Guru Besar dan Pakar Kebijakan Dukung Langkah Pemerintah Wujudkan Swasembada Energi

by Isabella Citra Maheswari

Sejumlah akademisi menilai langkah pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi merupakan kebijakan strategis yang layak menjadi agenda nasional lintas pemerintahan. Dukungan ini disampaikan oleh Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Islam Bandung (Unisba) Prof. Ima Amaliah dan pakar kebijakan publik Universitas Padjadjaran (Unpad) Yogi Suprayogi Sugandi.

“Program swasembada energi adalah langkah yang tepat, dan sudah seharusnya menjadi agenda nasional lintas pemerintahan,” ujar Ima dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (12/10/2025).

Menurut Ima, program tersebut tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). Ia menilai kebijakan pemerintah untuk menerapkan kandungan etanol 10 persen dalam BBM atau E10 merupakan salah satu terobosan penting menuju kemandirian energi.

“Langkah ini sejalan dengan momentum menghadapi tantangan perubahan iklim dan komitmen Indonesia terhadap Perjanjian Paris untuk mencapai emisi nol bersih paling lambat pada 2050,” jelasnya.

Sementara itu, Yogi Suprayogi Sugandi menilai kebijakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk mendorong produksi energi melalui sumur minyak rakyat adalah langkah positif.

“Apalagi kalau masyarakat lokal bisa bekerja sama dengan organisasi atau koperasi rakyat. Itu bisa memperkuat ekonomi daerah,” kata Yogi.

Namun, ia mengingatkan agar dalam pelaksanaannya, pemerintah tetap memperhatikan kesejahteraan masyarakat yang terlibat.

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui kebijakan E10 untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan terhadap impor BBM.

“Kemarin malam kami sudah rapat dengan Presiden. Presiden sudah menyetujui untuk direncanakan mandatori 10 persen etanol,” ujar Bahlil di Jakarta, Selasa (7/10/2025).

Ia menambahkan, jika sumur minyak rakyat bisa menghasilkan satu barel per hari, maka potensi tambahan lifting minyak nasional dapat mencapai 45 ribu barel per hari.

Artikel Terkait

Leave a Comment