Pemeriksaan Kesehatan Gratis Kini Jangkau Siswa Sekolah

by Isabella Citra Maheswari

Program Cek Kesehatan Gratis pada anak sekolah mulai dilakukan pada tahun ajaran baru 2025/2026. Program ini dimulai dari Sekolah Rakyat, sedangkan untuk sekolah umum rencananya baru akan dilakukan pada awal Agustus 2025. 

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, program Cek Kesehatan Gratis anak sekolah akan menyasar 28,2 juta peserta didik tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiah (MI) atau pesantren sederajat, 13,3 juta peserta didik tingkat SMP/MTs/pesantren sederajat, dan 12,04 juta anak SMA/SMK/MA/pesantren sederajat.

Selain itu, program ini akan menyasar 161.318 siswa sekolah luas biasa (SLB) dan 6.105 siswa Sekolah Rakyat. Adapun total sasaran program Cek Kesehatan Gratis anak sekolah sebanyak 53,8 juta peserta didik yang tersebar di 282.464 satuan pendidikan. 

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Endang Sumiwi mengutarakan, program Cek Kesehatan Gratis untuk anak sekolah akan mulai dilaksanakan di Sekolah Rakyat. 

Pada awal tahun ajaran baru 2025/2026, Cek Kesehatan Gratis anak sekolah akan dimulai di 72 sentra Sekolah Rakyat di sejumlah wilayah Indonesia. ”Yang sekolah umum baru mulai pada Agustus 2025,” ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Senin (14/7/2025).

Endang menuturkan, berbagai persiapan telah dilakukan sebelum pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis anak sekolah. Sejumlah simulasi pun dilakukan di sekolah umum dan pesantren, yakni di BPK Penabur Tangerang dan Pesantren Asshidiqiyah Jakarta Barat.

Untuk uji coba di BPK Penabur melibatkan 20 anak pada jenjang SD sampai SMA. Sementara untuk uji coba di Pesantren Asshidiqiyah melibatkan 10 anak setingkat SMP sampai dengan SMA. 

Menurut Endang, program Cek Kesehatan Gratis anak sekolah sama pentingnya dengan cek kesehatan gratis ulang tahun yang sudah dimulai sebelumnya. Dengan pemeriksaan kesehatan pada anak sekolah, diharapkan masalah kesehatan yang dialami anak bisa diketahui sejak dini sehingga koreksi bisa dilakukan dengan cepat. 

”Tentu kita ingin segera mendapatkan koreksi cepat dari apa yang kita temukan pada anak sekolah. Sebab, kita ingin anak sekolah adalah generasi yang di masa produktifnya bisa sangat sehat dan menjadi generasi yang produktif ke depan,” tuturnya.

Mengutip hasil Survei Kesehatan Indonesia, terdapat masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada usia anak sekolah. Masalah itu meliputi perilaku merokok yang tinggi, prevalensi anemia pada remaja putri, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, dan masalah kesehatan jiwa, termasuk pikiran untuk mengakhiri hidup. 

Endang menuturkan, program Cek Kesehatan Gratis akan dilaksanakan pada seluruh tingkat pendidikan, mulai dari kelas satu SD sampai kelas 12 atau tiga SMA atau sederajat. Sasaran pemeriksaan kesehatan gratis yakni anak berusia 7-17 tahun yang akan dilaksanakan di sekolah. 

”Bagi anak yang tidak sekolah nanti akan didorong untuk pergi memeriksakan kesehatan di puskesmas. Program ini harus kita lanjutkan dengan tata laksana, baik tata laksana individu maupun tata laksana kolektif,” ungkapnya.

Ia pun memastikan bahwa program Cek Kesehatan Gratis akan terus berlanjut. Pemerintah telah memasukkan program Cek Kesehatan Gratis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2025-2029. 

”Tentu kita ingin (program Cek Kesehatan Gratis) ini menjadi program yang berjalan terus karena pasti ini akan memperbaiki derajat kesehatan masyarakat Indonesia,” ujar Endang.

Jenis pemeriksaan

Secara teknis, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Lovely Daisy mengungkapkan, jenis pemeriksaan yang diberikan pada anak sekolah akan disesuaikan pada risiko kesehatan dan usia dari anak tersebut. 

Untuk anak usia sekolah dasar 7-12 tahun, pemeriksaan yang diberikan antara lain pemeriksaan status gizi, perilaku merokok khusus kelas 5-6, tingkat aktivitas fisik untuk kelas 4-6, tekanan gula darah, tuberkulosis, pemeriksaan telinga, mata, gigi, risiko hepatitis B, kesehatan reproduksi untuk kelas 4-6, dan kesehatan jiwa.

Sementara pada anak usia SMP atau usia 13-15 tahun, pemeriksaan tak jauh berbeda pada anak usia SD dengan tambahan pemeriksaan terkait risiko talasemia dan pemeriksaan riwayat imunisasi HPV khusus siswa putri kelas 9. Untuk anak usia SMA, pemeriksaan akan sama dengan siswa SMP tetapi tanpa pemeriksaan riwayat imunisasi HPV.

”Untuk tindak lanjut secara kelompok akan dilakukan setelah hasil cek kesehatan gratis dianalisis oleh puskesmas bersama dengan sekolah. Ini nanti dikoordinasikan dengan dinas kesehatan, dinas pendidikan, dinas agama, dan dinas sosial,” ungkapnya.

Secara terpisah, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di sela-sela acara ”Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Rakyat Tahun Ajaran 2025/2026” menuturkan, hasil pemeriksaan sementara pada anak sekolah di sekolah rakyat setidaknya ditemukan 18 masalah kesehatan. 

Persoalan paling banyak yang ditemukan yakni masalah kesehatan gigi, kesehatan mata, dan prehipertensi. ”Jadi (masalah kesehatan mata) ini mesti kita kasih kacamata. Kalau tidak, nanti belajarnya akan terganggu. Anak-anak ini akan kita urus supaya tak pernah sakit. Kalau perlu, selama sekolah bisa sehat terus,” tuturnya.

Sebelumnya, Budi mengatakan, program Cek Kesehatan Gratis anak sekolah tak hanya bertujuan untuk skrining atau penapisan masalah kesehatan, tetapi juga membangun kebiasaan hidup sehat sejak usia dini. Revitalisasi unit kesehatan sekolah (UKS) diperlukan pula sebagai garda terdepan dalam layanan kesehatan di lingkungan pendidikan.

Artikel Terkait

Leave a Comment