Pilot Susi Air yang lebih dari sebulan disandera oleh OPM pimpinan Egianus Kogoya

Egianus Kogoya Pengecut! Manfaatkan Pilot Susi Air untuk Sampaikan Tuntutan Kepada Pemerintah Indonesia

by Laura Felicia Azzahra
Pilot Susi Air yang lebih dari sebulan disandera oleh OPM pimpinan Egianus Kogoya

nusarayaonline.id – Lebih dari satu bulan, keberadaan Pilot Susi Air yang disandera oleh kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya belum juga dapat dibebaskan. Sejumlah upaya hingga kini masih terus dilakukan oleh aparat TNI Polri yang didukung oleh para tokoh masyarakat serta agama. Adanya tawaran bantuan yang disodorkan oleh Duta Besar Selandia Baru Y.M Kevin Burnett dalam sebuah pertemuan di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur 3 Maret 2023 lalu secara lugas direspon oleh Panglima TNI, Yudo Margono bahwa pihaknya masih mampu membebaskan Kapten Philip dari tangan Egianus Kogoya. Mendapati hal tersebut, pihak pemerintah Selandia Baru kemudian mempercayakan kepada Indonesia serta berpesan agar dalam upaya pembebasan tersebut tidak memakan korban, utamanya kepada sang pilot agar pulang dalam keadaan selamat.

Keputusan Panglima TNI untuk menolak tawaran bantuan dari Selandia Baru diapresiasi oleh sejumlah pihak. Salah satunya datang dari pengamat militer dan intelijen dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Robi Sugara. Menurutnya, ketegasan Panglima TNI Yudo Margono menolak bantuan Selandia Baru merupakan keputusan tepat.

Sikap Kehati-hatian Aparat TNI Polri dalam Pembebasan Pilot Susi Air

Dalam sebuah wawancara kepada awak media, Panglima TNI Yudo Margono kembali menjelaskan mengapa hingga kini sang pilot belum bisa dibebaskan padahal tak kurang dari pasukan dan peralatan yang dimilikinya untuk menyerbu seorang Egianus Kogoya dan gerombolannya. Disampaikan bahwa dalam upaya pembebasan tersebut tak bisa bertindak secara gegabah. Sebab, pihaknya tak ingin Kapten Philip dan warga Papua disekitar menjadi korban. Seperti yang kita ketahui bahwa kelompok separatis kerap menggunakan warga sipil Papua sebagai tameng. Dirinya kembali mengingatkan bahwa dalam kasus ini adalah operasi penegakan hukum, sehingga harus mengedepankan aturan hukum. Kendati telah ditemukan titik keberadaannya, namun pihak panyandera pilot Susi Air kerap berpindah lokasi dan tak jarang berbaur dengan masyarakat sekitar. Di sisi lain, personel gabungan TNI-Polri masih terus bergerak untuk menyelamatkan Kapten Philip. Namun, sejumlah pertimbangan seperti cuaca dan medan yang dikelilingi hutan lebat kerap menjadi tantangan yang dihadapi.

Komandan Satgas Damai Cartenz, Kombes Pol. Faizal Rahmadani dalam sebuah pernyataannya kepada awak media menjelaskan bahwa posisi pilot Susi Air masih belum bisa dipastikan. Para penyandera membawa sang pilot berpindah-pindah dari titik awal penyanderaan, yakni di lapangan terbang Paro, Kabupaten Nduga. Bahkan kuat dugaan bahwa Kapten Philip sudah tidak lagi bersama Egianus Kogoya.

Adanya desas-desus yang menyebut bahwa Pilot Susi Air tersebut merupakan anggota dari kelompok OPM juga telah dibantah dengan tegas oleh pemilik maskapai, Susi Pudjiastuti dalam sebuah konferensi pers pada 1 Maret 2023 lalu. Dirinya menegaskan bahwa Philip bukanlah bagian dari OPM. Pihaknya menjamin bahwa sang pilot adalah orang yang memiliki dedikasi dan tak mungkin melenceng dari tugasnya. Selama bertahun-tahun kerja di Susi Air, Philip dinilai menjadi salah satu pilot, bahkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut telah mengenal seluruh keluarga Philip, termasuk istrinya yang merupakan orang Pangandaran.

Munculnya Kembali Pernyataan Pilot Susi Air Meneruskan Permintaan dari OPM

Di sisi lain, sejumlah pemberitaan di media online mainstream baru-baru ini menyebut terdapat sebaran video yang memperlihatkan pilot Susi Air, Kapten Philip menyampaikan sejumlah pesan meneruskan instruksi atau permintaan dari OPM pimpinan Egianus Kogoya. Meski tak secara spesifik dijelaskan metadata video tersebut, namun dinarasikan secara singkat poin-poin yang disampaikan oleh sang pilot. Pertama, bahwa tak boleh ada pilot asing yang diizinkan bekerja dan terbang di Papua sampai Papua Merdeka. Kedua, pihak OPM meminta PBB menjadi mediator untuk menangani kasus di Papua. Terakhir, ketiga bahwa pihak OPM akan membebaskan dirinya setelah Papua merdeka.

