Layanan Kesehatan Gratis Masuk Sekolah, Siswa Dapat Pemeriksaan Rutin

by Isabella Citra Maheswari

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menggelar Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara serentak pada hari pertama masuk sekolah, Senin (14/7).

Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA, termasuk Sekolah Rakyat yang baru dibuka tahun ini.

Pemantauan cek kesehatan perdana dilakukan di dua lokasi, yakni Sekolah Rakyat Menengah Atas 17 Surakarta dan SMA Negeri 1 Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, bertepatan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Di Kota Surakarta sendiri, jumlah siswa Sekolah Rakyat mencapai 200 orang, terbanyak di antara sembilan kabupaten/kota penyelenggara se-Jateng.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yunita Dyah Suminar menjelaskan CKG tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga menyasar masyarakat umum dan komunitas. Target program ini adalah seluruh warga Jateng.

“Kenapa dilakukan serentak hari ini? Karena memang targetnya seluruh masyarakat Jawa Tengah harus dilakukan cek kesehatan gratis. Hari ini dimulai dari sekolah-sekolah, nanti Agustus masuk ke perguruan tinggi,” ujar Yunita.

Di sekolah, pemeriksaan kesehatan dilakukan oleh tim dari Puskesmas yang didukung oleh program Spelling (Dokter Spesialis Keliling). Pemeriksaan mencakup berbagai aspek, seperti kondisi mata, gigi, telinga, tekanan darah, kadar gula darah serta status anemia.

Pemeriksaan juga dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Untuk siswa perempuan, dilakukan deteksi dini risiko kanker payudara dan kanker serviks. Sedangkan untuk siswa laki-laki, skrining difokuskan pada risiko kanker kolon, merokok atau tidaknya dan kebugaran fisik secara umum.

“Siswa Sekolah Rakyat kan tinggal di asrama, jadi harus dicek juga apakah ada risiko penyakit menular seperti TBC atau tidak. Ini penting agar tidak menularkan ke teman-temannya,” ujar Yunita.

Pemeriksaan juga mencakup aspek kesehatan mental. Yunita menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi siswa, terutama mereka yang tinggal di asrama dan berpisah dari orang tua.

“Makanya kesehatan jiwa juga kami periksa. Anak-anak yang pisah dari orang tua itu butuh effort. Jadi ini bukan sekadar cek fisik, tapi menyeluruh,” ujarnya.

Selain sekolah formal, Dinkes Jateng juga menyasar kelompok anak-anak yang tidak bersekolah melalui CKG komunitas.

Tim kesehatan dapat mendatangi lokasi seperti kafe atau tempat berkumpulnya remaja yang tidak terjangkau oleh pendidikan formal.

“Kalau anak-anak ini nggak sekolah, tetap bisa kami jangkau lewat CKG komunitas. Jadi tidak ada yang tertinggal. Pemeriksaan ini hanya skrining, kalau butuh obat bisa dilanjutkan melalui Spelling,” ujarnya.

Hingga saat ini, CKG telah menjangkau sekitar 4,6 juta warga Jateng, atau 37 persen dari total 12,5 juta warga yang telah diperiksa secara nasional. Angka ini menempatkan Jateng sebagai provinsi dengan capaian tertinggi di Indonesia.

Artikel Terkait

Leave a Comment