Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Papua ditargetkan mampu mandiri pangan pada 2027. Hal itu ia sampaikan dalam kunjungannya ke Papua, Kamis (11/12/2025), sebagaimana dilaporkan Antara.
Amran menjelaskan bahwa percepatan program cetak sawah, dukungan logistik, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menutup defisit pangan Papua yang selama ini masih bergantung pada pasokan daerah lain. Menurutnya, ketergantungan terhadap wilayah seperti Makassar dan Jawa menimbulkan tingginya biaya transportasi yang pada akhirnya ditanggung masyarakat.
Saat ini kebutuhan pangan Papua diperkirakan mencapai 660.000 ton per tahun, sementara produksi lokal baru sekitar 120.000–124.000 ton. Kekurangan hampir 500.000 ton tersebut, kata Amran, akan dikejar melalui ekspansi sawah baru dan intensifikasi lahan pertanian.
Rencana cetak sawah mencakup tambahan 20.000 hektare di Papua, 50.000 hektare di Papua Selatan, 17.000 hektare di Papua Barat Daya, serta potensi lahan baru di Sorong dan Papua Barat. Dengan total potensi perluasan mencapai sekitar 100.000 hektare, ia optimistis kebutuhan pangan Papua dapat dipenuhi dalam 5–10 tahun.
Amran menegaskan bahwa pangan adalah fondasi stabilitas bangsa. Negara, katanya, dapat bertahan dari krisis kesehatan dan krisis ekonomi, tetapi tidak dari krisis pangan. Karena itu, pemerintah mempercepat sejumlah langkah permanen, seperti penyaluran SPHP, pembangunan gudang penyimpanan di wilayah minus fasilitas, dan peningkatan kapasitas produksi pangan lokal.
Papua Raya, yang meliputi Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Pegunungan, telah disiapkan lahan sekitar 100.000 hektare untuk pembangunan pertanian yang digencarkan pada 2025–2026.
Ia berharap langkah besar ini bukan hanya menyelesaikan persoalan defisit beras, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat Papua.

