Lapangan Terbang Paro Kabupaten Nduga tempat Pesawat Dibakar

Jejak Egianus Kogoya: Pemimpin Licik yang Tega Bohongi Anggotanya

by Laura Felicia Azzahra
Lapangan Terbang Paro Kabupaten Nduga tempat Pesawat Dibakar

nusarayaonline.id – Sebuah aksi kebrutalan Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua kembali ditunjukkan melalui pembakaran Pesawat Susi Air di lapangan terbang Paro, Kabupaten Nduga, Papua Tengah pada selasa pagi 7 Februari 2023 kemarin. Pesawat tersebut teridentifikasi mengangkut lima penumpang termasuk bayi serta diawaki seorang pilot berkebangsaan Selandia Baru bernana Captain Philips Mark Mehrtens. Berdasarkan keterangan dari pihak Susi Air, disebutkan bahwa pesawat dengan nomor penerbangan SI 9368 tersebut lepas landas dari Bandara Moses Kilangin, Kabupaten Mimika, Papua Tengah pada pukul 05:33 WIT, mendarat dengan selamat di Paro pada puku 06:17 WIT. Kemudian pukul 07:28 WIT, terdapat informasi bahwa pesawat dengan nomor registrasi PK-BVY tersebut masih berada di Paro. Tak lama berselang, terdapat pergerakan dari pilot ke arah selatan yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Sejumlah narasi publik memperkirakan bahwa sang pilot disandera di sebuah tempat oleh OPM pimpinan Egianus Kogoya. Hal tersebut berdasarkan klaim berbentuk pesan suara dari juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambom.

Selain membakar pesawat, kelompok OPM pimpinan Egianus Kogoya juga diduga menyandera 15 pekerja bangunan yang sedang mengerjakan puskemas di Paro Kabupaten Nduga. Berdasarkan keterangan Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ignatius Benny, bahwa terdapat laporan dari Bupati Kenyam ke Kapolres Nduga perihal penyanderaan tersebut. Motif penyanderaan diduga karena Egianus Kogoya dan anggotanya menduga para pekerja tersebut merupakan agen intelijen. Kabarnya pekerja tersebut saat ini dibawa ke Mapnduma. Motif demikian sebenarnya pernah dilakukan oleh Egianus saat menyerang PT Istaka Karya pada 2018 lalu yang menewaskan 28 orang.

OPM Tunggangi Info Hilangnya Pilot dan Penumpang dengan Tuntutan Kemerdekaan Papua

Seperti yang beberapa kali terjadi ketika terdapat aksi gangguan penyerangan yang dilakukan oleh kelompok separatis OPM. Melalui juru bicaranya, Sebby Sambom menyampaikan bahwa pihaknya yang bertanggung jawab terhadap aksi tersebut. Kata tanggung jawab seperti sedang dipersempit oleh pemikiran mereka hanya menjadi sebuah informasi kepada publik.

Dalam kasus pembakaran pesawat Susi Air, TPNPB OPM melalui juru bicaranya Sebby Sambom mengklaim bahwa pilot disandera di sebuah tempat terpencil, kemudian untuk lima penumpang tidak disandera karena merupakan orang asli Papua. Sang Pilot disebut tidak akan dilepaskan sampai Negara Selandia Baru dan negara-negara lain bertanggung jawab, khususnya Australia atas kematian satu juta lebih penduduk orang asli Papua selama 60 tahun di pemerintah Republik Indonesia. Kepada pemerintah, TPNPB-OPM menuntut sejumlah hal, diantaranya menutup seluruh jalur penerbangan ke Nduga, mengkritik penunjukkan bupati di Nduga, serta mengancam tidak akan menyerahkan pilot Susi Air tersebut jika pemerintah tidak memenuhi tuntutan, termasuk untuk lepas dari Indonesia. Di akhir pesan, Sebby Sambom juga sempat memperingatkan Presiden Joko Widodo agar tidak bermain-main. TPNPB-OPM disebut akan mengambil alih tanah Papua melalui revolusi total. Sebuah pemanfaatan situasi untuk tunjukkan eksistensi sekaligus lancarkan tuntutan kemerdekaan.

