Pengelolaan Air Dunia Jadi Kunci Swasembada Pangan

by Isabella Citra Maheswari

Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Isu Air Dunia, menegaskan bahwa manajemen air yang berkelanjutan bisa memberikan dampak besar terhadap visi swasembada pangan Indonesia. 

Dalam webinar yang digelar di Jakarta, Senin (16/6/2025), Retno menyebut pengelolaan air yang baik mampu menekan kasus stunting, malnutrisi anak, hingga kelaparan yang masih menghantui beberapa daerah.

“Dengan manajemen air yang berkelanjutan, swasembada pangan akan memberikan multiplier effect yang bisa dirasakan seluruh bangsa,” ujar Retno seperti dikutip dari siaran webinar.

Menurutnya, pendekatan terintegrasi harus dilakukan secara kolaboratif oleh berbagai pihak, pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil. Retno juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir: memproduksi lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit atau produce more with less.

Manajemen Air: Bukan Beban, Tapi Investasi

Retno menolak anggapan bahwa isu air dunia dan manajemen berkelanjutan merupakan beban tambahan. Ia menegaskan, langkah ini justru adalah investasi jangka panjang bagi stabilitas pangan global.

“Inovasi di bidang pertanian, terutama yang memperhatikan efisiensi air, bisa menjadi game changer dalam membangun ketahanan pangan dunia,” ujarnya.

Masalah air tak bisa diselesaikan tanpa data yang akurat. Retno menyebut perlunya informasi yang andal terkait ketersediaan air, kebutuhan pangan, hingga fluktuasi iklim yang memengaruhi suplai air.

“Data yang tepat jadi fondasi perencanaan produksi pangan yang tangguh. Itu penting di tengah tantangan iklim dan kekeringan,” katanya.

Lebih jauh, Retno mendorong riset berbasis teknologi seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mengelola air dan sistem pangan secara cerdas dan efisien.

Perempuan dan Pemuda, Garda Depan Sistem Pangan

Retno juga menyoroti pentingnya melibatkan perempuan dan generasi muda dalam transformasi sistem pangan. Ia menyebut, di banyak negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, perempuan menyumbang setengah tenaga kerja sektor pertanian.

Namun, perempuan masih menghadapi hambatan seperti keterbatasan akses terhadap lahan, teknologi, pelatihan, dan pembiayaan. Padahal, jika hambatan itu diatasi, hasil pertanian bisa meningkat signifikan.

“Jika perempuan punya akses yang setara, hasil pertanian bisa naik hingga 30 persen dan potensi mengurangi kelaparan global sebesar 12 hingga 17 persen,” tegas Retno.

Isu air dunia kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ketahanan pangan nasional dan global. Dengan kepemimpinan Retno di panggung internasional, Indonesia punya peluang besar untuk memimpin transformasi manajemen air yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan. 

Artikel Terkait

Leave a Comment