Selpius Bobii

Tokoh Makar Papua Kembali Provokasi Masyarakat Sebut Jakarta Pecah Belah Papua

by Laura Felicia Azzahra
Selpius Bobii

nusarayaonline.id – Sebuah narasi disinformatif kembali dihembuskan oleh pihak aktivis yang berseberangan dengan kebijakan pemerintah Indonesia berkaitan dengan permasalahan tanah Papua. Narasi yang beredar dalam beberapa hari ini muncul dari seseorang yang mengaku sebagai Koordinator Jaringan Doa Rekonsilasi untuk Pemulihan Papua (JDRP2) bernama Selpius Bobii.

Dalam tulisannya, narasi yang berbentuk surat terbuka tersebut menyinggung bahwa target pemerintah pusat melalui istilah kata Jakarta disebut ingin memecah belah dan menjajah bangsa Papua sampai habis musnah dengan berbagai strategi yang dipakai di tanah Papua, melalui jembatan berbalut kebijakan Otsus dan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB).

Menurutnya, saat ini orang Papua disibukkan dengan persiapan pesta politik tahun 2024 sehingga memaksa masyarakat untuk merekam e-KTP dan sibuk untuk mengisi posisi-posisi penting di tiga pemekaran provinsi baru. Disebutnya bahwa kita tidak sadar semua hal tersebut merupakan perangkap untuk membuat masyarakat Papua terjerat. Di akhir tulisannya, ia menyinggung soal perang rohani dimana segala permasalahan kembali dipasrahkan kepada Tuhan melalui langkah pemulihan diri menuju pemulihan Papua. Salah satunya melalui doa puasa 40 hari 40 malam.

Pemanfaatan Isu Agama dan Jejak Selpius Bobii dalam Merespon Isu Papua

Sejauh ini, opini yang bersifat desktruktif terhadap pemerintah memang sering menjadi modus serangan oleh kelompok oposisi atau aktivis pro kemerdekaan Papua melalui berbagai manuver citra dan cerita yang bersifat persuasif untuk mempengaruhi publik bahwa Indonesia dengan segala macam kebijakannya terhadap Papua adalah hal yang tak tepat. Di mata mereka, kemerdekaan Papua adalah tujuan utamanya meski tidak tergambar secara jelas bagaimana nantinya Papua jika benar-benar lepas dari Indonesia. Adanya kejadian Timor-Timur yang harusnya bisa menjadi refleksi seperti tak digubris dan terus melenggang dengan keyakinannya sendiri.

Salah satu upaya persuasif untuk mempengaruhi publik adalah penggunaan isu ideologi atau agama. Sebagaimana wilayah Papua yang disebut sebagai tanah suci dengan masyarakat yang diberkati. Begitu banyak pihak yang kemudian memanfaatkan ‘kelebihan’ tersebut untuk mempengaruhi publik. Selain Selpius Bobbi, ada pendeta politik Socratez Yoman yang secara sengaja menggunakan mimbar gereja untuk mempengaruhi publik berseberangan dengan pemerintah. Padahal, pemerintahan yang sah harus dipatuhi oleh seluruh jemaat sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Secara eksistensi, jejak Selpius Bobbi tak bisa terlepas posisinya sebagai ketua Umum Eknas Front Pepera PB (Eksekutif Nasional Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat). Semasa kuliahnya, ia pernah ditangkap otoritas karena keterlibatan dalam demonstrasi terhadap perusahaan tambang Amerika Serikat Freeport-McMoran pada tahun 2006. Dalam penyelenggaraan Kongres Rakyat Papua III di bulan Oktober 2011, ia memegang peran utama dalam perencanaan kongres yang berujung pada penangkapan dengan tuduhan makar. Aksi terbaru yang dilakukannya, pada 20 Agustus 2022 lalu di aula Asrama Tunas Harapan Padang Bulan, Abepura. Ia menyampaikan visi Tuhan tentang masa depan bangsa Papua. Dalam visi tersebut disebut bahwa sistem pemerintahan yang digunakan ialah Teososiokrasi yang berarti pemerintahan berlandaskan Tuhan dengan sistem Partai Tunggal disebut ‘Partai Rakyat’ dibawah kendali otoritas adat Papua dan agama. Kembalinya sebuah rencana makar yang jauh dari sistem pemerintahan Indonesia.

Menanti Sikap Kritis Masyarakat Papua Menyikapi Manuver Selpius Bobbii

Dilihat dari jejak digital secara terbuka terkait kegiatan yang pernah dilakukan Selpius Bobbii. Penyampaian narasi provokatif baginya bukan merupakan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir penyampaian pikiran melalui wadah media menjadi jalan yang lumayan praktis bagi beberapa pihak untuk peningkatan eksistensinya. Hal ini tentu juga disadari oleh Selpius yang mengoptimalkan kecanggihan dan keefektifan media online untuk mempengaruhi publik Papua ditambah dengan bungkus label agama sehingga terkesan lebih ‘alim’ dan meyakinkan.

Jika publik jeli, akan menjadi hal ambigu bagi seseorang untuk mempercayai omongan dari aktivis yang beberapa kali masuk kantor polisi hingga ruang penjara karena sejumlah kasus. Menjadi pembelajaran bahwa penggunaan isu agama kini telah digunakan sebagai upaya untuk memuluskan kepercayaan seseorang. Berangkat dari hal tersebut, maka setiap orang harus memiliki kesadaran untuk mengklasifikasi dan menghindari sejumlah manuver atau pengkondisian lain dalam rangka memperluas dukungan untuk Papua merdeka.

Narasi Sesat Tuduhan Jakarta Pecah Belah Papua Adalah Jalan Pintas Pihak Oposisi

Penyebutan tak ada masa depan Papua dalam bingkai NKRI seperti yang disampaikan oleh Selpius Bobbi tak ubahnya sebagai bentuk keputusasaan dari dampak kebijakan pemekaran provinsi yang semakin mempersempit ruang geraknya untuk memperjuangkan pelepasan diri dari Indonesia. Penggunaan isu ideologi atau agama menjadi senjata pamungkas yang diharapkan bisa mempengaruhi publik. Sayangnya, modus tersbebut sudah usang. Masyarakat Papua kini telah paham politik dan tak mudah untuk dipengaruhi sekalipun melalui isu ideologi.

Kebijakan Otsus dan DOB jika dilihat dalam fakta di lapangan mendapat sambutan yang positif dari mayoritas masyarakat Papua. Bupati Jawawijaya, Jhon Richard Banua, menyatakan bahwa masyarakat harus mensyukuri pemekaran 3 Daerah DOB khususnya Provinsi Papua Pegunungan. Terdapat harapan besar dari pemerintah pusat terhadap pemekaran tersebut untuk meletakkan pijakan lebih kuat dalam rangka membangun kesejahteraan masyarakat yang terdampak dari pemekaran. Kekhususan bagi masyarakat Papua melalui pemekaran provinsi, diantaranya adanya penambahan kursi di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Majelis Rakyat Papua (MRP) yang memberikan kesempatan kepada masyarakat papua untuk dapat terus mengawal pembangunan. Dirinya juga meminta masyarakat Papua tetap menjaga keamanan dan ketertiban yang kondusif, karena terdapat beberapa kelompok orang yang ingin mengganggu kenyamanan dengan menyebarkan isu-isu yang meresahkan, termasuk salah satunya yang dilakukan Selpius Bobii ini.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Artikel Terkait

Leave a Comment