Penemuan mayat korban penikaman di Yahukimo

Bunuh Warga Sipil di Yahukimo, Tindakan OPM Tak Bisa Ditolerir untuk Diberantas

by Laura Felicia Azzahra
Penemuan mayat korban penikaman di Yahukimo

nusarayaonline.id – Belum reda pemberitaan terkait ancaman kelompok separatis pimpinan Egianus Kogoya terhadap masyarakat di kampung Yenggelo distrik Alama yang mengharuskan adanya proses evakuasi. Sebuah kabar miris kembali tersiar dari wilayah lain berkaitan dengan aksi keji kelompok biadab yang mengklaim sedang berjuang untuk kemerdekaan Papua. Seperti tanpa merasa bersalah, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Komando Daerah Perang (Kodap) XVI Yahukimo, melalui seseorang yang menyebut dirinya Panglima Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak menyatakan bertanggung jawab atas meninggalnya seorang warga sipil bernama Hamid berumur 42 tahun di Jalan Poros Logpon Kilometer 4, Perumahan BTN Sosial Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan pada Senin 20 Februari 2023 lalu.

Melalui pernyataannya, dirinya menyebut bahwa penyerangan dilakukan oleh Komandan Batalyon Sisifia, Yosua Sobolim atas instruksi dirinya. Sebelumnya telah disampaikan kepada masyarakat sipil nonPapua agar segera tinggalkan Yahukimo. Namun jika tidak diindahkan maka pihaknya menganggap sebagai bagian dari intelijen yang menyamar sebagai masyarakat sipil. Disebutkan juga bahwa berdasarkan Konferensi Darurat Militer (KDM), secara resmi mendeklarasikan revolusi total tahun 2023 dan seterusnya sehingga masyarakat sipil agar segera tinggalkan Yahukimo, termasuk orang Papua yang menjadi mata-mata TNI Polri. Pihaknya juga mengklaim telah mendata seluruh orang 51 distrik, 518 kepala kampung di Yahukimo melalui Papua Intelijen Service (PIS).

Kapolres Yahukimo, Arief Kristanto menyatakan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan di RSUD Dekai, di tubuh korban terdapat banyak luka tusuk dan lebam. Pihaknya masih mendalami kasus tersebut dengan melakukan penyelidikan serta memeriksa saksi guna mengungkap pelaku.   

Motif Penyerangan Warga untuk Tunjukkan Eksistensi Kelompok Separatis

Sejak bertahun-tahun masyarakat di sebagian wilayah Papua merasakan ketidaknyamanan dan ketidakamanan hidup berdampingan dengan kelompok separatis yang cenderung bertindak anarkis. Mereka menjadi sumber penderitaan bagi masyarakat dengan sering bertindak kejam melakukan aksi teror hingga menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa.

Sepanjang tahun 2022 lalu, berdasarkan data dari Polda Papua disebut bahwa terdapat 35 orang warga sipil dan 13 aparat yang menjadi korban penyerangan. Masuk tahun 2023, aksi penyerangan juga telah dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris di sejumlah tempat. Seorang tukang ojek bernama Damri, umur 57 tahun di Puncak, Papua Tengah tewas setelah diserang pada 23 Januari 2023 lalu. Di lain wilayah dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang anggota TNI bernama Serka Jeky juga dinyatakan tewas usai ditikam orang tak dikenal (OTK) pada selasa 24 Januari 2023 di Pasar Sinak Kabupaten Puncak Jaya. Sebelumnya, di wilayah yang sama pada 13 Desember 2022 lalu, kelompok separatis juga menembaki karyawan Bank Pembangunan Daerah (BPD) hingga meninggal.

Terbaru, aksi yang dilakukan kelompok separatis selain menyandera pilot Susi Air adalah teror ancaman terhadap masyarakat yang tinggal di sejumlah distrik hingga mengharuskan mereka mengungsi dengan berjalan kaki selama 2 hari kemudian dievakuasi oleh TNI Polri menggunakan helikopter. Keseluruhan aksi tersebut jika ditarik benang merahnya berhubungan dengan satu misi yakni eksistensi dalam upaya menyerukan pelepasan wilayah Papua dari NKRI.

Aksi Penyerangan Kerap Menimpa Terhadap Tukang Ojek

Menjadi hal miris, diantara sekian penyerangan yang dilakukan oleh kelompok separatis. Profesi tukang ojek kerap menjadi buah sasaran. Hal tersebut terjadi secara acak dan bergerilya di sejumlah daerah rawan dimana kondisi korban mengalami luka parah hingga meninggal dunia. Pada bulan Maret tahun 2021, seorang tukang ojek bernama Udin di kampung Eromaga tewas diserang. Korban saat itu selesai mengantar penumpang kemudian ditembak mengenai dada kanan tembus punggung, serta luka tembak pada pipi kiri. Masih di tahun yang sama, di bulan Oktober seorang pengemudi ojek bernama Jusalim di tembak di bagian kepala oleh dua orang yang menyamar sebagai orang yang minta diantar. Beruntung, dirinya sempat menoleh sehingga hanya melukai bagian pipi, kejadian tersebut terjadi di Jembatan Kali Ilami Kampung Wako Puncak, Papua.

