Oleh :
Steve Rick Elson Mara, S.H., M.Han
(Mahasiswa S3 Studi Perdamaian di UK)

Indonesia memiliki sitem pertahanan semesta yaitu sistem pertahanan yang melibatkan seluruh warga negara didalam mempertahankan kedaulatan negara. Dalam ciri pertahanan negara Indonesia yang kesemestaan tentunya sistem pertahanan Indonesia melibatkan Pemuda sebagai Agent Of Defence. Jika diamati kecendurangan ancaman dewasa ini merupakan ancaman unconventional, dimana ancaman non-militer lebih cenderung terjadi dibanding ancaman militer seperti perang langsung yang terjadi pada perang dunia 1 dan perang dunia 2.

Perkembangan Industri 4.0 juga telah merubah dimensi ancaman menjadi ancaman Cyber, perang dilakukan di dunia maya dengan menggunakan teknologi sebagai senjata utama atau perang terjadi akibat penggunaan teknologi.

Perubahan yang terjadi di Era globalisasi juga mengancam kedaulatan negara, hal itu disebabkan oleh banyaknya gagasan baru yang muncul tanpa sumber yang jelas kemudian merasuki pemikiran masyarakat. Gagasan yang datang tersebut sering bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam negeri, seperti gagasan membubarkan negara atau mendirikan negara didalam negara.

Saat ini pemerintah Indonesia harusnya cemas dengan kecenderungan berkembangnya kebudayaan trans-nasional pada generasi muda yang dikuatirkan akan merosotkan nasionalisme dan masyarakat Indonesia khususnya pemuda Indonesia lebih sadar global dibandingkan sadar nasional. 

Jika kita perhatikan didalam penelitian yang dilakukan we are social bekerja sama dengan Houtsuite maka terlihat bahwa populasi Indonesia 2025 mencapai 283,5 Juta jiwa, sedangkan pengguna internet di Indonesia mencapai 229,43 Juta. Jika dilihat dari pengguna internetnya yang sangat tinggi dan pengguna kecenderungan pengguna internet Indonesia yang adalah anak muda maka ancaman nyata dari dunia Internasional lebih mudah menyasar anak muda Indonesia.

Penulis mengamati bahwa saat ini sedang terjadi ancaman propaganda untuk merubah mindset para pemuda yang dilakukan sangat massif melalui jaringan internet untuk merobohkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Propaganda ini dilakukan dengan memutar balikan arah yang salah dibuat seolah-olah menjadi benar, contohnya yang sedang terjadi saat ini, demonstrasi yang ditujukan kepada DPR adalah tindakan benar karena disaat masyarakat kecil sedang berjuang untuk hidup, gaji dan tunjangan anggota DPR malah mencapai ratusan juta, serta tindakan korupsi yang dilakukan oknum pejabat negara yang semakin banyak, kenaikan pajak yang begitu tinggi bagi rakyat Indonesia, ketimpangan sosial yang dibangun akibat ketidakadilan yang diberikan kepada masyarakat ekonomi lemah dan tinggi.  

Namun, menjadi tidak benar ketika akumulasi kekecewaan tersebut kemudian merambat ke tuntutan ganti Presiden, bubarkan DPR, menyerang Polisi, bubarkan Polisi, melakukan adu domba antara TNI dan POLRI, melakukan penjarahan dirumah-rumah warga, merusak dan membakar fasilitas umum, mengganggu ketertiban umum, dan mengunakan isu ini untuk kepentingan memecah belah bangsa seperti menuntut kemerdekaan daerah.

Alih-alih ingin mengacaukan Indonesia dengan memainkan understrategy dengan cara halus yaitu menggunakan rasa cinta tanah air atau mengibarkan bendera merah putih untuk menunjukan kepedulian terhadap nusantara, memblowup informasi kebahagiaan DPR dengan disandingkan foto dan video masyarakat miskin Indonesia, mengatur pembagian informasi seakan-akan pemerintah sangat tidak peduli dengan masyarakat dengan mencari kesalahan pemerintah untuk dinaikan ke media, memotong dan mengedit informasi hoax dan ujaran kebencian.

Penulis menyebutnya ada people behind the scene yang menggunakan rasa kekecewaan masyarakat Indonesia untuk memuluskan ide besarnya menghancurkan Indonesia, atau menjalankan idenya untuk membawa malapetaka. Isu ini kemudian di framming di media sosial dan media mainstream lainnya dengan sebuah hastag Indonesia Gelap dan Indonesia Bubar.

Propaganda ini disebut penulis sebagai Propaganda 4.0. Propaganda merupakan cara paling efektif yang dilakukan untuk mengubah mindset seseorang terutama seorang pemuda yang memiliki tingkat kelabilan yang masih sangat tinggi ditambah pemuda yang tidak sepenuhnya memiliki rasa cinta akan persatuan dan kesatuan bangsa, atau dengan kata lain pemuda yang sudah terpapar dengan gerakan ektrim, separatis, dan teroris.

Dalam Research yang dilakukan oleh Global Future Institute menyebutkan bahwa salah satu ancaman yang saat ini sedang mengancam kedaulatan Indonesia adalah Balkanisasi Nusantara. Balkanisasi Nusantara adalah Rencana negara adikuasa dan sekutunya untuk memecah Indonesia menjadi 8 negara-negara kecil yang merdeka. Lia Lestari seorang peneliti dalam akun youtubenya menjelaskan bahwa Istilah Balkanisasi ini awalnya dipakai untuk menyebut pemecahan negara-negara disekitar semenanjung Balkan Eropa yang pada awalnya menjadi wilayah kesultanan Turki Utsmani atau Ottoman Empire dan juga kekaisaran Austria-Hungaria. Dua Kekaisaran tersebut dipecah menjadi negara-negara kecil seperti Turky, Syiriah, Iraq, Lebanon, Palestina, Bulgaria, Romania, Yugoslavia, Hungaria, Austria, dan Cekoslovakia. Yang menjadi pertanyaan adalah kekuatan besar seperti apa yang dapat memecah kekuatan dua kekaisaran besar pada saat itu?

