Antisipasi Ancaman Perang Dunia, Steve Mara: Batalyon Tempur, Armada Laut dan Udara Harus Diperkuat dan dibutuhkan modernisasi Alat Pertahanan di Wilayah Papua

by Isabella Citra Maheswari

Peningkatan Geopolitik dikawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi perhatian dunia, terutama bagi Indonesia sebagai negara besar yang berada dikawasan ini. Terdapat beberapa kekuatan pertahanan besar diwilayah ini seperti kekuatan China, Amerika Serikat, dan juga Rusia. Dengan keberadaan basis-basis militer Amerika Serikat diwilayah Pasifik dan Hindia, bahkan ada wilayah di Indonesia timur direncanakan untuk menjadi pangkatan militer Rusia yaitu pulau Biak. Berdasarkan Informasi yang didapatkan dari bbc.com bahwa Rusia berencana menempatan kekuatan pertahanan udaranya di wilayah Biak untuk mengantisipasi ancaman Amerika Serikat di Wilayah Pasifik, namun hal itu tidak setujui oleh pemerintah Indonesia.

Selain itu, hubungan diplomatik antara pemerintah Papua New Guinea (PNG) dan Israel saat ini telah dibangun dengan mesra, hubungan diplomatik yang didukung oleh gereja pro Israel di PNG ini menghasilkan beberapa kerjasama awal seperti Investasi Israel ke PNG dalam bidang Teknologi Pertanian. Serta,  PNG juga telah mendeklarasikan negaranya sebagai negara Kristen.

Negara yang berbatasan langsung dengan Papua Indonesia ini menjadi salah satu daerah juga yang memiliki Pakta Keamanan dengan Amerika Serikat yaitu Akses Tanpa Hambatan Militer Amerika ke enam Pelabuhan dan Bandara Utama termasuk Pangkalan Angkatan Laut Lombrum dan fasilitas militer di Port Moresby. Dengan tujuan utama dari kesepakatan pakta keamanan tersebut adalah Amerika Serikan dimungkinkan untuk menghadirkan militernya diwilayah Indo-Pasifik.

Kerjasama militer yang kuat juga dilakukan antara Amerika Serikat dan Australia dengan hadirnya pangkalan militer Amerika di Australia seperti Pangkalan Komunikasi Angkatan laut Harold E Hold di Exmouth Australia Barat, dan Pine Gap di Alice Springs di wilayah Utara serta ada juga pangakalan Marinir Amerika Serikat di Robertson Barracks dan Pangkalan RAAF Darwin.

Dikawasan Asia, hubungan Amerika Serikat dengan Jepang dan Korea Selatan melalui strategi forward deployment juga terlah memperkuat hubungan keamanan. Seperti yang disebutkan dalam tempo.com bahwa Amerika Serikat mengoperasikan beberapa pangkalan utama seperti Kadena Air Base di Okinawa yang merupakan angakatan udara terbesar Amerika Serikat Amerika di Asia. Serta untuk pangkalan laut Amerika Serikat adalah Yokosuka Naval Base. Selain itu ada juga Yokota Air Base, Misawa Air Base, dan Marine Corps Air Station Futunenma.

Sementara di Korea Selatan, Amerika juga memiliki camp Humphreys di Pyeongtaek yang merupakan pangkalan militer AS terbesar diluar negeri. Ada juga Osan Air Base, Kunsan Air Base, dan fasilitas pendukung di Yongsan Garrison.

Amerika juga memiliki kekuatan pertahanan di Filipina, sedangkan di Singapura Amerika dapat menggunakan fasilitas Changi Naval Base dan Paya Lebar Air Base untuk rotasi kapal dan pesawat.

Demikian China dan Rusia juga terus memperkuat kekuatan pertahanan dan gelar pertahanan disejumlah wilayah lainnya di Asia dan Pasifik untuk mengantisipasi ancaman perang dunia yang diakibatkan meningkatnya geopolitik di Kawasan Indo-Pasifik yang bisa berkaitan dengan konflik laut China Selatan maupun konflik bersenjata antar negara yang terjadi diwilayah negara lain.

Mengansitipasi setiap potensi ancaman konflik yang dapat terjadi kapan saja diwilayah pasifik, dengan melihat Geodefense yang berdasar pada wilayah geografi sebagai penentu strategi militer dan keamanan nasional, seperti wilayah perbatasan, ketersediaan sumber daya alam, dan kedekatan dengan potensi ancaman, maka Steve Mara beranggapan bahwa wilayah pertahanan Indonesia perlu terus diperkuat terutama diwilayah timur Indonesia yaitu di Papua.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk penguatan wilayah pertahanan Indonesia diwilayah Papua adalah penguatan basis Angkatan laut seperti yang saat ini dimiliki Indonesia adalah KOARMADA III disorong yang bisa diperkuat dengan Basis Pangkalan Armada Militer Tambahan di Wilayah kepulauan Biak dan Yapen untuk penguatan keamanan Indonesia di wilayah Pasifik.

Indonesia harus memilki Kapal Induk yang ditempatkan diwilayah pasifik untuk mencegah konflik terjadi. Juga perlunya modernisasi Armada Udara yang lengkap yang ditempatkan dibasis pertahanan seperti wilayah Biak, Jayapura, dan Merauke untuk mengantisipasi konflik diwilayah pasifik dan perbatasan. Selain itu, pembentukan Batalyon Tempur harus segera dilakukan diwilayah perbatasan Indonesia dengan PNG.

Jika kekuatan pertahanan tidak diperkuat dan dimodernisasi maka sewaktu-waktu jika konflik terjadi antara Amerika, Rusia, dan China diwilayah Asia Pasifik maka wilayah Indonesia akan menjadi korban, seperti filosofi yang kita kenal Gajah berantem Semut mati terinjak atau perseteruan antara negara-negara berpengaruh dapat menyebabkan negara lain menjadi korban.

Selain itu, konflik lain yang berpotensi terjadi juga seperti: Pertama, Keberadaan sumber daya alam di Papua. Kedua, Indonesia dengan jumlah penduduk muslim mayoritas dan berbatasan langsung dengan negara Kristen. Ketiga, Keberadaan kelompok bersenjata yang terus mencari validasi dari kekuatan pertahanan luar negeri.

Steve Mara berharap strategi geodefense menjadi salah satu acuan untuk peningkatan kualitas pertahanan di Papua Dengan memanfaatkan kecerdasan geografis, perencanaan pertahanan dapat mengoptimalkan alokasi sumber daya, meningkatkan kesadaran situasional, dan mengembangkan strategi respons yang efektif terhadap ancaman keamanan yang muncul.

Kolaborasi pemahaman terhadap ancaman yang muncul perlu untuk terus dilakukan dan pendekatan diplomasi luar negeri yang bebas aktif menjadi langkah efektif yang dilakukan dengan negara-negara yang memiliki kekuatan pertahanan besar, kata Steve Mara

Artikel Terkait

Leave a Comment