Pimpinan OPM Nduga Egianus Kogoya

Penyangkalan Pembunuhan Anak Kepala Kampung oleh Sebby Sambom untuk Adu Domba Masyarakat dan Pemerintah

by Laura Felicia Azzahra
Pimpinan OPM Nduga Egianus Kogoya

nusarayaonline.id – Seperti tak puas dengan aksi penyanderaan Pilot Susi Air yang saat ini telah genap satu bulan lamanya. Panglima Komando Daerah Perang III Ndugama wilayah Nduga, Egianus Kogoya kembali bertindak brutal dengan membunuh seorang anak berusia 8 tahun. Diketahui bahwa korban merupakan anak dari Kepala Kampung Pimbinom, Distrik Kuyugawe, Kabupatan Lanny Jaya Papua Pegunungan. Berdasarkan keterangan dari Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz 2023, Kombes Faizal Ramadani yang dilansir dari sejumlah pemberitaan media bahwa pembunuhan tersebut dilakukan karena Kepala Kampung Pimbinom 55 menolak memberi bantuan bahan makanan kepada kelompok Egianus Kogoya. Insiden penembakan tersebut diyakini telah dilakukan oleh OPM pimpinan Egianus Kogoya setelah terdapat pemeriksaan terhadap sejumlah saksi.

Sementara itu, di wilayah lain juga terjadi kontak tembak antara aparat TNI dan TPNPB di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak di Kabupaten Puncak Papua. Berdasarkan pernyataan dari Kapendam XVII/ Cenderawasih Kolonel Kav Herman Taryaman dijelaskan bahwa gerombolan kelompok separatis telah menyerang dan menembak personil pos Sinak Satgas Yonif Raider 303/SSM di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak. Kronologi kejadian bermula saat gerombolan OPM menembak warga sipil atas nama Tina Murib di Kampung Pamebut, Distrik Yugumuak, Kabupaten Puncak. Kemudian aparat TNI mengevakuasi korban ke Puskesmas Sinak, namun saat perjalanan dihadang dan ditembak oleh gerombolan OPM. Atas insiden tersebut menyebabkan Praka JM tertembak hingga meninggal dan akhirnya terjadi kontak tembak.

Keterangan dari Koordinator Pemuda Puncak Timur Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Neison Telenggen menyebut bahwa saat aparat TNI mengejar TPNPB terdapat seorang ibu yang tertembak serta 8 warga sipil lainnya yang mengalami luka tembak saat hendak melarikan diri dari kejadian tersebut. Sementara itu, Komando Daerah Perang Sinak, Kalebak Murib dengan entengnya membantah bahwa pihaknya tidak menembak warga sipil. Ia justru menuding bahwa yang melakukan adalah pasukan TNI saat mengejar kelompoknya di Kampung Winisu.  

Pernyataan bantahan juga disampaikan oleh juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom terkait insiden pembunuhan anak kepala kampung di Lanny Jaya. Ia dengan entengnya menyebut bahwa hal tersebut tidak benar dan diklaim sebagai propaganda murahan oleh TNI dan Polri.

Sosok Kejam Egianus Kogoya Tega Bunuh Warga Sipil Papua

Nama Egianus Kogoya memang semakin moncer setelah menyatakan membakar pesawat serta menyandera pilot Susi Air. Namun jauh sebelum itu, namanya juga telah tenar selain sebagai generasi penerus OPM, juga sejumlah aksi penyerangan yang dilakukannya dimana tak jarang menimbulkan korban jiwa. Nama Egianus Kogoya pernah menjadi perbincangan publik pasca pernyataannya bertanggung jawab terhadap penyerangan di Kabupaten Nduga dimana menewaskan 10 masyarakat sipil beberapa tahun silam. Dari sejumlah pemberitaan media, Egianus Kogoya memang kerap melakukan aksi penyerangan. Ia merupakan putra dari seorang tokoh OPM yang telah meninggal, yakni Silas Kogoya yang juga pernah terlibat dalam penyanderaan 26 anggota tim ekspedisi Lorentz 95 di Mapenduma tahun 1996. Sebagai seorang pemimpin kelompok bersenjata, Egianus Kogoya tergolong masih muda karena kelahiran tahun 1999. Dalam aksinya, dirinya saat itu diperkirakan memiliki anggota sekitar 50 orang. Mereka tercatat terlibat sejumlah aksi penyerangan, mulai dari penembakan pesawat Twin Otter PHK-HVU pada 2018, penyanderaan guru dan tenaga medis di Distrik Mapenduma, hingga penyekapan dan pembunuhan pekerja PT Istaka Karya di Bukit Puncak Kabo pada Desember 2018. Mereka juga terlibat aksi perampasan dua pucuk senjata api dari anggota Brimob di Papua. Egianus Kogoya juga disebut-sebut terlibat dalam aksi penyelundupan 615 butir amunisi berikut sepucuk senjata api jenis FN yang kemudian diungkap aparat kepolisian. Aksi penyelundupan amunisi dan senjata api ke kelompok Egianus Kogoya terungkap saat polisi melakukan razia di Kabupaten Yalimo pada Rabu 29 Juni 2022 lalu.

