Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara memberi pinjaman senilai Rp 6,65 triliun untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Adapun peruntukan pinjaman itu untuk mendanai kebutuhan perawatan dan peningkatan operasional armada di maskapai penerbangan tersebut.
Chief Operating Officer BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan pinjaman tersebut sebagai bentuk restrukturisasi dan transformasi persero di bawah pengelolaan Danantara Indonesia. Menurut dia, Garuda Indonesia bukan hanya entitas bisnis, melainkan juga simbol kedaulatan udara dan kebanggaan nasional.
Dony menyebut penyaluran pinjaman dalam bentuk dana itu sudah melalui pendekatan yang profesional, terukur, dan mengedepankan prinsip tata kelola. “Kami bukan sekadar memberikan pendanaan, namun kami hadir sebagai pemegang saham dengan mandat yang jelas dan pendekatan institusional,” kata Dony dikutip dari keterangan resmi Garuda Indonesia, Kamis, 26 Juni 2025.
Pintu masuk pendanaan itu melalui PT Danantara Asset Management (Persero) sebagai bagian dari BPI Danantara. Untuk tahap awal, pendanaan ini bakal fokus para perawatan dan peningkatan kesiapan operasional armada Garuda Indonesia Group, baik itu untuk Garuda Indonesia sebagai full service carrier (FSC) maupun Citilink sebagai low cost carrier (LCC).
Pinjaman dari Danantara untuk Garuda Indonesia ini terkesan seperti ‘angin segar’ untuk meningkatkan perkembangan bisnis perseroan itu karena merugi terus. Dalam siaran pers 26 Maret 2025, manajemen Garuda menyatakan kerugian terjadi karena kenaikan beban usaha 18,32 persen. Selain itu, pendapatan lain-lain bersih turun 77,39 persen. Padahal di 2023 Garuda mencatatkan keuntungan dari obligasi dan pendapatan restrukturisasi anak perusahaan. “Sementara transaksi serupa tidak terjadi di tahun 2024,” demikian petikan pernyataan manajemen Garuda.
Kerugian pun berlanjut pada kuartal I 2025, yaitu sebesar US$ 75,9 juta. Angka kerugian itu diperoleh meski jumlah penumpang dan pendapatan perusahaan naik secara tahunan.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. Wamildan Tsani Panjaitan memaparkan sejumlah tekanan yang dihadapi industri penerbangan. Menurut dia, industri penerbangan mesti menghadapi kenaikan harga bahan bakar, Avtur, biaya perawatan yang makin tinggi, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas nilai tukar.
Menurut mantan Pelaksana Tugas Direktur Utama Lion Air itu, faktor tersebut menyebabkan biaya operasional naik dan membebani maskapai penerbangan. “Biaya, biaya, dan biaya,” kata Wamildan dalam forum International Conference on Infrastructure 2025, Rabu, 11 Juni 2025.
Pinjaman dana dari Danantara menurut Wamildan bisa mendukung Garuda Indonesia dalam memproyeksikan penguatan kapabilitas operasional lewat optimalisasi bisnis dan kinerja. Dia yakin bahwa keberhasilan penyehatan kinerja tidak hanya bergabung pada dukungan finansial semata, tapi juga komitmen perusahaan yang didukung banyak pihak. “Sehingga memperkokoh posisi Garuda Indonesia sebagai maskapai kelas dunia,” ucap Wamildan merespons pinjaman dana itu.

