Unggahan di Instagram yang menyebut vaksin pneumonia (PCV) meningkatkan risiko pneumonia dan kematian memicu diskusi publik. Klaim tersebut mempertanyakan efektivitas vaksin PCV, terutama bagi anak-anak yang menjadi kelompok penerima utama.
Hasil penelusuran menunjukkan klaim itu tidak didukung bukti ilmiah. Tempo.co mengonfirmasi bahwa penelitian di Catalonia yang dijadikan rujukan unggahan memiliki kelemahan besar. Penelitian tersebut menggunakan desain kohort, metode yang rawan bias. Subjeknya pun seluruhnya lansia berusia di atas 65 tahun, bukan anak-anak.
dr. Ari Baskoro dari Universitas Airlangga menjelaskan bahwa ketidakseimbangan jumlah peserta antara kelompok vaksin dan non-vaksin dalam penelitian itu membuat hasilnya mudah salah tafsir. Karena itu, kesimpulan penelitian tersebut tidak dapat dijadikan dasar klaim risiko vaksin PCV pada anak.
Sebaliknya, uji klinis berskala besar yang diterbitkan American Academy of Pediatrics memberikan hasil positif. Dengan melibatkan 1.500 anak penerima PCV20 dan PCV13, penelitian tersebut menunjukkan bahwa vaksin pneumonia aman dan bisa ditoleransi dengan baik. Fakta ini sekaligus membantah klaim viral yang beredar di media sosial.