Di sisi lain, Egianus Kogoya ternyata memiliki jejak hitam yang harus diwaspadai bahkan untuk anggota kelompoknya sendiri. Sebuah cerita pernah disampaikan oleh mantan anggotanya yang saat ini telah menyatakan kembali kepada NKRI. Adalah Tenius Tebuni yang secara tegas membongkar kebohongan para dedengkot kelompok separatis tersebut. Selama bergabung dengan Egianus, ia sering kelaparan di hutan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut para anggota kelompok separatis harus memeras masyarakat yang merupakan warga kampungnya sendiri, bahkan tak segan-segan membunuhnya. Saat itu, alasan dirinya bergabung dengan Egianus Kogoya karena dijanjikan kehidupan serba mudah dimana segala kebutuhan akan dipenuhi termasuk diberikan banyak uang. Namun seiring berjalannya waktu, ia sadar telah ditipu. Dalam cerita tersebut, dijelaskan juga bahwa kelompok separatis Papua tidak solid karena selalu terpecah-pecah dan bergerak sendiri-sendiri. Alasan hampir serupa juga diungkapan sejumlah mantan anggota kelompok separatis Papua, salah satunya Purom Wenda. Dirinya mengaku diberikan janji-janji manis yang ternyata hanya kebohongan belaka.

Adanya kejadian pembunuhan terhadap anak kepala kampung di Lanny Jaya membuktikan bahwa upaya bertahan seorang Egianus Kogoya adalah dengan memanfaatkan warga sipil untuk dipaksa membantu. Hal ini masih menjadi strategi lawas yang dilakukan kelompoknya. Sebelumnya, kejadian gelombang pengungsian warga sipil di distrik Paro juga karena alasan adanya ancaman dari kelompok Egianus Kogoya. Meski bersifat keji dan brutal, namun strategi lawas kelompok separatis tersebut sebenarnya memiliki banyak celah yang dapat dimanfaatkan aparat TNI/Polri yang saat ini tengah berupaya membebaskan sang pilot. Kelompok Egianus Kogoya memiliki sikap temperamen dalam upaya mencari dukungan. Mereka akan kehilangan logika kemanusiaan jika kebutuhan logistik sedang menipis.

Penyangkalan Juru Bicara TPNPB OPM Sebby Sambom untuk Adu Domba Masyarakat dan Pemerintah

Tindakan penyangkalan yang dilakukan juru bicara TPNPB-OPM terhadap sejumlah aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompoknya bukanlah hal baru. Selain bermain gertakan dengan modus pernyataan bahwa pihaknya bertanggung atas sejumlah aksi penyerangan. Sisi lain seorang Sebby Sambom juga dikenal sebagai penyebar isu hoaks ulung, utamanya berkaitan dengan situasi wilayah rawan di Papua.

Berdasarkan track record di media, terdapat isu yang bersumber dari pernyataannya namun setelah dikroscek tidak benar atau tidak pernah terjadi. Strategi penggunaan isu hoaks selain untuk memicu keresahan publik, ternyata juga dilakukan sebagai upaya untuk berkelit dari sejumlah kesalahan yang pernah dilakukan. Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III pernah meluruskan hoaks tentang tewasnya tiga wanita di Kabupaten Puncak Papua yang ditembak aparat militer Indonesia. Kabar tersebut beredar dari pemberitaan sebuah media online oposisi. Kabar hoaks tersebut sengaja disebarkan oleh kelompok separatis Papua. Secara tegas, Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suristiawa mengatakan, tidak ada kejadian seperti yang diberitakan. Kelompok separatis OPM yang didukung oleh front politik dan klandestin di antaranya jurnalis, media dan pegiat media sosial secara aktif menyebarkan hoaks untuk menyudutkan pemerintah. Apabila teroris OPM membakar sekolah, membunuh guru dan menebar teror lain, pendukung mereka sengaja untuk berdiam dan tidak komentar apa-apa. Hoaks tersebut juga turut disebarkan oleh aktivis pro Papua merdeka dengan tujuan memfitnah tim gabungan TNI-Polri.

Penggiringan opini melalui hoaks dibuat untuk menarik perhatian publik, Pendukung separatis OPM juga pernah menyebar fitnah terkait hancurnya Gereja Kingmi yang bertujuan memprovokasi jemaat gereja, baik lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu faktor strategi hoaks dilancarkan adalah karena terdesaknya posisi kelompok separatis. Di lain kesempatan, juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom juga pernah menyebarkan isu yang menyebutkan bahwa TNI-Polri melempar bom ke perkampungan penduduk di Papua. Dalam tuduhannya, aparat dengan kekuatan penuh dilengkapi dengan pasukan khusus bernama Pasukan Setan menyerang perkampungan penduduk lokal di Ilaga. Terdapat 40 kali serangan udara dari TNI-Polri. Serangan tersebut diklaim menggunakan helikopter. Sebelumnya Sebby Sambom juga sempat mengklaim bahwa aparat keamanan TNI-Polri telah menewaskan remaja berusia 17 tahun. Padahal, nyatanya dua anggota Kelompok Separatis Papua yang tewas dalam kontak senjata dengan TNI-Polri dipastikan telah berusia dewasa. Sebby secara sengaja menebar hoaks soal tewasnya remaja berusia 17 tahun, untuk memunculkan kesan negatif terhadap TNI-Polri.

Adanya kejadian terbaru saat ini terkait penyangkalan terhadap kasus pembunuhan anak dari Kepala Kampung Pimbinom, Distrik Kuyugawe, Kabupatan Lanny Jaya bisa dipastikan adalah upaya seorang Sebby Sambom untuk mengadu domba masyarakat dan pemerintah Indonesia.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment