Ilustrasi Rumah Honai yang Terbakar

Pasca Serang Personel TNI, OPM Kembali Lancarkan Hoaks Sebut Aparat Bakar Honai di Intan Jaya

by Laura Felicia Azzahra
Ilustrasi Rumah Honai yang Terbakar

nusarayaonline.id – Tindakan anarkis kembali dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua dengan aksi pembakaran. Sejumlah rumah tradisional atau honai milik masyarakat pegunungan di Kampung Mbamonggo, Distrik Agisiga, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah diketahui terbakar pada 11 April 2023 lalu. Kejadian tersebut terjadi setelah sehari sebelumnya kelompok separatis tersebut menyerang aparat keamanan di Distrik Sugapa pada Minggu 9 April 2023 hingga menewaskan seorang prajurit. Berdasarkan pernyataan Danrem 173/PVY Brigjen Sri Widodo bahwa kelompok separatis di bawah pimpinan Aibon Kogoya sengaja membakar rumah honai warga untuk melancarkan propaganda isu hoaks dengan menyatakan yang membakar adalah pihak TNI. Diketahui bahwa para pelaku penembakan dan pembakaran adalah kelompok Raja Aibon yang merupakan bagian dari kelompok Undius Waker.

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Kav Herman Taryaman juga menjelaskan bahwa modus dan praktek tersebut identik dengan ulah kelompok teroris. Masyarakat mulai resah dan berani melaporkan kepada aparat keamanan tentang ulah pembakaran honai milik warga. Diceritakan bahwa saat pihak TNI mengetahui adanya pembakaran honai, dengan sigap personel dari Satgas YPR 305/Tengkorak melakukan pengecekan di sekitar lokasi pembakaran. Alhasil, ditemukan barang-barang milik anggota kelompok separatis berupa senapan angin, beberapa butir munisi, bendera bintang kejora dan teropong siang. Untuk diketahui, lokasi pembakaran rumah honai oleh kelompok separatis berada di kampung Mbamoggo. Setelah membakar, kemudian mereka meninggalkan lokasi. Aparat TNI kemudian melakukan siaga mengantisipasi adanya pembakaran Honai, sekaligus untuk melindungi masyarakat yang berada di sekitar perkampungan tersebut.

Propaganda Isu Hoaks Kelompok Separatis Papua untuk Tutupi Kesalahan

Munculnya isu hoaks yang disampaikan oleh kelompok separatis Papua kepada aparat TNI dan Polri bukanlah kali pertama terjadi. Menjadi hal yang beberapa kali dilakukan kelompok tersebut semata-mata untuk menutupi sejumlah aksi yang sebelumnya dilakukan bahkan hingga memakan korban jiwa. Strategi penggunaan hoaks juga digunakan kelompok separatis, selain untuk memicu keresahan publik, juga sebagai media untuk berkelit dari kesalahan yang pernah dilakukan. Sejumlah rentetan kejadian pernah menjadi jejak yang tak terlupakan dalam manuver kelompok separatis di wilayah Papua.

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III pernah meluruskan hoaks tentang tewasnya tiga wanita di Kabupaten Puncak Papua yang disebut ditembak oleh aparat militer Indonesia. Kabar tersebut beredar dari pemberitaan sebuah media online partisan yang berpihak pada kelompok separatis. Secara tegas, Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suristiawa mengatakan, tidak ada kejadian seperti yang diberitakan. Untuk diketahui bahwa kelompok separatis OPM yang didukung oleh front politik dan klandestin di antaranya jurnalis, media dan pegiat media sosial secara aktif menyebarkan hoaks untuk menyudutkan pemerintah. Apabila teroris OPM membakar sekolah, membunuh guru dan menebar teror lain, para pendukung dan simpatisan tersebut memilih berdiam diri tidak berkomentar apapun. Namun ketika terdapat korban dari pihak OPM, maka mereka bersikap sigap dengan narasi provokatif.  Hoaks yang mereka ciptakan juga didukung dan disebarkan oleh aktivis pro Papua merdeka dengan tujuan memfitnah tim gabungan TNI-Polri agar tak mendapat kepercayaan masyarakat hingga dunia internasional.

Pendukung separatis OPM juga pernah menyebar fitnah terkait hancurnya Gereja Kingmi yang bertujuan memprovokasi jemaat gereja, baik lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu faktor strategi hoaks dilancarkan adalah karena terdesaknya posisi kelompok separatis. Di lain kesempatan, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-OPM (TPNPB-OPM) Sebby Sambom juga pernah menyebarkan isu yang menyebutkan bahwa TNI-Polri melempar bom ke perkampungan penduduk di Papua. Dalam tuduhannya, aparat dengan kekuatan penuh dilengkapi dengan pasukan khusus bernama Pasukan Setan menyerang perkampungan penduduk lokal di Ilaga. Terdapat 40 kali serangan udara dari TNI-Polri. Serangan tersebut diklaim menggunakan helikopter. Menanggapi hal tersebut, Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes Pol Iqbal Alqudusy menegaskan, bahwa kabar tersebut adalah hoaks. Dirinya mengimbau agar masyarakat tidak mempercayai informasi tersebut. Untuk diketahuti bahwa Sebby Sambom adalah juru bicara yang sudah tidak diakui lagi oleh TPNPB.