Egianus Kogoya Pemimpin Licik yang Tega Bohongi Anggotanya

Sebelum kejadian saat ini, nama Egianus Kogoya pernah menjadi perbincangan publik pasca pernyataannya bertanggung jawab terhadap penyerangan di Kabupaten Nduga dimana menewaskan 10 masyarakat sipil beberapa tahun silam. Dari sejumlah pemberitaan media, Egianus Kogoya memang kerap melakukan aksi penyerangan. Ia diketahui merupakan putra dari seorang tokoh OPM yang telah meninggal, yakni Silas Kogoya. Sebagai seorang pemimpin kelompok bersenjata, ia tergolong masih muda karena kelahiran tahun 1999.

Dalam aksinya, saat itu Egianus Kogoya diperkirakan memiliki anggota sekitar 50 orang. Mereka tercatat terlibat sejumlah aksi penyerangan, mulai dari penembakan pesawat Twin Otter PHK-HVU pada 2018, penyanderaan guru dan tenaga medis di Distrik Mapenduma, hingga penyekapan dan pembunuhan pekerja PT Istaka Karya di Bukit Puncak Kabo pada Desember 2018. Mereka juga terlibat aksi perampasan dua pucuk senjata api dari anggota Brimob di Papua. Egianus Kogoya juga disebut-sebut terlibat dalam aksi penyelundupan 615 butir amunisi berikut sepucuk senjata api jenis FN yang kemudian diungkap aparat kepolisian. Aksi penyelundupan amunisi dan senjata api ke kelompok Egianus Kogoya terungkap saat polisi melakukan razia di Kabupaten Yalimo pada Rabu 29 Juni 2022 lalu.

Di sisi lain, Egianus Kogoya ternyata memiliki jejak hitam bersifat negatif. Sebuah cerita pernah disampaikan oleh mantan anggotanya yang saat ini telah menyatakan kembali kepada NKRI. Adalah Tenius Tebuni yang secara tegas membongkar kebohongan para dedengkot kelompok separatis tersebut. Selama bergabung dengan Egianus, ia sering kelaparan di hutan. Untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut para anggota kelompok separatis harus memeras masyarakat yang merupakan warga kampungnya sendiri, bahkan tak segan-segan membunuhnya. Saat itu, alasan dirinya bergabung dengan Egianus Kogoya karena dijanjikan kehidupan serba mudah dimana segala kebutuhan akan dipenuhi termasuk diberikan banyak uang. Namun seiring berjalannya waktu, ia sadar telah ditipu. Dalam cerita tersebut, dijelaskan juga bahwa kelompok separatis Papua tidak solid selalu terpecah-pecah dan bergerak sendiri-sendiri. Alasan hampir serupa juga diungkapan sejumlah mantan anggota kelompok separatis Papua, salah satunya Purom Wenda. Dirinya mengaku diberikan janji-janji manis yang ternyata hanya kebohongan belaka.

Permainan Isu Hoaks Sebby Sambom untuk Adu Domba Masyarakat dan Pemerintah

Selain bermain gertakan dengan modus pernyataan selaku juru bicara TPNPB OPM.  Sisi lain seorang Sebby Sambom juga dikenal sebagai penyebar isu hoaks ulung, utamanya berkaitan dengan situasi wilayah rawan di Papua. Terdapat sejumlah isu kejadian bersumber dari pernyataannya namun setelah dikroscek tidak benar atau tidak pernah terjadi. Strategi penggunaan isu hoaks selain untuk memicu keresahan publik, ternyata juga dilakukan sebagai upaya untuk berkelit dari sejumlah kesalahan yang pernah dilakukan.

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III pernah meluruskan hoaks tentang tewasnya tiga wanita di Kabupaten Puncak Papua yang ditembak aparat militer Indonesia. Kabar tersebut beredar dari pemberitaan sebuah media online oposisi. Kabar yang ternyata hoaks tersebut sengaja disebarkan oleh kelompok separatis Papua. Secara tegas, Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suristiawa mengatakan, tidak ada kejadian seperti yang diberitakan. Kelompok separatis OPM yang didukung oleh front politik dan klandestin di antaranya jurnalis, media dan pegiat media sosial secara aktif menyebarkan hoaks untuk menyudutkan pemerintah. Apabila teroris OPM membakar sekolah, membunuh guru dan menebar teror lain, pendukung mereka sengaja untuk berdiam dan tidak komentar apa-apa. Hoaks tersebut juga turut disebarkan oleh aktivis pro Papua merdeka dengan tujuan memfitnah tim gabungan TNI-Polri.

