PT Pertamina (Persero) melanjutkan komitmen meningkatkan kemandirian energi melalui pengembangan teknologi Multistage Fracturing (MSF). Proyek ini dijalankan di bawah pengelolaan PHR untuk mengoptimalkan produksi minyak dan gas di wilayah kerja Rokan.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan penerapan MSF menunjukkan bahwa Indonesia mulai mampu menguasai teknologi hulu migas yang sebelumnya didominasi perusahaan asing. Ia menilai teknologi tersebut akan membantu pemerintah meningkatkan produksi nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Pada kunjungan ke Riau pada 12 November 2025, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa penggunaan MSF merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat peningkatan produksi migas. Ia menekankan pentingnya kolaborasi di seluruh lini untuk menjaga keselamatan kerja dan efisiensi.
Wakil Direktur Pertamina, Oki Muraza, menyampaikan bahwa proyek MSF terbukti menurunkan biaya operasional. Tahun 2025, PHR mengembangkan sumur horizontal MSF dengan sistem plug and perf yang lebih efisien. Konfigurasi tersebut diklaim sebagai yang pertama digunakan di Indonesia.
Implementasi MSF dilakukan pada sumur KB570 di Lapangan Kotabatak. Pada 2025 dan 2026, Pertamina menargetkan pengembangan sejumlah sumur lain di Kotabatak, Bangko, dan Balam South East. Pertamina berharap program tersebut mendukung ketahanan energi dan mempercepat pencapaian target swasembada energi.

