Papua Hidup Rukun dan Sejahtera dalam Naungan NKRI

by Laura Felicia Azzahra

nusarayaonline.id – Pendeta Saifuddin Ibrahim yang menjadi sorotan karena sempat hina Al-Quran, kini mengklaim bahwa semua pendeta di Papua ingin merdeka. Pernyataan itu disampaikan Saifuddin melalui kanal Youtube pribadinya.

Pengakuan tersebut jelas hanyalah ucapan sembarang yang tidak berdasarkan kajian maupun fakta. Pasalnya, para tokoh agama di Papua termasuk pendeta ramai menyerukan perdamaian dan menghentikan segala konflik yang ada sehingga kemudian seluruh masyarakat Papua dapat menjalani kehidupan yang rukun serta sejahtera dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai contoh, Pendeta Ferdinans atau akrab disapa pendeta Fery yang merupakan wakil ketua hubungan gereja dan masyarakat, klasis GPI Papua di Mimika, memberikan apresiasi kepada pemerintah karena selama ini telah memberikan banyak inovasi. Ia juga berterimakasih kepada TNI/Polri yang banyak bergumul mengenai persoalan kamtibmas demi ketenangan masyarakat.

Ia berharap agar masyarakat terus mendukung dan mendoakan para pemimpin maupun TNI/Polri agar bisa menjaga dan memberi kesejahteraan bagi masyarakat melalui visi dan misi pembangunan disertai kondisi yang aman,damai dan sejahtera. Pendeta Fery juga mengimbau anak-anak muda untuk berhenti melakukan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri. Generasi muda Papua harus bisa hidup lebih baik, tidak ugal-ugalan, bisa membanggakan orang tua, serta hindari seks bebas dan narkoba yang bisa merusak. Begitupun orang tua, ia menghimbau agar setiap orang tua wajib menjalankan peran orang tua dengan baik.

Selain itu, ia mengajak seluruh masyarakat untuk selalu bersatu meskipun berbeda pandangan. Ia berharap kepada semua sebagai masyarakat, tokoh masyarakat baik itu tokoh agama, adat, perempuan pemuda, dan juga dalam kehidupan bermasyarakat, agar menjadi pelopor dan perintis untuk menciptakan rasa aman, damai, dan menjunjung tinggi toleransi dalam kehidupan bersama. Mulai dari pribadi, keluarga, lalu terpancar dalam lingkungan sekitar. Masyarakat harus selalu menaati norma-norma yang telah diatur oleh wakil Allah di dunia ini yaitu pemerintah, TNI/Polri, dan lainnya demi keselamatan bersama.

Pendeta Papua Dukung Otsus dan DOB

Tokoh agama suku Dani, Pendeta Nekies Kogoya, mengaku sangat mendukung adanya pemekaran DOB di Papua. sebab, akan sangat membawa dampak perubahan bagi masyarakat kecil di tanah Papua, yang mana pembangunan dari segala bidang dapat semakin dirasakan sehingga rakyat Papua akan menjadi lebih maju dan sejahtera.

Menurutnya, sebagai pemuka agama, dirinya harus taat kepada pemerintah. Apalagi jika ada kebijakan yang akan membawa dampak kepada kesejahteraan rakyat. Nakies Kogoya juga menyebut, pihaknya terus berupaya untuk melakukan koordinasi serta komunikasi dengan pihak keamanan untuk turut serta membantu dalam menciptakan situasi Kamtibmas yang aman dan kondusif.

Sementara itu, Tokoh Gereja Kemah Injili Masehi Indonesia (Kingmi), Pendeta Dr. Yones Wenda, S.Th., M.Th., yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Sinode Gereja Kingmi di Tanah Papua, menyatakan dukungannya terhadap pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Provinsi Papua. Ditegaskan, bahwa kubu yang menolak DOB yang selama ini berkoar-koar, hanya memuat kepentingan orang-orang tertentu sehingga tidak mereprentasikan masyarakat Papua secara utuh.

Menurut Yones Wenda, pihaknya yang setia berideologi Pancasila merasa aspirasi mendukung DOB dari masyarakat Papua sangat penting untuk didengarkan pemerintah. Terlebih, diyakini akan ada banyak manfaat DOB bagi masyarakat, salah satunya adalah tersedianya tempat untuk bekerja bagi para anak muda. Yones Wenda pun menekankan terkait kebanggaan orang Papua terhadap kebijakan Otonomi Khusus (Otsus), lantaran banyak yang terbantu, khususnya orang tua yang tidak mampu membiayai sekolah, kesehatan, dan lainnya yang kini dapat teratasi dengan baik.

