Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyebut, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) selaku mitra terbaru Danantara, siap mendanai proyek energi hijau atau energi terbarukan (renewable energy) di Indonesia.
Menurut penuturan CEO Danantara Rosan Roeslani, Danantara telah melakukan kemitraan strategis dengan JBIC. Kerja sama ini sekaligus menjadi “oleh-oleh” kepulangannya dari Jepang pada pekan lalu.
“JBIC akan memberikan pendanaan jangka panjang untuk proyek-proyek terutama renewable energy dan proyek-proyek yang bersifat sustainability atau berkelanjutan terutama di energi hijau,” ucap Rosan saat ditemui seusai raker dan RDP bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (23/7/2025).
Rosan mengartikan kesiapan JBIC mendanai proyek hijau di Indonesia tersebut sebagai sebuah kepercayaan dunia luar atau investor dari negara-negara lain terhadap Danantara.
Sebab, mitra strategis Danantara yang siap berinvestasi di Indonesia bukan hanya JBIC. Tetapi, kata Rosan, ada juga Qatar Investment Authority (QIA)–Sovereign Wealth Fund (SWF) Qatar–yang sudah bersepakat membangun joint fund sebesar US$ 4 miliar.
Di luar itu, ada pula SWF asal China yaitu China Investment Corporation (CIC). Kemudian, Russian Direct Investment Fund (RDIF) asal Rusia, dan Public Investment Fund (PIF), SWF milik Arab Saudi, yang akan bekerjasama.
Karena itu, menurut Rosan, Danantara perlu menjaga momentum yang baik tersebut. Dengan cara, selalu menjalankan tata kelola investasi dan operasi berkelas dunia atau world class operation and investment.
“Jadi, itu yang kami jaga dan sekali lagi, saya ingin berterima kasih kepada pimpinan terutama ketua Komisi XI DPR RI yang terus menerus memberikan masukan ke depannya dan input kepada kami,” tutur Rosan.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun juga menyampaikan bahwa rapat antara Komisi XI dan BPI Danantara ini membahas mengenai rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) Danantara yang harus dikonsultasikan kepada Komisi XI.
“Jadi, sesuai dengan keputusan paripurna pada 1 Juli 2025, sudah diputuskan Danantara dan Holding Investasi serta Public Service Obligation (PSO) berada di Komisi XI. Kemudian, Holding Operasional berada di Komisi VI,” ucap dia.
Danantara, demikian disampaikan Misbakhun, juga membicarakan spesifik mengenai sejumlah investasi. Oleh sebab itu, investasi Danantara diharapkan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan sesuai dengan harapan Presiden Prabowo Subianto.
“Kami melihat, Danantara mempunyai proyek yang bagus bagaimana mengisi ruang-ruang investasi di mana peran negara itu hadir dan kemudian menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi,” tandas Misbakhun.