Dalam menjalankan aksinya, setidaknya terdapat 2 media online dimana pimpinan dan redakturnya sangat intens berhubungan dengan sosok Veronica Koman sebagai influencer. Setiap propaganda yang dimuat media pendukung kelompok separatis OPM, selalu menjadi bahan kicauannya di twitter. Penggiringan opini melalui hoaks dibuat untuk menarik perhatian publik, Pendukung separatis OPM juga pernah menyebar fitnah terkait hancurnya Gereja Kingmi yang bertujuan memprovokasi jemaat gereja, baik lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu faktor strategi hoaks dilancarkan adalah karena terdesaknya posisi kelompok separatis.

Di lain kesempatan, juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom juga pernah menyebarkan isu yang menyebutkan bahwa TNI-Polri melempar bom ke perkampungan penduduk di Papua. Dalam tuduhannya, aparat dengan kekuatan penuh dilengkapi dengan pasukan khusus bernama Pasukan Setan menyerang perkampungan penduduk lokal di Ilaga. Terdapat 40 kali serangan udara dari TNI-Polri. Serangan tersebut diklaim menggunakan helikopter. Menanggapi hal tersebut, Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes Pol Iqbal Alqudusy menegaskan, bahwa kabar tersebut adalah hoaks. Dirinya mengimbau agar masyarakat tidak mempercayai informasi tersebut. Menurutnya, Sebby Sambom adalah juru bicara yang sudah tidak diakui lagi oleh TPNPB.

Sebelumnya Sebby Sambom juga sempat mengklaim bahwa aparat keamanan TNI-Polri telah menewaskan remaja berusia 17 tahun. Padahal, nyatanya dua anggota Kelompok Separatis Papua yang tewas dalam kontak senjata dengan TNI-Polri dipastikan telah berusia dewasa. Hal tersebut dibenarkan oleh Kapolres Mimika AKBP I Gustri Era Adinata. Sebby secara sengaja telah menebar hoaks soal tewasnya remaja berusia 17 tahun, untuk memunculkan kesan negatif terhadap TNI-Polri.

Maka berkenaan dengan adanya pernyataan dari juru bicara TPNPB OPM Sebby Sambom bahwa pihaknya telah menyandera pilot Susi Air perlu dipastikan lagi kebenarannya. Keterangan tersebut bisa jadi sebagai upaya untuk menaikkan eksistensi serta gertakan terhadap pemerintah khususnya aparat Indonesia.

Langkah Tegas Pemerintah Evakuasi Korban Penyerangan Kelompok Egianus Kogoya

Keterangan teranyar baru saja disampaikan oleh Panglima TNI Laksamana Yudo Margono bahwa tidak ada penyanderaan pilot dan penumpang dalam peristiwa pembakaran pesawat Susi Air di distrik Nduga. Sang pilot disebut berhasil menyelamatkan diri. Secara tegas, pihaknya akan mengerahkan pasukan elite untuk melakukan evakuasi terhadap pilot tersebut. Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan bahwa tim gabungan Polri-TNI dari tim Operasi Damai Cartenz di Papua dikerahkan untuk mencari keberadaan pilot dan penumpang pesawat Susi Air.

Dampak dari adanya kejadian pembakaran tersebut, berdasarkan laporan Direktorat Jenderal Perhubungan Kementerian Perhubungan melalui Kepala Bagian Kerja Sama Internasional, Humas dan Umum Ditjen Perhubungan Udara, Mokhamad Khusnu melaporkan bahwa lapangan terbang Paro Papua masih ditutup sementara, mengingat posisi pesawat yang rusak di tengah lapangan terbang sehingga tidak memungkinkan operasional penerbangan ke atau dari Paro. Pihaknya mengimbau kepada penyelenggara bandar udara untuk meningkatkan keamanan degan selalu berkoordinasi dengan pihak keamanan setempat.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment