Para simpatisan dan aktivis Petisi Rakyat Papua berunjuk rasa di seberang gedung Pengadilan Negeri Jayapura

Menguak Keterlibatan Victor Mambor di Kurawal Foundation dan Misi Mendukung KNPB

by Laura Felicia Azzahra
Para simpatisan dan aktivis Petisi Rakyat Papua berunjuk rasa di seberang gedung Pengadilan Negeri Jayapura

nusarayaonline.id – Sebuah organisasi yang menamakan diri Kurawal Foundation baru saja mengunggah konten berbentuk infografis melalui akun twitternya @KurawalFound_ID menyinggung penangkapan sejumlah aktivis Papua beberapa waktu terakhir. Dalam unggahan yang terdiri dari beberapa bagian gambar bersambung tersebut disebutkan bahwa pemerintah telah melakukan kriminalisasi aktivis Papua dengan tuduhan makar. Berdasarkan data LBH Papua, setidaknya 76 aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) ditangkap oleh apara kepolisian di Jayapura dan dibawa ke Polsek Abepura, Heram, dan Polres Jayapura. Mereka ditangkap saat membagikan selebaran ajakan untuk menggelar mimbar bebas menuntut pembebasan juru bicara KNPB, Victor Yeimo. Untuk diketahui bahwa Victor Yeimo merupakan aktivis Papua yang sedang menghadapi proses hukum di Pengadilan Jayapura atas tuduhan makar saat aksi anti rasisme pada 19 Agustus 2019 lalu. Dijelaskan pula bahwa pelanggaran terhadap kebebasan berkumpul dan berekspresi di papua terus terjadi. Aparat keamanan terus menggunakan tuduhan makar untuk mengkriminalisasi para aktivis Papua yang menyuarakan hak menentukan nasib sendiri dimana merupakan bagian dari HAM dan diatur dalam UUD 1945 pasal 28E.

Di akhir narasinya, dinilainya bahwa masalah Papua tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan militer dan keamanan, maupun pembangunan ekonomi semata. Solusi politik hanya bisa dicapai jika Orang Asli Papua (OAP) dilindungi kebebasan berekspresinya. Jika pemerintah Indonesia menganggap Papua bagian dari NKRI, namun mengapa OAP diberlakukan berbeda dan mengalami diskriminasi. Narasi tersebut kemudian tersimpul pada tuntutan agar pemerintah segera bebaskan Victor Yeimo dan aktivis KNPB lainnya.

Untuk diketahui bahwa salah satu orang yang berada dibalik Kurawal Foundation bertindak sebagai Dewan Pengawas adalah jurnalis sekaligus aktivis Papua, Victor Mambor. Selain berada dibalik media Jubi.id, dirinya saat ini juga terlibat dalam pergerakan Kurawal yang bermarkas di Kuningan Jakarta Selatan. Sebuah NGO yang memiliki kerja-kerja advokasi dalam bidang politik dan demokrasi, termasuk menyoroti perihal masalah Papua. Menjadi hal yang disayangkan bahwa gerakan tersebut memiliki benang merah yang bertentangan dengan pemerintah, khususnya dalam menyikapi Victor Yeimo berikut dengan organisasi KNPBnya. Adalah hal yang perlu diwaspadai jika terdapat pihak yang memiliki misi mendukung kelompok separatis yang mana diketahui terus bersikeras dengan keinginan agar Papua merdeka. Sebaran infografis yang disampaikan Kurawal Foundation tersebut secara tak langsung berupaya menggiring publik agar mendukung pembebasan Victor Yeimo serta menyalahkan pemerintah yang disebut bersikap diskriminatif terhadap orang asli Papua.

Keterlibatan Victor Mambor dan Misi Mendukung KNPB

Idealnya, menjadi seorang jurnalis harus memiliki sikap netral dan objektif dalam melaporkan berita, serta mampu bersikap objektif, tidak berpihak pada satu sisi atau lainnya. Pandangan atau sikap pribadi dari seorang jurnalis juga tidak mutlak dianggap sebagai representasi dari media atau organisasi tempat dirinya bekerja. Namun, keseluruhan pendahuluan tersebut tidak berlaku bagi seorang Victor Mambor. Berangkat dari sebuah LSM di Jayapura, kini dirinya dipercaya sebagai manajer media Jubi. Melalui kendaraan media tersebut, dirinya semakin kencang menuliskan argumentasinya, termasuk keberpihakannya terhadap gerakan pro kemerdekaan Papua, termasuk dukungannya kepada KNPB.

