Momentum Baru Ekonomi Indonesia–Yordania di Balik Kunjungan Raja Abdullah II

by Isabella Citra Maheswari

Kedatangan Raja Abdullah II ibn Al Hussein ke Indonesia pada pertengahan November 2025 membawa perhatian tersendiri dari kalangan pengamat ekonomi. Salah satu yang menyoroti kunjungan ini adalah Adhitya Wardhono, akademisi dari Universitas Jember.

Ia memandang kunjungan tersebut sebagai peluang penting untuk memperluas kerja sama ekonomi Indonesia–Yordania di tengah dinamika global.

Dalam keterangannya di Jember pada Minggu (16/11), Adhitya menjelaskan bahwa hubungan kedua negara selama ini sering diasosiasikan dengan isu politik kawasan, terutama terkait Palestina. Namun, ia menilai momen kunjungan ini dapat menggeser fokus ke bidang ekonomi.

Menurutnya, kedua negara memiliki potensi besar untuk meningkatkan perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan.

Data terakhir menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Yordania pada 2024 mencapai 704,66 juta dolar AS. Sementara impor dari Yordania pada 2023 tercatat sekitar 190,72 juta dolar AS. Angka tersebut menggambarkan hubungan perdagangan yang masih terbuka untuk pengembangan.

Adhitya mengemukakan bahwa pasar Yordania mulai menunjukkan relevansi strategis bagi Indonesia, terutama dalam perluasan akses ke kawasan Timur Tengah.

Di sisi investasi, hubungan kedua negara masih terbatas. Realisasi investasi Yordania ke Indonesia pada Kuartal IV/2024 hanya sekitar 4,43 juta dolar AS.

Menurut Adhitya, nilai tersebut menunjukkan perlunya langkah lebih konkret untuk menarik investor Yordania ke sektor-sektor strategis di Indonesia.

Yordania menawarkan posisi geografis yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat rantai pasok ekspor. Negara tersebut berfungsi sebagai pintu masuk ke pasar Timur Tengah dan memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kondisi ini memungkinkan produk Indonesia untuk diperluas melalui mekanisme re-ekspor ke Irak, Palestina, Mesir, hingga kawasan Barat.

Adhitya menilai bahwa kerja sama ekonomi Indonesia–Yordania dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas jangkauan pasar global.

Kunjungan Raja Abdullah II dianggap sebagai titik awal untuk memperdalam hubungan ekonomi yang selama ini belum dimaksimalkan oleh kedua negara.

Artikel Terkait

Leave a Comment