Di Tahun 2020 bulan September, dua tukang ojek di kampung Mamba, Kabupaten Intan Jaya mengalami luka tembak setelah ditembak oleh kelompok afiliasi OPM. Kemudian pada tahun 2019, tiga tukang ojek tewas setelah ditembak oleh kelompok bersenjata pimpinan Lekagak Telenggen di distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua. Ketiga korban ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala dan sayatan senjata tajam di sekujur tubuh. Lalu pada bulan Juni tahun 2018, anggota polisi yang sedang piket menerima laporan dari warga yang menemukan sesosok manusia dalam kondisi terkapar dan berlumuran darah yang kemudian diketahui seorang tukang ojek. Kejadian tersebut terjadi di Distrik Kalome, Puncak Jaya.

Menjelang pelaksanaan Pilkada tahun 2017 silam, dua tukang ojek tewas setelah ditembak oleh kelompok Goliath Tabuni karena kecewa atas tuntutannya terkait kasus kecelakaan yang melibatkan keluarganya belum direalisasikan oleh pemerintah sehingga melampiaskan kepada kedua tukang ojek tersebut. Kejadian penyerangan juga pernah terjadi di tahun 2013, ketika seorang tukang ojek ditembak oleh orang tak dikenal di sekitar kali Semen, Kampung Wandengobak, Distrik Mulia. Korban meninggal dunia di tempat dengan mengalami luka tembak di bagian atas puting susu sebelah kanan tembus ke punggung kanan.

Menanti Tindakan Tegas Pemerintah Terhadap Kelompok Separatis Papua

Sedari awal, kehadiran Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua memang bertujuan untuk melepaskan diri dari NKRI. Salah satu upaya yang mereka lakukan yakni melalui kekerasan yang kemudian menimbulkan korban, tidak hanya dari aparat, namun juga telah menyasar masyarakat sipil tanpa rasa belas kasihan. Sebagian dari mereka menganggap bahwa orang-orang sipil telah menjadi mata dan telinga aparat, termasuk yang terjadi kepada sejumlah tukang ojek sehingga menurut mereka perlu untuk dilakukan penyerangan yang berakhir pada pembunuhan.

Penyerangan terhadap warga sipil juga bisa disebuat sebagai strategi kelompok separatis untuk menginternasionalisasi permasalahan Papua. Mereka hanya ingin agar situasi di Papua tidak aman, berdampak pada banyaknya kekuatan militer yang turun ke Papua, sehingga mata dunia, dalam hal ini PBB bisa melihat bagaimana Papua menjadi daerah perang, yang mengkorbankan ribuan bahkan ratusan ribu warga sipil. Diciptakanlah propaganda dengan menyerang warga sipil, merusak fasilitas daerah, serta membuat situasi tak aman sehingga keinginan mereka agar PBB turun tangan dan berujung pada referendum atau penentuan nasib bagi masyarakat Papua.

Pengamat Intelijen dan Terorisme, Stanislaus Riyanta pernah menilai bahwa dirinya sependapat adanya aksi yang dilakukan Kelompok Separatis di Papua merupakan strategi dari mereka, yakni motif eksistensi ingin menunjukkan keberadaannya di publik. Selain itu, mereka juga ingin menunjukkan resistensi terhadap program-program pemerintah. Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional – Pemuda Adat Papua (DPN-PAP) Jan Christian Arebo, pernah menyatakan bahwa kelompok separatis menjadi berani dan brutal dalam melakukan aksinya karena merasa mendapat dukungan. Diketahui bahwa terdapat peran-peran oknum di Papua yang mengatasnamakan Dewan Gereja yang hingga sampai hari ini terus bersuara mendukung Papua Merdeka.

Pada akhirnya pemerintah perlu merombak pendekatan untuk meredam kelompok separatis yang hingga kini masih berupaya menunjukkan eksistensinya serta berjuang memerdekakan diri dari Indonesia. Evaluasi kebijakan pengamanan di Papua secara menyeluruh sangat mendesak. Jangan sampai terjadi lagi adanya korban dari tukang ojek, tukang nasi goreng, warga sipil, atau dari manapun yang menjadi ‘tumbal’ motif eksistensi dari kelompok separatis di Papua.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment