Keluhan dilayangkan oleh pelaku industri di sekitaran Jawa Barat soal gangguan pasokan gas pipa dari PT PGN Tbk belakangan ini. Merespons ini, PGN telah mengambil langkah-langkah intensif untuk menjaga keandalan dan stabilisasi pasokan gas bagi pelanggan di Jawa Barat dan sebagian Sumatra.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengungkapkan, saat ini tekanan gas dalam infrastruktur pipa secara berangsur telah stabil karena adanya tambahan gas untuk mengisi stok dalam jaringan.
PGN juga telah mengonfirmasi adanya tambahan pasokan gas lain untuk dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan keandalan operasional dan menjaga kestabilan pasokan kepada pelanggan.
“Hal ini merupakan bentuk sinergi PGN dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mengupayakan stabilisasi dan penguatan pasokan gas, untuk memastikan keberlangsungan layanan kepada pelanggan,” ujar Fajriyah lewat keterangan tertulisnya, Jakarta, Senin (18/8).
Dia juga menegaskan, perseroan terus mengupayakan ketersediaan pasokan gas bumi untuk mendukung keberlangsungan operasional seluruh pelanggan, terutama sektor industri.
Di lain sisi, Fajriyah juga mengingatkan pelanggan industri agar mengendalikan pemakaian gas dalam rangka menjaga kestabilan pasokan.
“Kami mengapresiasi dukungan penuh pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terkait serta terus berkoordinasi aktif untuk mendapatkan solusi terbaik dalam mendapatkan pasokan gas secara berkelanjutan,” tuturnya.
Fajriyah sebelumnya mengungkapkan, hambatan pengaliran gas kepada pelanggan tak lepas dari menurunnya produksi dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di sisi hulu yang bermitra dengan PT PGN Tbk.
Penurunan volume gas, sambung Fajriyah, disebabkan pemeliharaan operasional tak terencana (unplanned) pada beberapa pemasok gas. Sedangkan rencana tambahan pasokan gas masih dalam proses.
Tak sampai situ, Subholding Gas PT Pertamina tersebut pun belum mendapat tambahan kargo Liquified Natural Gas (LNG) periode Agustus 2025 sebagai sumber alternatif lain. Sehingga untuk sementara waktu, PGN meminta pelanggan agar melakukan penyesuaian konsumsi gas bumi.
“Kami telah menyampaikan kepada pelanggan terdampak untuk melakukan pengaturan pemakaian gas, dan bagi pelanggan dengan sistem dual fuel untuk sementara mempersiapkan bahan bakar lainnya sebagai energi pengganti,” tutur Fajriyah, Kamis (14/8).
SKK Migas Pastikan Pasokan Gas Berangsur Normal
Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto memastikan pasokan gas untuk kebutuhan industri berangsur normal setelah mengalami penurunan volume.
“Aman, aman. Perlahan sudah mulai membaik,” kata Djoko kepada awak media selepas Upacara Kemerdekaan RI Ke-80 di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Minggu (17/8).
Djoko menjelaskan, penurunan volume gas untuk industri tak lepas dari insiden kebakaran Gas Line CO2 Removal milik PT Pertamina di Stasiun Pengumpul Desa Cidahu, Subang, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Akibat insiden itu, penyaluran gas terpaksa dihentikan. Sementara konsumen, hanya bisa menikmati gas dari sisa yang ada di dalam pipa.
“Yang kedua itu juga ada maintenance di Medco sehingga tidak ada gas yang masuk dalam pipa, konsumen hanya menerima gas yang tersisa dalam pipa,” sambungnya.
Kebocoran Gas Line CO2 Removal milik Pertamina ditambah perbaikan infrastruktur milik MedcoEnergi, langsung berdampak pada pengurangan volume gas yang ada di dalam pipa.
Namun secara perlahan, tekanan gas mulai normal seiring rampungnya perbaikan Gas Line CO2 Removal di Subang, Jawa Barat. Djoko memastikan, sudah tak ada lagi kendala sejak 15 Agustus 2025 lalu.
“Gas dari subang kita bypass karena di situ kan terjadi kebakaran putus. Kita bypass perlahan-lahan kita masukkan 8 MMSCFD, lalu 28 MMSCFD. Kemudian di Pusri kan juga ada maintenance itu kita masukkan hampir 50 MMSCFD, kemudian Medco juga menambah gas. Lalu kita juga pakai gas yang ada di FSRU Lampung, LNG kita masukkan. Jadi, semua aman,” jabar dia.

