Para musisi ternama di Indonesia, seperti Vidi Aldiano dan Ananda Badudu, baru-baru ini secara serentak menyuarakan imbauan penting kepada para demonstran. Mereka mengingatkan massa aksi di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya untuk menjaga kondusifitas. Tujuan utama seruan ini adalah mencegah tindakan penjarahan yang dapat merugikan masyarakat luas.
Melalui fitur “Add Yours” di Instagram Stories, kedua musisi ini membagikan pesan serupa. Mereka menekankan agar sesama rakyat Indonesia tidak saling merugikan, terutama dengan melakukan penjarahan. Imbauan ini muncul di tengah gelombang demonstrasi yang berlangsung intens sejak 25 Agustus lalu.
Seruan ini bertujuan untuk melindungi usaha-usaha kecil dan menengah yang sedang berjuang di masa sulit. Selain itu, pesan tersebut juga mengingatkan para demonstran untuk tetap fokus pada tujuan awal aksi. Ini penting agar aspirasi masyarakat dapat tersampaikan tanpa diwarnai tindakan anarkis.
Vidi Aldiano dan Ananda Badudu membagikan template pesan yang kuat melalui platform media sosial mereka. Pesan tersebut berbunyi, “Bantu ingetin semuanya, jangan pada ngejarah.” Mereka menyoroti kondisi sulit yang dihadapi rakyat dan pengusaha. Banyak usaha sedang berjuang keras untuk bertahan di tengah tantangan ekonomi.
Template stories tersebut juga mengingatkan bahwa di balik setiap usaha, ada karyawan yang bergantung hidup dari sana. Jika terjadi penjarahan, usaha tersebut berisiko tutup, yang berarti banyak orang akan kehilangan mata pencarian. Oleh karena itu, para musisi ini mengajak demonstran untuk berpikir panjang dan tidak merugikan masyarakat.
Selain itu, pesan yang disebarkan juga mengajak seluruh peserta aksi untuk kembali berfokus pada tuntutan awal demonstrasi. Hal ini penting agar tujuan utama dari aksi massa tidak terdistraksi oleh insiden yang tidak relevan. Fokus pada isu inti akan membuat suara rakyat lebih didengar dan efektif.
Tidak hanya Vidi Aldiano dan Ananda Badudu, komika Bintang Emon juga turut menyuarakan imbauan serupa. Melalui unggahan Instagram Stories yang berbeda, Bintang Emon mengingatkan para demonstran agar tidak teralihkan. Ia menekankan pentingnya tidak melakukan perbuatan anarkis yang dapat merusak citra aksi.
Bintang Emon secara spesifik meminta massa untuk tidak melupakan inti dari tuntutan aksi yang pertama kali dilakukan. Ia menulis, “Jangan teralihkan. Kematian saudara Affan itu tragis tapi ingat juga akan inti masalahnya.” Pesan ini menegaskan bahwa pertarungan sebenarnya ada di ranah legislatif, bukan di jalanan antar sesama warga.
Unggahan tersebut juga memperingatkan agar masyarakat tidak terpancing oleh isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Gerakan demonstrasi ini pada dasarnya tidak terkait dengan masalah etnis atau agama. Fokus harus tetap pada penyampaian aspirasi publik kepada para pejabat terkait.
Gelombang demonstrasi yang disoroti oleh para musisi ini bermula di Jakarta pada Senin, 25 Agustus. Ribuan orang dari berbagai latar belakang memadati kawasan Gedung DPR/MPR RI. Aksi ini mengusung beberapa tuntutan, termasuk transparansi DPR dan penolakan RUU kontroversial.
Namun, pada Kamis, 28 Agustus, insiden tragis terjadi. Seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan tewas terlindas kendaraan taktis Brimob. Peristiwa ini, yang terekam kamera warga, menyulut amarah masyarakat. Tuntutan pun bergeser fokus pada investigasi kematian Affan Kurniawan.
Meskipun intensitas demo mulai berkurang pada Sabtu, 30 Agustus, dan lalu lintas kembali normal, dampak kerusuhan tetap terasa. Beberapa fasilitas umum, seperti Halte TransJakarta, mengalami kerusakan akibat pembakaran. Oleh karena itu, seruan para musisi untuk menjaga kondusifitas dan menghindari penjarahan menjadi sangat relevan. Hal ini demi memastikan aksi massa tetap berintegritas dan mencapai tujuannya tanpa merugikan pihak lain.

