Adanya radikalisme yang mengatasnamakan agama di kampus saat ini sudah sangat membahayakan. Banyak kampus ternama saat ini banyak melaporkan adanya perubahan fikiran dan tindakan mahasiswa yang telah dipengaruhi oleh paham radikalisme. Radikalisme di kampus ini menunjukkan pengaruh yang dapat memicu adanya gesekkan sosial maupun dampak negative terhadap keluarga dari mahasiswa yang terkena paham radikal ekstrim.

Diantara beberapa kampus yang terkenal, khususnya kampus yang berbasis agamis lebih banyak mendapatkan paparan paham radikalisme, salah satunya adalah kampus UIN yang sebanyak 50% mahasiswinya dinyatakan telah terpapar paham radikalisme. Kita tidak dapat menyalahkan kampusnya, karena pergerakkan radikalisme terbagi dua kelompok yaitu kelompok radikal lokal seperti kelompok NII (Negara Islam Indonesia) yang bergerak seperti virus yang tidak terlihat sehingga dampak paparannya tidak dapat langsung diketahui oleh lingkungan. Untuk kelompok kedua yang mengusung konsep khilafah yang turun kejalan untuk mencari simpati dari masyarakat.
Mahasiswa/i yang telah terpapar oleh paham radikalisme memiliki pola perilaku yang dapat menyebabkan konflik di dalam lingkungan sosial mereka karena adanya gesekkan sosial. Virus radikalisme ini tidak langsung dirasakan oleh orangnya, tetapi dampak yang ditimbulkan sangat berpengaruh negatif terhadap lingkungannya maupun orang-orang terdekatnya.
Pola interaksi yang dilakukan oleh kelompok radikalisme ini memiliki proses screening serta pendekatan menggunakan forum diluar kampus untuk perekturan korbannya. Dialog yang digunakan disesuaikan dengan hobby dan kesukaan dari korbannya yang akan direkrut. Tidak menutup kemungkinan adalah bahwa 1 korban terdapat 5 perekrut yang terus memberikan emosi positif dan simpati terhadap korban, sehingga korban merasakan adanya orang orang yang setuju dengan pemikirannya untuk menjalankan serta menerapkan paham radikalisme tersebut.
Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk dapat mengawasi komunikasi serta pergaulan anaknya yang sedang berkuliah karena hal ini dapat memberikan perlawanan untuk paham radikal yang terpapar maupun dalam proses perekrutan agar tidak mendapatkan pengaruh lebih jauh maupun direkrut lebih dalam oleh kelompok-kelompok radikal.
Terdapat kasus di UGM, salah satunya sebuah keluarga yang kehilangan anaknya karena telah berubahnya pola fikir dan sikapnya terhadap orang tuanya. Dampak dari terpaparnya paham radikal ini menyebabkan anak tersebut menjadi tidak patuh terhadap orang tua serta anti terhadap Pemerintah. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan ajaran islam sebenarnya yang mengharuskan untuk patuh kepada kedua orang tua, bukan sebaliknya.
Disi lain, untuk dapat mengantisipasi adanya penyebaran paham radikal ini, beberapa kampus ternama juga telah melakukan pemisahan terhadap kegiatan-kegiatan para mahasiswanya yang dilakukan di luar kampus maupun didalam kampus. Di UGM Yogyakarta, para rector ikut berperan langsung dalam mengawasi pola komunikasi serta kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiwa/inya agar dapat mengantisipasi adanya bibit radikalisme. Di UNNES Semarang, kampus melaksanakan antisipasi gerakkan radikalisme melalui kegiatan-kegiatan khusus yang positif untuk memetakan setiap pola komunikasi para mahasiswanya.
Kita ketahui bahwa ciri-ciri orang-orang yang telah terpapar virus radikalisme yaitu memiliki sikap yang anti terhadap pemerintahan, anti terhadap negara serta anti terhadap kebhinekaan. Virus radikalisme sangat perlu diantisipasi secara dini agar virus tersebut tidak gampang dan mudah menyebar ke berbagai kalangan, termasuk yang non muslim. Oleh karena itu, perlu adanya keterbukaan dari berbagai pihak dari orang tua, kampus maupun aparat kemanan agar dapat mengantisipasi penyebaran virus radikalisme. Disisi lain, kita sebagai masyarakat juga harus terus memupuk rasa kebhinekaan agar dapat terus hidup berdampingan secara toleransi yang tidak memandang suku, budaya, ras serta Bahasa, sehingga dapat mengantisipasi adanya penyebaran paham radikalisme sebagai virus yang sangat tidak baik di dalam agama.