Bagaimana dengan Indonesia yang juga adalah negara yang terdiri dari 17ribu pulau dan ratusan suku bangsa ini? Hal ini tentunya akan menjadi makanan empuk para elit global untuk membuat propaganda, menghadirkan ancaman nyata untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk apa? Agar elit global dengan mudah dapat menguasai sumber daya alam yang dimiliki setiap daerah di Indonesia. Contohnya: Timor Timur yang lepas dari Indonesia namun sampai saat ini masyarakat Timor tidak menikmati kekayaan alamnya melainkan diambil oleh para elit global.

Apa daerah selanjutnya yang menjadi sasaran para elit global? Tentunya daerah di Indonesia yang memiliki sumber daya alam melimpah. Kenapa harus dipisahkan dari pemerintah? Karena dengan berpisah dari nusantara maka akan sangat mudah untuk diambil kekayaannya karena tidak ada aturan yang mengikat para elit global untuk menguras habis kekayaan alam yang dimiliki daerah-daerah tersebut.

Kapan elit global akan bekerja untuk mengambil alih? saat ini tidak terlihat pergerakan mereka karena menggunakan understrategy dan propaganda mindset yang dilakukan untuk membentuk manusia yang kontra dengan semua kebijakan yang diambil dari pemerintah. Yang dimaksud sebagai understrategy adalah propaganda dibuat sehalus mungkin agar rencana memecah Indonesia tersebut terlihat bergerak demi merah putih, demi Indonesia, demi ibu pertiwi, pada kenyataanya, Ibu pertiwi sedang dipermainkan untuk memuluskan ide memecah Indonesia.

Kapan elit global akan memainkan perannya untuk mengambil kekuasaan terhadap sumber daya alam Indonesia? Pada saat suatu daerah mendapat kemerdekaan maka pada masa transisi pemerintahan itulah para elit global akan menunjukan aksi mereka. Hal yang sama juga akan terjadi ketika tuntuan untuk menurunkan Presiden, membubarkan DPR, membubarkan Polisi, menciptakan konflik antara TNI dan POLRI terjadi.

Propaganda seperti ini perlu menjadi perhatian serius dari setiap golongan masyarakat di nusantara jangan sampai kita menjadi korban Balkanisasi Nusantara saat ini. Penulis mengingatkan kepada seluruh pemuda baik Pemuda Papua sampai Pemuda di Aceh agar tetap menjaga integritasnya, jangan sampai menjadi korban propaganda 4.0 tetapi persiapkanlah diri dengan mengenyam Pendidikan sebaik mungkin agar dapat menjadi agen pembangungan dan dapat mengantarkan Indonesia, menuju Indonesia emas.

Sehingga Pemuda harus menjadi titik pergerakan dalam sistem pertahanan negara. Peran generasi muda harus kembali dioptimalisasikan melalui pendidikan kader bela negara yang dilaksanakan oleh kementrian pertahanan RI guna menciptakan sikap cinta tanah air dan rela berkorban bagi bangsa, atau kegiatan serupa yang dilaksanakan pemerintah Jawa Barat yaitu masuk barak militer, untuk melatih ketahanan anak muda dan pemahaman lebih terhadap nilai persatuan dan gotong royong untuk menjaga NKRI.

Peran anak muda 4.0 juga dapat dibentuk melalui penyebaran konten positif melalui teknologi internet dalam bentuk literasi tentang kesadaran berbangsa dan bernegara. Menanam jiwa patriot bela negara sebagai salah satu dasar untuk memiliki kemampuan awal bela negara. Selain itu, penanaman nilai 4 konsensus kebangsaan yaitu: Pancasila UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika juga penting untuk dilakukan dalam meningkatkan integritas pemuda.

Anak Muda 4.0 juga harus memiliki kecakapan dalam berkreasi dan inovatif, berpikir kristis, berkomunikasi, dan melakukan kolaborasi untuk meningkatkan kegiatan positif. Jika peran pemuda tersebut optimal maka sistem pertahanan negara yaitu sistem pertahanan semesta akan lebih kuat serta kepentingan bangsa akan lebih optimal untuk dijalankan dalam mencapai tujuan nasional. Hal ini sejalan dengan 4 pilar arah pembangunan Indonesia 2045, yaitu : (1). Pengembangan manusia dan penguasaan sains dan teknologi, (2). Pembangunan Ekonomi berkelanjutan, (3). Pembangunan yang adil, (4). Memperkuat ketahanan dan Pemerintahan Nasional.

Tetapi juga pemerintah perlu memperkuat sistem pemerintahan dan memperkuat penegakan hukum kepada tindakan korupsi agar tidak terjadi ketimpangan sosial. Sistem demokrasi dalam memilih dan dipilih harus dilakukan dengan cara-cara yang dapat memenuhi ekpetasi masyarakat luas, dan masyarakat juga dalam memilih wakil rakyat jangan tergiur dengan tawaran sesaat yang diberikan namun lebih melihat rekam kerja dan rencana kontribusi yang akan diberikan wakil rakyat tersebut untuk rakyat didaerahnya kedepan. Dengan demikian, sistem demokrasi akan berjalan dengan baik, dan rakyat akan berperan penting dalam merawat Indonesia menuju Indonesia Emas.

Artikel Terkait

Leave a Comment