Danantara Berperan Dalam Percepatan Ekonomi Nasional

by Isabella Citra Maheswari

Pemerintah tengah berupaya meningkatkan investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Salah satu sumbernya melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Pemerintah menargetkan ekonomi dapat tumbuh 5,2 persen tahun ini.

Namun, melihat realisasi pada Kuartal I yang hanya mampu tumbuh 4,87 persen, pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2025 hanya mencapai 4,7-5 persen.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi bisa dikerek lebih tinggi melalui investasi karena investasi berkontribusi sekitar 28 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Sayangnya, pertumbuhan investasi saat ini masih lesu, terlihat dari realisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang hanya tumbuh 2,1 persen di Kuartal I 2025. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian global yang membuat investor wait and see untuk menanamkan modalnya.

“Yang mungkin perlu kita waspadai pertama adalah PMTB atau investasi di Kuartal I. Itu termasuk sangat lemah dibandingkan kalau kita ingin (ekonomi) tumbuh 5 persen, biasanya investasi juga harus tumbuhnya sekitar 5 persen,” ujarnya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Jakarta, Kamis (3/7/2025).

Menurutnya, investasi dapat digenjot dengan mengimplementasikan deregulasi atau perampingan regulasi dan pemberian insentif fiskal pada sektor-sektor prioritas.

Tapi Sri Mulyani juga menekankan, pertumbuhan investasi dapat direalisasikan secara signifikan melalui BPI Danantara.

Danantara, yang merupakan lembaga pengelola investasi milik negara, harus dimaksimalkan kinerjanya untuk menarik investasi swasta.

Oleh karenanya, dia berpesan agar Danantara tidak mendominasi pasar karena jika terlalu dominan justru akan menimbulkan efek crowding out, yaitu kondisi di mana keterlibatan pemerintah dapat menghambat keterlibatan swasta.

“Peranan Danantara akan sangat menentukan apakah investasi kita meningkat. Kalau investasi Danantara mampu menarik private, maka Danantara bisa menjadi katalis,” tuturnya.

Selain dari investasi baru, pertumbuhan ekonomi juga dapat digenjot melalui konsumsi rumah tangga.

Kontribusi konsumsi rumah tangga ke PDB juga lebih tinggi dari investasi, yakni sekitar 55 persen. Realisasi konsumsi rumah tangga pada Kuartal I 2025 tumbuh melambat, yakni 4,89 persen.

Turun dibandingkan kuartal sebelumnya maupun Kuartal I 2024 yang masing-masing mencapai 4,98 persen dan 4,91 persen.

Turunnya konsumsi rumah tangga ini disebabkan oleh belanja pemerintah yang masih sangat rendah karena kebijakan efisiensi anggaran dan tidak adanya momen Pemilihan Umum (Pemilu) seperti Kuartal I 2024.

“Agar bisa mencapai target 2025, maka konsumsi rumah tangga harus bisa dijaga tumbuh 5 persen,” kata dia.

Untuk itu, pemerintah berupaya memberikan kebijakan fiskal dan mengendalikan inflasi agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Artikel Terkait

Leave a Comment