Bukan sebuah kebetulan ketika seorang Anies Baswedan memilih Papua menjadi salah satu wilayah yang dikunjungi dalam safari politiknya. Sejumlah misi, yang terkandung entah di diri pribadi atau partai NasDem yang mengusungnya menjadi hal yang harus kita cermati. Wilayah Papua yang sebelumnya merupakan lumbung suara partai Demokrat mencoba ‘dijajal’ oleh Anies Baswedan dalam upaya mencari dukungan menuju tahun politik 2024.
Seperti yang kita ketahui bahwa Anies Baswedan merupakan salah satu tokoh politik yang sempat membuat heboh lantaran keberpihakannya terhadap kelompok-kelompok radikal dalam ajang pemilihan Gubernur DKI. Kontestasi tersebut yang kemudian melahirkan jurang kubu antara kelompok pendukung dan diluar kelompok pendukung dengan melibatkan agama atau ideologi sebagai dasar pembatas. Menjadi sebuah inkonsistensi jika sebelumnya Anies sering hadir dalam kegiatan FPI serta sejumlah kelompok Islam garis keras lainnya, kemudian saat ini bersedia hadir dalam perayaan natal di Papua, bahkan sebagai pembicara. Sungguh, dinamika politik tidak bisa berbanding lurus dengan ideologi atau keyakinan beragama. Karena pada dasarnya, politik merupakan upaya menuju tampuk kekuasaan sehingga siapapun yang berada dibelakangnya untuk mendukung pasti akan disambut. Tak peduli dari latar belakang manapun.
Sehingga kepada seluruh masyarakat Papua agar bersikap waspada terhadap kedok safari politik tersebut yang berbau politik identitas. Jangan sampai wilayah Papua tertular oleh hiruk pikuk perpolitikan DKI Jakarta yang berakhir pada jurang kubu kelompok berdasar identitas yang rawan terjadi konflik.

