Suasana di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 20 Sleman tampak berbeda. Setiap ruang kelas kini dipenuhi dengan smartboard dan laptop pribadi di tangan siswa.
Di balik transformasi ini, ada semangat baru: membangun manusia Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan melek teknologi.
Pelaksana Tugas Direktur Ekosistem Media Kemkomdigi, Farida Dewi Maharani, yang turut mendampingi kunjungan media ke sekolah itu mengatakan bahwa masa depan pendidikan tidak cukup bertumpu pada nilai akademik semata.
“Sekolah Rakyat bukan sekadar memberi pendidikan gratis, tapi membuka jalan agar anak-anak bisa tumbuh dengan karakter dan pemahaman digital,” ujarnya.
Baginya, teknologi adalah alat pemerataan, bukan sekadar simbol kemajuan. Melalui integrasi digital, siswa dapat berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan tetap menjunjung nilai tanggung jawab serta empati.
Konsep Sekolah Rakyat yang diusung pemerintah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto untuk mencetak generasi unggul dan berdaya saing global. Farida menyebut, pendidikan ideal harus mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan emosional.
Kepala Sekolah SRMA 20, Reti Sudarsih, mengamini hal itu.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa teknologi bisa menjadi sarana membangun karakter, bukan sekadar alat hiburan,” katanya.
Sekolah ini menjadi contoh nyata bahwa pendidikan berbasis nilai dapat berjalan berdampingan dengan inovasi digital.
Dengan dukungan Kemkomdigi, SRMA 20 bertransformasi menjadi ruang belajar yang tidak hanya mencetak siswa pintar, tetapi juga berkepribadian kuat dan peduli sesama.

