertahanan dan diplomasi umum yang dilakukan oleh kementerian lembaga lainnya. Kerjasama yang dibangun antar negara tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi memiliki efek domino untuk pertahanan dan keamanan Indonesia.
- Memperkuat pangan nasional untuk dijadikan alat diplomasi pertahanan ke wilayah pasifik, seperti ke negara-negara Melanesia. Untuk menjaga kedaulatan Indonesia.
- Pengambilan kebijakan pertahanan harus diambil secara tegas.
- Visi pertahanan Indonesia harus menjadi Center of Defense. Dimana setiap negara dengan pertahanan yang kuat datang dan belajar dari Indonesia.
- Anitipasi perang kogitif, Pemerintah dan lembaga perlu memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa saat ini sedang terjadi perang kognitif, yaitu perang yang dilakukan dengan cara merusak mindset kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga rasa nasionalisme dan jiwa patriotisme masyarakat akan berkurang jika masyarakat tidak memiliki manajemen kritis untuk mengelola dan melakukan perbandingan atas setiap informasi yang didapatkan.
- Penutup
Peringatan dini ini bukanlah alarm bahaya, namun bentuk antisipasi awal, situasi terikini dalam kacamata penulis, dan arah yang bisa digunakan untuk mengawal wilayah kedaulatan indonesia kedepan. Arah kebijakan pertahanan Indonesia akan menjadi gambaran kokohnya Indonesia. Semakin baik Pertahanan Indonesia, maka Indonesia akan terus damai.