Sebelumnya Sebby Sambom juga sempat mengklaim bahwa aparat keamanan TNI-Polri telah menewaskan remaja berusia 17 tahun. Padahal, nyatanya dua anggota Kelompok Separatis Papua yang tewas dalam kontak senjata dengan TNI-Polri dipastikan telah berusia dewasa. Hal tersebut dibenarkan oleh Kapolres Mimika AKBP I Gustri Era Adinata. Sebby secara sengaja telah menebar hoaks soal tewasnya remaja berusia 17 tahun, untuk memunculkan kesan negatif terhadap TNI-Polri.

Selanjutnya, dalam sebuah pemberitaan dari kantor berita Inggris Reuters pertengahan tahun lalu, disebutkan bahwa hampir 2.500 mortir dari Serbia dibeli Badan Intelijen Negara (BIN) kemudian dimodifikasi untuk menumpas kelompok separatis Papua. Sumber pemberitaan tersebut diperoleh dari sebuah lembaga riset bernama Conflict Armament Research (CAR) yang berbasis di London, Inggris. Namun, Reuters sebagai media yang memberitakan tak dapat secara independen mengonfirmasi aspek-aspek tertentu dari laporan CAR, termasuk apakah BIN telah menerima kiriman tersebut. Menjawab tuduhan tersebut, BIN melalui Deputi II Bidang Intelijen Dalam Negeri, Mayjen TNI Edmil Nurjamil membantah laporan dari CAR. Menurutnya, pihaknya tak memiliki peralatan tersebut. Mortir yang dimaksud adalah milik TNI yang juga telah diakui oleh Pangdam di wilayah Papua. Dalam pemberitaan media online Kompas.com 1 Desember 2021, Pangdam Cenderawasih kala itu, Mayjen Ignatius Yogo Triyono membenarkan bahwa pasukannya menembakkan mortir di Kiwirok.

Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Ryanta turut menyoroti adanya tudingan BIN menggunakan mortir dari Serbia di Papua. Dirinya tidak heran dengan adanya hoaks yang beredar. Pasalnya, para simpatisan dan pendukung separatisme di Papua beberapa waktu lalu juga menyebarkan video suntingan yang bermaksud menyudutkan pemerintah Indonesia. Secara Teknik, tudingan tersebut merupakan strategi dari kelomok separatis untuk mendapatkan simpati yang disebut active measures. Yakni suatu strategi perang politik yang dalam sejarahnya dulu pernah digunakan Uni Soviet pada dekade 1920an. Strategi propaganda dengan menyebarkan disinformasi biasa digunakan oleh kelompok separatis di mana pun di dunia. Skenarionya yakni menyebarkan informasi palsu yang menyudutkan pemerintahan sah. Pihak pendukung separatisme di Papua sudah terbiasa menyebarkan propaganda dan hoaks untuk menyudutkan otoritas negara dan mencari dukungan dunia internasional.

Sejumlah Upaya untuk Mewaspadai Isu Hoaks oleh Kelompok Separatis Papua

Pada akhirnya, sebagai masyarakat yang melek informasi dan media, menjadi tanggung jawab bersama untuk mampu bersikap kritis serta memperhatikan sepak terjang kelompok separatis Papua dalam bermanuver. Sejumlah langkah perlu dilakukan untuk mengantisipasi isu hoaks yang kerap dibuat tersebut. Diantaranya, Periksa sumber informasi: Pastikan Anda hanya memperoleh informasi dari sumber yang terpercaya. Hindari mengandalkan informasi yang tidak jelas atau tidak jelas asal usulnya. Verifikasi informasi: Lakukan verifikasi terhadap informasi yang Anda terima, terutama jika informasi tersebut bersifat kontroversial atau menyebabkan ketakutan. Pastikan informasi tersebut telah diverifikasi dan benar-benar terjadi. Hindari menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.

Kemudian, sebelum menyebarkan informasi, pastikan bahwa informasi tersebut telah diverifikasi dan memang benar adanya. Hindari menyebarkan informasi yang belum diverifikasi atau bersifat spekulatif. Gunakan media sosial dengan bijak: Media sosial merupakan sumber informasi yang sangat mudah diakses, namun seringkali terdapat informasi yang belum diverifikasi atau bahkan hoaks. Oleh karena itu, gunakan media sosial dengan bijak dan jangan mudah percaya pada informasi yang tersebar di media sosial. Cari informasi dari sumber yang terpercaya: Cari informasi dari sumber yang terpercaya seperti media mainstream, organisasi pemerintah, atau lembaga swadaya masyarakat yang terpercaya. Pastikan informasi tersebut telah diverifikasi dan memiliki sumber yang jelas. Terakhir, Laporkan informasi hoaks: Jika Anda menemukan informasi hoaks, segera laporkan ke pihak yang berwenang seperti kepolisian atau lembaga yang bertugas menangani hoaks. Hal ini penting untuk mencegah penyebaran informasi yang salah dan mengurangi dampak negatif dari informasi tersebut.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment