Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan stok beras di gudang nasional mencapai 3,8 juta ton. Jumlah itu berada di titik tertinggi dan semuanya berasal dari sawah-sawah petani di seluruh Indonesia. Bagi Amran, kabar ini bukan hanya soal data, tetapi soal kebanggaan.
“Yang menarik, beras yang ada di gudang itu adalah hasil produksi petani Indonesia,” katanya dengan nada optimis.
Namun kabar swasembada ini hadir bersamaan dengan bencana di Sumatra. Di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh, ribuan warga terdampak membutuhkan makanan cepat. Pemerintah tidak tinggal diam. Hari itu, 207 truk berisi beras, minyak goreng, gula, susu, air mineral, hingga kebutuhan pokok lainnya dilepas ke daerah terdampak.
Di balik pergerakan logistik itu, ada tim siaga 24 jam. Mereka menjaga agar satu karung beras pun tidak terlambat sampai ke dapur umum dan rumah warga. Nilai bantuan mencapai Rp 75 miliar melalui program Kementan Peduli.
“Kami siapkan beras tiga kali lipat dari kebutuhan nasional,” ujar Amran.
Bukan hanya angkanya yang besar, tetapi niat yang kuat untuk memastikan tidak ada masyarakat yang kekurangan pangan. Para petani yang bekerja di sawah, sopir truk yang menembus medan bencana, dan petugas lapangan yang tidak tidur malam menjadi bagian dari cerita ini.
Akhir 2025 bukan sekadar penanda waktu. Ini adalah hasil kerja kolektif yang menghubungkan harapan warga dengan produksi dalam negeri. Bila swasembada diumumkan tepat waktu, itu berarti Indonesia merayakan pangan dari tangan sendiri.