Keterlibatan Pihak Gereja dalam Gerakan Papua Merdeka Bertentangan dengan Ajaran Injil

Pendeta Yones Wenda mengajak para tokoh gereja (pendeta/pastor) untuk lebih menekankan ajaran cinta damai kepada para jemaat. Hal ini sesuai dengan tugas utama pendeta sebagai pemimpin rohani gereja serta dalam rangka memelihara, melindungi, dan menjaga kehidupan spiritual jemaatnya. Dikatakan, bahwa Gereja tidak perlu terpancing untuk mengikuti atau bahkan terlibat dalam berbagai aktivitas yang berada di luar kewenangan gereja atau diluar urusan kerohoaniaan, seperti masalah dukungan terhadap gerakan Papua Merdeka atau intervensi perihal Otsus yang jelas-jelas masuk ke ranah politik. Sikap itu bukanlah kewenenangan atau tugas gereja. Dan seperti yang diketahui, Papua merupakan bagian dari NKRI.

Keterlibatan pihak gereja dalam memberikan dukungan kepada kelompok pemberontak (pro Papua Merdeka) yang kerap kali melakukan aksi kekerasan terhadap aparat TNI/Polri dan penduduk sipil setempat sangat bertentangan dengan ajaran Injil. Kalau gereja mempengaruhi masyarakat untuk membunuh orang, itu merupakan tanggung jawab besar antara hamba Tuhan dengan Tuhan.

Ia juga mengingatkan para tokoh gereja Papua yang pro terhadap gerakan Papua Merdeka untuk tidak lagi menggunakan lambang-lambang atau logo Injil Empat Berkatan yang selama ini dipakai demi mendapatkan bantuan dari Dana Otsus. Ditegaskan lagi bahwa tokoh agama dan pemuda KINGMI Papua mendukung penuh pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua serta mendukung terciptanya situasi Kamtibmas yang aman dan damai di Tanah Papua.

Masyarakat dan Pendeta Papua Tolak KSTP

Kelompok Separatis dan Teroris Papua (KSTP) Papua adalah gerombolan bersenjata yang merupakan kaki-tangan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mereka ngotot untuk membelot dan tidak mau menuruti segala peraturan dari pemerintah. Namun malah meneror masyarakat demi mewujudkan permintaannya yakni memerdekakan diri dan membentuk Republik Federal Papua Barat.

Akhir-akhir ini muncul klaim dari KSTP bahwa mereka didukung oleh rakyat Papua. Namun hal ini langsung dibantah oleh Pendeta Jupinus Wama. Menurut Pendeta Jupinus, salah besar jika KSTP dicintai rakyat. Kenyataannya, mereka justru melakukan aksi teror, tak hanya ke warga sipil tetapi juga ke aparat keamanan. Bahkan, KSTP sungguh tidak berperikemanusiaan karena tega menggauli dan melecehkan gadis-gadis Papua.

Masyarakat Papua juga tidak mau bergaul dengan KSTP karena yang mereka serang bukan hanya pendatang, tetapi juga orang asli Papua. Betapa mereka tega membunuh saudara sesukunya sendiri dan KSTP selalu menuduh bahwa yang dibunuh adalah mata-mata aparat. Padahal hanya warga sipil biasa.

Masyarakat Papua tidak mau mendukung KSTP karena di dalam diri mereka punya rasa nasionalisme yang tinggi. Secara jelas, Papua adalah bagian dari Indonesia. Tidak ada yang namanya kemerdekaan karena memang lebih enak dan nyaman menjadi bagian dari NKRI. Apalagi di masa pemerintahan Presiden Jokowi, di mana Papua amat diperhatikan sehingga masyarakatnya makin cinta Indonesia.

Saifuddin Ibrahim Sosok Kontroversial

Nama Saifuddin Ibrahim viral beberapa waktu yang lalu karena dianggap menistakan agama. Hal tersebut lantaran pernyataannya yang kontrovesial karena meminta kepada Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, untuk menghapus 300 ayat Al-Qur’an yang dinilainya memicu hidup intoleran. Tak hanya itu, Saifuddin Ibrahim juga meminta kurikulum sekolah Islam dirombak karena dianggapnya tidak benar. Buntut ucapannya itu, dirinya pun dijadikan tersangka atas dugaan penistaan agama.

Pernyataan Saifuddin itu direspons oleh sejumlah pihak. Bahkan, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menilai pernyataan Saifuddin itu sebagai penistaan terhadap Islam. Mahfud menegaskan bahwa Saifuddin telah membuat gaduh dan memantik kemarahan banyak orang. Menurutnya, yang bersangkutan diduga menafsirkan atau memprovokasi antar umat beragama dengan pernyataannya. Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis sempat menyatakan bahwa Saifuddin perlu diperiksa zahir batinnya oleh aparat.

__
Eri Wenda
(Ketua INSAN Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment