Percepatan pembangunan Papua sebagaimana amanat dari Rencana Induk Percepatan Pembangunan Papua (RIPPP) 2022-2041 ditekankan pada upaya pengembangan SDM masyarakat Papua, sehingga dapat meningkatkan daya saing OAP dalam mewujudkan kondisi ekonomi, taraf hidup, dan kesejahteraan yang lebih baik.

Selama pandemi COVID-19, secara umum perekonomian Wilayah Papua masih mampu tumbuh positif. Berdasarkan data triwulanan, kontraksi ekonomi di Provinsi Papua Barat terjadi pada triwulan II-2021 (Gambar 4.3). Laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Papua tetap mampu tumbuh positif selama triwulan I hingga triwulan IV- 2021. Sementara itu, laju pertumbuhan negatif di Provinsi Papua Barat sebesar 2,69 persen dan 1,98 persen di triwulan II dan III-2021 diakibatkan oleh pandemi COVID- 19.

Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Papua dan Papua Barat (persen,yoy) Triwulan I-2019–Triwulan I-2022

Papua

Sumber; BPS

Pada triwulan I-2022, laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua dan Papua Barat mengalami penurunan. Namun demikian, Provinsi Papua tetap mampu tumbuh positif sebesar 13,33 persen karena didukung oleh meningkatnya pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 25,16 persen. Sementara itu, Provinsi Papua Barat mengalami laju pertumbuhan negatif sebesar 1,01 persen. Hal tersebut terjadi karena penurunan kinerja lapangan usaha penopang perekonomian Provinsi Papua Barat, terutama pada sektor industri pengolahan, pertambangan dan penggalian, serta konstruksi.

Pembangunan Wilayah Papua saat ini diarahkan pada pengembangan sumber- sumber pertumbuhan baru, di antaranya adalah KI Teluk Bintuni, KEK Sorong, DPP Raja Ampat, dan DP Pengembangan Biak-Teluk Cenderawasih. Namun demikian, kontribusinya terhadap sektor perekonomian di Wilayah Papua masih belum optimal dan perlu pengembangan dari berbagai sektor.

Capaian pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat juga ditunjukkan melalui indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), tingkat pengangguran terbuka, dan tingkat kemiskinan sebagaimana disajikan pada Tabel 4.8. Nilai IPM Provinsi Papua pada tahun 2020, yaitu 60,44; dan mengalami peningkatan di tahun 2021 menjadi 60,62. Hal tersebut terjadi karena peningkatan komponen pada angka harapan hidup (AHH), harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS), dan pengeluaran per kapita. Sementara itu, IPM Provinsi Papua Barat tahun 2020, yaitu 65,09, mengalami peningkatan di tahun 2021 menjadi 65,26 yang didorong oleh peningkatan komponen AHH, HLS, dan RLS.

Artikel Terkait

Leave a Comment