Danantara Jalin Kemitraan Strategis dengan SWF Asing, Perkuat Arus Investasi Global

by Isabella Citra Maheswari

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mencatat sejumlah kemitraan investasi dengan tiga sovereign wealth fund (SWF) negara lain selama semester I 2025. Ada Qatar Investment Authority (QIA), Future Fund Australia, serta China Investment Corporation (CIC).

Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, mengatakan kerja sama di tingkat global ini tidak hanya menandai tonggak penting dalam ekspansi platform investasi Danantara Indonesia. Akan tetapi, juga mencerminkan pendekatan baru dalam pengelolaan aset negara yang berorientasi pada transparansi, mitigasi risiko, dan penciptaan nilai jangka panjang.

“Dalam empat bulan sejak awal didirikan, potensi nilai dari kolaborasi global yang telah diumumkan menegaskan meningkatnya kepercayaan mitra internasional terhadap peran strategis Danantara Indonesia,” tuturnya dalam keterangan resmi pada Senin, 14 Juli 2025.

Kemitraan pertama dijalin pada 15 April 2025, ketika Danantara Indonesia dan QIA menandatangani kesepakatan pembentukan dana investasi bersama senilai US$ 4 miliar. Dana ini difokuskan pada sektor hilirisasi industri, energi terbarukan, dan layanan kesehatan, sektor-sektor prioritas dalam agenda transformasi ekonomi Indonesia.

Kemudian, pada 16 Mei 2025, kerja sama dijalin dengan Future Fund Australia, yang merupakan SWF milik pemerintah Australia dengan total aset lebih dari AUD 300 miliar. Kerja sama ini diumumkan di sela-sela Indonesia-Australia Annual Leaders’ Meeting di Jakarta ketika itu. 

“Australia juga menyampaikan dukungan terhadap keanggotaan Danantara Indonesia dalam International Forum of Sovereign Wealth Funds (IFSWF), forum global yang mendorong penerapan prinsip-prinsip tata kelola yang kuat dalam pengelolaan dana publik,” kata Al-Arief.

Pada bulan yang sama, kerja sama ketiga ditandatangani dengan CIC, salah satu SWF terbesar dunia dengan mandat pengelolaan cadangan devisa Cina, tepatnya 25 Mei 2025. Keduanya sepakat untuk menjajaki pembentukan platform investasi ASEAN–Tiongkok. Dana ini akan difokuskan pada sektor manufaktur, teknologi, kesehatan, dan barang konsumsi, serta dirancang dengan prinsip imbal hasil optimal dan dampak pembangunan yang terukur.

Ia menyatakan bahwa bagi Danantara, setiap kemitraan bukan sekadar transaksi keuangan. Lebih dari itu, ujarnya, kemitraan menjadi langkah strategis untuk membangun tata kelola yang setara dengan standar global. “Kami belajar dan bermitra langsung dari para pengelola aset terbaik dunia dan menjadikannya bagian dari transformasi kelembagaan jangka panjang,” katanya.

Menurut Al-Arief, kolaborasi ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menarik sebagai tujuan investasi, tetapi juga telah berkembang menjadi mitra pengelola investasi yang dapat dipercaya di panggung global. Melalui kerja sama dengan sejumlah SWF global ini, Danantara disebut tidak sekadar mengakses pendanaan dan peluang investasi lintas negara, tetapi juga memperkuat kapabilitas kami dalam menjalankan tata kelola aset negara agar mampu setara dengan praktik terbaik dunia.

“Ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan kami membangun kelembagaan yang kokoh dalam mengelola aset bangsa ini,” ujarnya.

Ia mengklaim Danantara banyak mempelajari secara langsung kerangka tata kelola, manajemen risiko, dan model alokasi aset yang telah terbukti sukses di institusi negara lain. Tujuannya, untuk membangun sistem yang relevan dengan mandat nasional dan tantangan masa depan Indonesia. 

Langkah-langkah tersebut dinilai mencerminkan transformasi menyeluruh yang tengah dijalankan Danantara untuk membangun fondasi kelembagaan yang lebih adaptif, transparan, dan berorientasi hasil. “Dengan pendekatan lintas sektor dan pembelajaran global, Danantara Indonesia menyiapkan kerangka kerja baru dalam pengelolaan aset negara yang lebih terintegrasi dan berdaya saing tinggi,” ujar Al-Arief.

Artikel Terkait

Leave a Comment