Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria, memaparkan rencana kerja enam bulan ke depan yang mencakup restrukturisasi dan konsolidasi sejumlah bisnis di perusahaan pelat merah. Restrukturisasi ini akan menyasar sektor penerbangan, kereta cepat, dan manufaktur baja.
Dony menyebut langkah tersebut bagian dari tugas Danantara dalam mengelola aset Kementerian BUMN melalui Danantara Asset Management. “Kami harapkan ini akan menyelesaikan persoalan yang kami klasifikasikan sebagai urgen dan important,” ujar Dony dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR dan Kementerian BUMN di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 23 Juli 2025.
Untuk konsolidasi, Dony menargetkan sektor pupuk, rumah sakit, hotel, dan gula sebagai fokus awal. Ia juga menyebut konsolidasi akan dilakukan di sektor hilirisasi minyak, asuransi, dan kawasan industri.
Selain itu, Danantara juga akan mengelola aset di sektor pangan, baterai, semen, telekomunikasi, dan perkapalan. Dony menegaskan pengelolaan aset ini akan mengedepankan tata kelola yang baik melalui kebijakan dan prosedur yang ketat.
Sementara itu, Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menjelaskan badan pengelola investasi ini bertugas mengonsolidasikan seluruh aset BUMN untuk meningkatkan nilai dan optimalisasi aset negara. “Danantara dibentuk untuk menempatkan Indonesia sebagai kekuatan global yang bertumpu pada sektor-sektor strategis,” kata Rosan.
Rosan menambahkan, Danantara memiliki wewenang mengelola dividen dari holding operasional, yang akan diinvestasikan kembali ke dalam holding investasi maupun BUMN terkait. Menurutnya, pembentukan holding operasional dan holding investasi telah mendapat persetujuan dari Menteri BUMN Erick Thohir.
Dalam hal pengawasan, Rosan memastikan Danantara didampingi tiga komite untuk mengaudit pelaksanaan tugas: Komite Nominasi dan Remunerasi, Komite Etik, serta Komite Audit. “Setiap komite berlapis ini ada dalam setiap susunan yang berada di struktur Danantara,” ujar Rosan.