Pernyataan yang disampaikan oleh pihak OPM melalui sang pilot tersebut sebenarnya bertentangan dengan apa yang dibutuhkan masyarakat Papua. Sudah bertahun-tahun maskapai Susi Air turut berkontribusi dalam upaya membangun serta memberikan pelayanan transportasi udara di sejumlah wilayah pelosok Papua. Mereka tak sadar bahwa selama ini distribusi logistik hingga mobilisasi masyarakat termasuk pembangunan di wilayah-wilayah terisolir terbantukan oleh keberadaan rute maskapai Susi Air. Rasanya tak pantas membicarakan permintaan kemerdekaan di tengah wilayah yang masih harus mendapat perhatian hingga kontribusi dari luar, termasuk peran maskapai Susi Air. Permintaan kemerdekaan dengan jalur penyanderaan juga bukanlah hal yang diidamkan masyarakat pada umumnya. Bagaimana mau mendapat simpati, pendukung, atau bahkan bantuan logistik misalnya. Jika modus kekerasan masih digunakan oleh Egianus Kogoya dan kelompoknya.

Respon Sejumlah Pihak dalam Penanganan Masalah Separatis di Papua

Tak hanya karena kasus penyanderaan Pilot Susi Air serta sejumlah aksi kekerasan dari awal tahun 2023 hingga kini yang masih terus dilakukan kelompok separatis dan teroris di Papua. Menahunnya permasalahan yang masih belum menemukan titik terang dalam upaya penanganan secara tuntas terus memunculkan sejumlah argumen hingga masukan dari sejumlah pihak.

Anggota DPD RI, Yorrys Raweyai menegaskan pentingnya pendekatan persuasif dalam menangani berbagai peristiwa kekerasan di Papua. Pendekatan tersebut dipandang mampu menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya terjadi dan memicu berbagai peristiwa yang selama ini terjadi di Papua. Selain itu, adanya tindak lanjut proses hukum yang maksimal serta tak pandang bulu juga menjadi hal yang harus direaliasikan.

Dalam kasus yang terjadi di Wamena dan Nduga, berbagai laporan dan kajian telah menunjukkan adanya persoalan yang mengakar selama ini tentang pengelolaan isu-isu kesejahteraan dan hubungan sosial-kemasyarakatan. Relasi konstruktif antara masyarakat asli Papua dan masyarakat pendatang belum terjalin dengan baik, hingga menimbulkan kecemburuan sosial. Masyarakat yang majemuk dan plural dengan kondisi sosial, politik dan keamanan di Papua yang cenderung tidak stabil, seringkali memicu kejadian-kejadian destruktif. Dengan mudah emosi publik tersulut hanya karena isu-isu yang tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, menurutnya pengungkapan akar masalah penyebab kekerasan di Wamena dan Nduga merupakan fokus utama. Hal itu ditujukan agar kejadian-kejadian serupa tidak berulang serta mampu menciptakan rasa aman bagi masyarakat secara keseluruhan. Aparat keamanan harus menjadi bagian dari penciptaan rasa aman tersebut. Bukan sebaliknya, menjadi pihak yang justru menghadirkan rasa takut akibat respons yang berlebihan.

Pemerintah daerah juga perlu merinci lebih jauh jumlah kerugian yang diakibatkan peristiwa tersebut. Termasuk mempertimbangkan untuk memfasilitasi pergantian kerugian yang dialami oleh masyarakat yang terdampak. Dengan demikian, masyarakat akan merasakan kehadiran pemerintah melalui aparat keamanan sebagai pengayom dan pelindung.  Hal yang sama juga perlu dilakukan dalam upaya penanganan serta penyelamatan pilot Susi Air. Apalagi, sebagai warga negara Selandia Baru, penanganan aparat keamanan terhadap Philip telah menjadi sorotan internasional. Karena itu, tindakan reaktif dan berlebihan aparat keamanan hanya akan menambah persepsi buruk di mata internasional.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Polisi Boy Rafli Amar mengingatkan kepada masyarakat agar tidak terpecah dalam menangani kelompok separatis di Papua. Masyarakat harus diberikan pandangan tentang paradigma nasional, hukum, motif sampai gangguan keamanan yang dilakukan TPNPB-OPM sehingga ditetapkan menjadi kelompok separatis teroris. Hal ini disebut penting sehingga masyarakat tidak kemudian terbelah dan sepakat bahwa kelompok separatis dan teroris Papua adalah musuh bersama.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment