Seluruh elemen masyarakat turut serta mendukung semua tindakan tegas yang dilakukan oleh para aparat keamanan dan terdiri dari personel gabungan TNI dan Polri untuk menindak apapun kejahatan dan kriminalitas yang dilakukan oleh KST Papua karena sangat mengganggu situasi dan kondusifitas masyarakat setempat.
Kelompok Separatis dan Teroris (KST) di Papua seolah memang tidak akan ada habisnya untuk terus melakukan penebaran aksi teror kepada masyarakat. Belum lama ini, kembali terjadi kasus penyanderaan warga sipil yaitu para penumpang dan pilot Susi Air. Tindakan tegas perlu dilakukan agar tidak ada lagi kejadian serupa dikemudian hari.
Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau juga yang bisa disebut dengan Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua sudah sangat identik dengan gerombolan teroris. Maka secara otomatis, menurut Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel bahwa dengan adanya pelabelan teroris tersebut, sudah barang tentu KST menjadi musuh bersama.
Dirinya menjelaskan bahwa dengan telah dianggapnya KST Papua sebagai kelompok teroris, maka telah memberikan legitimasi bahwa memang setiap komponen bangsa mampu menyikapi keberadaan kelompok teroris tersebut sebagai musuh bersama dan memang harus mampu diberantas secara cepat, tegas, terukur dan tuntas.
Sebagai informasi, Pesawat Susi Air yang dibakar oleh KST di Bandara Paro, Nduga, Papua Tengah membawa sebanyak 5 orang penumpang. Kejadian tersebut diketahui setelah pesawat itu dikabarkan sempat hilang kontak. Menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ignatius Benny Ady Prabowo bahwa seharusnya setelah tiba di Nduga, pesawat itu akan kembali ke Timika namun ternyata sulit dihubungi.
Tentu saja seluruh kejadian dan banyaknya aksi teror yang terus dilakukan oleh KST Papua patut untuk terus disorot dan jangan sampai terus terjadi atau melebar luas hingga pada pengrusakan atau bahkan mengakibatkan nyawa orang lain hilang. Sehingga seluruh pihak sangat wajib untuk berperan aktif dalam upaya memberantas KST Papua.

