NII Crisis Center – Waspada Makar Berkedok Agama

by Laura Felicia Azzahra

Belakangan Indonesia dikejutkan dengan kemunculan Khilafatul Muslimin, sebagai organisasi dengan paham radikalisme yang dengan beraninya mengibarkan bendera khilafah di bumi pertiwi. Sejarah tumbuhnya organisasi radikalisme dan para pengikutnya yang anti Pancasila dengan berkedok agama ini, di mulai dari NII (Negara Islam Indonesia) pada tahun 1949 dikepalai oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, di Desa Cisampang, Tasikmalaya, Jawa Barat. Sedikit banyak orang tahu bahwa Kartosoewirjo ini adalah seorang politisi, yang pastinya bergerak rakus akan kekuasaan.

NII sendiri merupakan gerakan ideologis dan intoleran yang telah berhasil berkembang hingga keluar pulau Jawa. Meski sudah ditutup organisasinya, nyatanya jiwa para pengikut NII tidak bisa dibendung dalam mempelopori gerakan-gerakan baru. Tutup satu, tinggal ganti nama saja. Mereka tumbuh dan hidup untuk melanjutkan garis perjuangan dan mempertahankan tujuan ideologisnya, yaitu menghancurkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, dengan menjadikan Indonesia sebuah negara Islam. Gerakan nyata terorisme dengan latar belakang NII termasuk Bom Bali, Bom Kedutaan Besar Amerika di Indonesia, Bom Buku, dan lain-lain.

Strategi senyap pergerakan mereka berkembang semakin handal dari waktu ke waktu. Kalau dahulu mereka memiliki strategi dan pola gerakan dengan menguasai wilayah, dewasa ini mereka menjalankan strategi dengan lebih lembut yang menyentuh hati dan pikiran masyarakat secara massif dengan bai’at dan doktrin. Pergerakan tanpa angkat senjata ini, membuat semakin sulitnya melumpuhkan mereka.

Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, S.I.P, Selaku kepala staf kepresidenan mengatakan “lebih dahsyat lagi mereka bergerak dengan cara menyembunyikan diri taqiyyah, berkamuflase agar tidak dikenali dari awal, sehingga memiliki keleluasaan untuk bergerak mempengaruhi orang lain.”. Ironisnya pergerakan dengan cara NII ini sudah berhasil menyusupi dan menodai ideologi masyarakat dari hampir semua kalangan seperti ASN, Aparat Negara, Mahasiswa, termasuk pengusaha. Untuk itu, berhati-hatilah dan tetap selalu waspada, Hendaklah selalu bersikap tabayyun dan jangan sampai jadi korban yang hati dan pikirannya, dimanfaatkan oleh manusia yang rakus akan kekuasaan. Mencoreng agama, demi kepentingan politik belaka.

Artikel Terkait

Leave a Comment