Sebuah karya ilimiah dari mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Ponorogo bernama Reva Anggita Putri Pribadi pernah membahas perihal media Jubi.id. Karya yang mengangkat pembingkaian berita media online kasus penyerangan 4 Prajurit TNI di Papua Barat pada Detik.com dan Jubi.id periode 2-10 September 2021 tersebut menghasilkan sejumlah kesimpulan. Dari keseluruhan analisis framing, dari 3 berita Detik.com lebih menekankan bahwa KNPB adalah pelaku penyerangan Posramil Kisor dan TNI adalah korbannya. Sedangkan 3 berita Jubi.id lebih menekankan bahwa TPNPB-OPM dan KNPB adalah korban dan TNI/Polri adalah pelaku. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan hasil analisis berita Jubi.id dengan Detik.com sebagai berikut: Pertama, cara menyusun fakta berita Jubi.id mengarah pada dominasi narasumber berpihak pada kelompok Separatis adalah korban dan aparat TNI adalah pelaku sedangkan Detik.com dominasi narasumbernya mengarah pada TNI adalah korban dan kelompok Separatis adalah pelaku. Kedua, cara wartawan mengisahkan fakta media Jubi.id adalah kelengkapan berita lebih dominan pada kelompok separatis sebagai korban dan pihak TNI sebagai pelaku. Ketiga, cara menulis fakta media Jubi.id adalah antar paragraf saling berkesinambungan sedangkan Detik.com antara paragraf tidak saling berkesinambungan. Terakhir, cara wartawan menulis fakta media Jubi adalah judul menekankan kelompok separatis sebagai korban sedangkan Detik.com menggunakan judul yang menekan kelompok separatis adalah pelaku.

Sebelumnya, sebuah kelompok mengatasnamakan Forum Lintas Kerukunan Nusantara (FKLKN) Provinsi Papua juga pernah melaporkan Jubi.id ke dewan pers dan polisi. Menurutnya, pemberitaan pada media jubi.id meresahkan guru dan seluruh pendatang di pedalaman Papua. Pemberitaan berjudul ‘Guru di Beoga, Puncak ditembak karena kerap dijumpai membawa pistol’ dinilai telah menggiring opini berupa penyebaran informasi yang tidak benar atau memprovokasi. Koordinator FKLKN Provinsi Papua, Junaedi Rahim didampingi Ketua HKJM Sarminanto, Ketua K3 Yorrys Lumingkewas dan perwakilan Suku Buton, Padang, Pasundan serta Ikatan Keluarga Toraja dan Paguyuban lainnya di Kota Jayapura, pada 19 April 2021 mengatakan, pemberitaan bahwa guru adalah mata-mata tidak benar. Sebagai sebuah media, seharusnya berita yang disajikan dimuat lebih berimbang dengan menghadirkan pernyataan dari pihak atau instansi terkait agar lengkap dan tidak menimbulkan pemahaman yang salah, sehingga tidak terkesan mendeskreditkan atau menyudutkan profesi seorang guru ataupun oknum warga. Karena stigma sebagai mata-mata bisa tersemat kepada siapa saja, terutama warga non Papua. Pasalnya, korban dalam kejadian tersebut adalah guru dan ada juga tukang ojek yang tidak pernah berafiliasi terhadap politik atau apapun.

Ketua Dewan Pers 2016-2019, Stanley Adi Prasetyo pernah menyatakan bahwa di Papua, praktik jurnalisme yang banyak dilakukan adalah wawancara dengan beberapa orang daripada melalukan reportase secara langsung di lapangan. Pada akhirnya, berita tampak menjadi parade pendapat. Ketika terdapat peristiwa, pejabat pemerintah atau militer mengatakan A, sementara aktivis tertentu mengatakan B, begitu seterusnya. Suka atau tidak suka, Media Jubi.id kemungkinan besar masih berada dalam lingkaran tersebut. Bukan tidak mungkin adanya Kurawal Foundation yang Dewan Pengawasnya juga adalah seorang Victor Mambor dengan reputasi yang cenderung tendensius akan bersikap sama. Sama-sama berupaya untuk menyudutkan pemerintah dengan misi akhir mendukung KNPB, yang mana secara tidak langsung mengarah pada dukungan kemerdekaan Papua.

Perlu menjadi pembelajaran bersama bahwa di era yang semakin terbuka dan dimudahkan oleh bermacam teknologi. Kehadiran media yang sebelumnya terlembagakan sebagai sebuah perusahaan, kini seperti sudah merasuk hingga wilayah perorangan. Menjamurnya platform media sosial dimana setiap orang akan terwakilkan dalam satu akun seperti menjadi wakil setiap orang. Hampir setiap individu bisa menjadi media untuk dirinya sendiri atau mengabarkan orang-orang di sekitar. Konsekuensi yang terjadi kemudian adalah timbulnya portal-portal semacam media massa yang turut membanjiri informasi dalam setiap peristiwa yang terjadi. Tentu bukanlah sebuah kebetulan atau iseng belaka ketika seseorang menuliskan atau mengabarkan sesuatu kepada khalayak dalam portal tersebut. Fenomena ini baru terjadi dalam level individu, dalam tingkatan yang lebih niat atau serius, kehadiran portal-portal semi media tadi juga tentunya memiliki keperluan atau bahkan kepentingan mengapa kemudian hadir turut mempengaruhi opini publik.

Masyarakat kemudian dipaksa untuk memutar otak lebih keras bersikap lebih kritis, memberikan penilaian manakah media yang memang hadir sesuai dengan konteksnya sebagai pilar kelima dalam negara demokrasi, atau memang terdapat agenda lain yang sebenarnya sedang diperjuangkan. Cover both sides adalah salah satu dasar yang harus dipegang oleh masyarakat dalam menghadapi banjirnya informasi saat ini, termasuk hadirnya Kurawal Foundation yang didalamnya terdapat pengawasan dan tentu saja campur tangah seorang Victor Mambor.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)­

Artikel Terkait

Leave a Comment