Kunjungan Raja Abdullah II ibn Al Hussein dari Kerajaan Yordania Hasyimiah ke Indonesia dinilai sebagai momentum penting bagi penguatan kerja sama ekonomi dua negara. Pengamat ekonomi Universitas Jember, Adhitya Wardhono PhD, menyampaikan pandangannya pada Minggu (16/11) di Jember, Jawa Timur.

Ia menjelaskan bahwa pertemuan tingkat tinggi tersebut dapat memperluas arah kerja sama yang sebelumnya didominasi isu politik menuju bidang ekonomi dan investasi.
Menurut Adhitya, hubungan diplomatik Indonesia dan Yordania yang telah berlangsung lebih dari tujuh dekade perlu dioptimalkan melalui kerja sama perdagangan dan investasi. Ia menilai kunjungan ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat penetrasi pasar di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Yordania dapat memanfaatkan ukuran ekonomi Indonesia yang lebih besar untuk memperluas akses pasar produknya.
Data perdagangan menunjukkan ekspor Indonesia ke Yordania mencapai sekitar 704,66 juta dolar AS pada 2024. Sementara itu, impor Indonesia dari Yordania pada 2023 berada di angka 190,72 juta dolar AS.
Nilai tersebut dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama untuk memperkuat arus perdagangan dua arah. Menurut Adhitya, peningkatan hubungan dapat dilakukan melalui diversifikasi produk ekspor maupun penambahan investasi dari kedua negara.
Realisasi investasi Yordania ke Indonesia pada Kuartal IV/2024 masih tercatat sekitar 4,43 juta dolar AS. Angka yang relatif kecil ini menunjukkan perlunya upaya strategis untuk meningkatkan minat investor Yordania.
Adhitya menilai penguatan kerja sama ekonomi dapat dilakukan melalui penyelarasan kebijakan investasi serta perluasan sektor strategis yang berpotensi menarik modal dari Yordania.
Yordania sendiri memiliki posisi strategis sebagai hub perdagangan ke kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperluas jangkauan ekspor ke negara-negara seperti Irak, Palestina, dan Mesir.
Selain itu, kedekatan Yordania dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa membuka kemungkinan akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia.
Melalui optimalisasi hubungan ekonomi dan pemanfaatan posisi strategis Yordania, Adhitya menilai Indonesia memiliki peluang memperkuat kehadirannya di pasar global. Ia menyimpulkan bahwa kunjungan Raja Abdullah II menjadi momen penting untuk memperjelas arah baru hubungan ekonomi dan investasi antara kedua negara.

