Komitmen Pemerintah Melawan Para Pemain Migas

by Isabella Citra Maheswari

Pemerintah menegaskan komitmennya mewujudkan kedaulatan energi nasional dan tidak akan memberi ruang bagi pihak-pihak yang menghambat cita-cita swasembada energi.

Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Energi Mineral Forum 2205 di Jakarta, Senin (26/5/2025).

Dia menyebut ada pihak-pihak yang sengaja membuat Indonesia terus bergantung pada impor energi dan tidak meng­alami kemajuan di sektor ini.

“Demi Allah, menurut saya ini ada unsur kesengajaan, by design. Ada pihak yang bermain, mereka ingin bangsa kita tidak maju-maju,” ujar Bahlil.

Dia menekankan, Indonesia sebagai negara besar memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah, termasuk minyak dan gas bumi (migas), untuk mendukung produksi energi dalam negeri. Namun, kenyataan menunjukkan produksi minyak nasional terus merosot, sementara konsumsi justru melonjak.

Bahlil mengatakan, Indonesia adalah salah satu penggagas Organisasi Negara-negara Pengeks­por Minyak (OPEC).

Pada periode 1996–1997, lifting minyak nasional bahkan mencapai 1,5–1,6 juta barel se­tara minyak per hari Barel Oil Equivalent Per Day (BOEPD), dengan konsumsi hanya sekitar 500.000 barel.

Saat itu, Indonesia mampu mengekspor sekitar 1 juta barel per hari dan migas menyumbang 40–45 persen dari pendapatan negara. Namun, setelah krisis ekonomi 1998 dan perubahan regulasi, produksi migas terus merosot.

Pada 2024, lifting minyak tercatat hanya sekitar 580.000 barel per hari. Sedangkan konsumsi telah mencapai 1,6 juta barel per hari.

Bahlil menegaskan, penurunan ini bukan disebabkan SDA yang habis. Dia menduga adanya kesengajaan dari pihak-pihak tertentu untuk melemahkan ketahanan energi nasional.

Dia juga mengaku telah memiliki data mengenai siapa saja pihak yang diduga bermain di sektor ini.

“Atas perintah Presiden Prabowo dan demi Ibu Pertiwi, sejengkal pun saya tidak akan mundur menghadapi orang-orang seperti ini,” tegasnya.

Mantan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Peng­usaha Muda Indonesia (Hipmi) itu mengatakan, Indonesia memiliki hampir 40.000 sumur minyak, tapi yang produktif tak lebih dari 20.000.

Selain itu, terdapat 301 wilayah hasil eksplorasi yang belum melaksanakan rencana pengembangan (Plan of Deve­lopment/POD).

“Kalau izin sudah diberikan, eksplorasi sudah dilakukan, tetapi POD-nya dibuat mundur-mundur, saya izin kepada Bapak Presiden akan evaluasi sampai tingkat pencabutan izin,” kata Bahlil.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimismenya terhadap masa depan energi nasional.

Presiden mengungkapkan temuan besar cadangan gas oleh perusahaan migas asal Uni Emirat Arab, Mubadala Energy, di Wilayah Kerja South Andaman, Aceh.

Cadangan tersebut diperkirakan mencapai 10 triliun kaki kubik (TCF), menjadikannya sebagai salah satu ladang gas terbesar di Asia Tenggara.

“Luar biasa. Saya kira pada 2028–2029 kita akan mencapai target swasembada energi,” kata Prabowo, Rabu (21/5/2025).

Prabowo juga menegaskan, Indonesia tidak hanya akan mencapai kemandirian energi, tetapi juga berpotensi menjadi pemasok energi bagi negara lain.

Menurutnya, potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar, mulai dari panas bumi, hidro, hingga energi angin dan gelombang laut.

Dia mengaku keyakinannya itu diperkuat oleh diskusi de­ngan para pakar dari universitas-universitas ternama dunia yang menilai Indonesia memiliki cadangan energi strategis untuk masa depan global. 

Artikel Terkait

Leave a Comment